Oleh Ria Junita Tampubolon
RASANYA senang sekali, ketika saya mendapatkan voucher gratis dari aplikasi Kipin School. Saya mengetahui Kipin School ketika mengikuti seminar web (webinar) pada 17 dan 24 Juni lalu. Seminar bertajuk: “Peran guru dalam mengembangkan pembelajaran jarak jauh menyikapi new normal”.

Setiap voucer ada nilainya. Sebanyak 1000 voucer akan dibagikan kepada 1000 guru yang beruntung, dengan jumlah total uang sebesar Rp 50.000.000. Tetapi tidak gampang mendapatkan voucer ini. Untuk mendapatkan seribu voucher kipin school 4.0 dari situs pendidikan,id peserta diwajibkan untuk melakukan beberapa langka. Pertama, menanam software kipin school di android atau iOS atau Windows 10.

Langka kedua, memberikan review untuk kipin school 4.0 di aplikasi playstore. Berikutnya, mengisi konfirmasi dari tautan website mereka yang berisi tentang data pribadi kita, berupa nama, alamat email, pekerjaan dan daerah domisili. Kemudian, menunggu pengumuman dari panitia webinar, pada 24 Juni 2020.

Semua tahapan saya selesaikan. Saya berharap dapat vouher gratis dari kipin school. Dan saya lolos. Saya satu diantara seribu orang yang mendapatkan voucher kipin school, sebagai peserta yang turut dalam acara webinar tersebut. Webinar itu diikuti sekitar 3500 peserta dari berbagai jenis profesi. Seminarnya terbuka untuk umum dari Sabang sampai Merauke dan disiarkan secara live streaming di youtube.

Aplikasi Pembelajaran

Anda mungkin bertanya-tanya, apa itu Kipin School? Kipin School adalah aplikasi pembelajaran dari rumah yang berisi lebih dari 2.500 buku pelajaran sekolah, lebih dari 1.700 video pembelajaran per kelas, lebih dari 49.000 latihan soal dari semua mata pelajaran, per bab. Semuanya berbasis Kurikulum 2013 dan KTSP 2006 untuk siswa setingkat SD, SMP, SMA dan SMK, serta 300 buku bacaan literasi berupa komik serta video menarik untuk anak pra sekolah.

Sedangkan PTO 2.0 (Paperless Test Online/Ofline) adalah software yang diluncurkan oleh situs pendididkan.id. PTO 2.0 adalah sistem evaluasi pembelajaran berbasis digital yang berisikan latihan soal, penilaian harian, serta ujian sekolah yang dilakukan secara digitalisasi menggantikan pemakian kertas. PTO 2.0 menyediakan kapasitas server atau cloud yang aman dan mampu digunakan sampai 500 orang secara bersamaan.

Ada banyak sekali aplikasi seperti kipin school dan TPO 2.0 ini, seperti Google Classroom, Ms Forms, Moodle, Quizizz dan lain sebagainya. Semua aplikasi tersebut bertujuan untuk menggantikan metode lama (konvensioanal) dengan cara baru dengan menggunakan teknologi canggih berbasis digital.

Penggunaan teknologi di era industri 4.0 dan memasuki masa new normal ini memaksa kita untuk segera berubah. Sekolah-sekolah akan bergeser mulai memakai tablet canggih yang menggantikan buku-buku cetak, menggeser penggunaan kertas.

Pemakaian buku cetak dirasakan banyak kelemahannya, seperti biaya cetak yang mahal, sulit untuk direvisi, mahalnya ongkos distribusi, lamanya waktu distribusi, berat dalam membawaannya, butuh tempat penyimpanan atau gudang, kertas mudah rusak, penebangan pohon, dan banyak lagi kelemahannya.

Membandingkannya dengan pengguanaan teknologi canggih, buku-buku cetak tersebut kini berubah menjadi buku digital, yang bisa diunduh kapan saja. Berbagai jenis buku dapat ditelusur di mesin pencari informasi seperti Google, Duckduck go, Bing, Yahoo, Yandex, Baidu, dan banyak lainya.

Menyatukan Visi Bersama

Kipin school dan PTO 2.0 hanya contoh kecil dari sekian banyak aplikasi berbasis digital yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran jarak jauh. Masih banyak aplikasi lain yang dapat dipergunakan guna mendukung pembelajaran daring. Banyaknya aplikasi berbasis digital ini ikut memarakkan gerakan Merdeka Belajar, yang dicetuskan oleh Menteri Pendidikan Nadiem Makarim.

Salah satu gerakan merdeka belajar itu adalah dengan digantinya ujian nasional menjadi Assesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Assesmen kompetensi minimum yang dimaksud adalah untuk mengukur kemampuan minimal murid. Yang diukur adalah literasi dan numerasi pelajar tersebut.

Literasi bukan hanya kemampuan membaca tetapi juga keterampilan menganalisis dan memahami tulisan. Sedangkan numerasi adalah kemampuan menganalisis angka-angka. Survei karakter adalah untuk mengukur dan mengetahui karakter pribadi dan wawasan kebangsaan murid.

Dengan munculnya berbagai aplikasi berbasis digital seperti Kipin School dan PTO 2.0 ini, diharapkan ke depannya, sekolah-sekolah sudah mulai menerapkan 100 persen digital, meninggalkan cara-cara konvensional menuju era digitalisasi. Tetapi mampukah negara kita menerapkannya di seluruh pelosok negeri ini?

Jika pemerintah membangun infrastruktur internet di berbagai pelosok daerah itu sangat mungkin. Selain membangun jaringan internet yang luas, juga perlu bekerja sama dengan pihak swasta membangun startup (perusaahan digital), serta merangkul tokoh-tokoh pendidikan.

Gerak bersama membuat program program yang memajukan pendidikan menjadi “goes digital” adalah kunci keberhasilan. Dan tentunya tak terlepas dari peran serta berbagai eleman masyarakat yang bersinergi memajukan pendidikan di Indonesia, maka impian tentang “sekolah menuju 100 persen digital” dapat direalisasikan. Inilah saatnya menerapkan digitalisasi pembelajaran. (*)

 

Penulis bergiat di Perkamen (Perhimpunan Suka Menulis).

By Redaksi

One thought on “Saatnya Digitalisasi Pembelajaran”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *