“Meski sekolah sudah dibuka, pendidikan jarak jauh tetap masih berlangsung,” ujar Nadiem dalam keterangannya di Jakarta 12 agustus lalu.

SALAH SATU dampak pandemi Covid-19 yang paling berpengaruh bagi dunia pendidikan adalah kelangsungan proses belajar mengajar. Aktifivitas yang biasa dilakukan di ruang kelas ini nyaris tidak terlihat lagi di area sekolah sejak pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diberlakukan. Para murid dan guru kini berbalas sapa dan berdiskusi dari layar ke layar. Lalu bagaimana hal ini berdampak bagi potensi siswa dan perekonomian bangsa secara keseluruhan?

Sejumlah ahli telah mengatakan, pandemi Covid-19 ini akan membawa dampak panjang bagi kualitas pendidikan Indonesia. Dalam salah satu makalah yang diterbitkan Wahana Visi Indonesia (Mei 2020), terdapat sejumlah tantangan yang umum dikemukakan siswa selama masa jaga jarak diberlakukan yakni:

  1. Adaptasi pembelajaran jarak jauh baik dari sisi metode maupun fasilitas pendukung
  2. Hubungan kesehatan mental dan kondisi sosial
  3. Risiko menurunnya kondisi ekonomi keluarga dan akses perlindungan sosial, serta,
  4. Penggunaan media baru yang berdampak pada keseharian anak-anak.

Ini menunjukkan, proses baru yang harus dihadapi siswa dan guru berdampak pada adaptasi siswa terhadap proses dan instrumen baru dalam belajar. Kegiatan yang baru tersebut secara tidak langsung mempengaruhi pola belajar dan kemampuan kognitif siswa yang lama kelamaan mempengaruhi kesehatan mental.

Bagaimana tidak, anak yang terbiasa belajar dan bermain bersama teman, harus bersosialisasi melalui layar-ke-layar dalam jangka waktu yang sangat lama. Hilangnya aktifitas fisik, pertemuan nyata, dan komunikasi verbal membuat siswa merasa garing.

Menurut analisis Bank Dunia (Agustus 2020), periode penutupan sekolah selama enam bulan akan berdampak pada skor PISA dalam membaca pasca Covid-19. Ekspektasi skor PISA pasca Covid diperkirakan sebesar 355 dari sebelumnya 371 di tahun 2020. Jika ditakar lebih jauh, ternyata penurunan kemampuan ini membuat siswa berpotensi akan kehilangan pendapatan setiap tahun dan seumur hidupnya.

Hal ini wajar karena pendidikan membuat pekerja menjadi lebih produktif dan memberikan keterampilan yang memungkinkan mereka meningkatkan hasil kinerjanya kelak. Siswa diperkirakan akan kehilangan US$367 setiap tahunnya, dan berpotensi menciptakan total kerugian bangsa sebesar US$ 293 miliar atau setara dengan 26,2 persen PDB.

Gambar: Proyeksi skor PISA dalam membaca pasca COVID-19. Sumber: Bank Dunia

Hal ini menunjukkan betapa perlunya perhatian penuh untuk menciptakan strategi yang handal untuk meminimalisir potensi kerugian tersebut. Program merdeka belajar yang ditetapkan akhir tahun lalu ternyata secara tidak langsung telah mengakomodasi sedikit banyaknya kebutuhan belajar dalam kondisi saat ini.

Empat program merdeka belajar yang ditetapkan oleh Nadiem berupa:

  • Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN)
  • Penghapusan Ujian Nasional
  • pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
  • Peraturan Penerimaan peserta didik baru zonasi, secara keseluruhan telah menitik-beratkan pada kualitas pendidikan lokal walau tetap berdasarkan control dari kementerian pusat.

Di sisi lain, pembelajaran daring yang dilakukan selama psbb, setidaknya telah membantu siswa untuk tetap melatih kemampuan berfikir dan terus belajar selama di rumah saja. Namun demikian, masih ada beberapa hal yang dapat ditingkatkan seperti:

(1) Memperluas akses terhadap pembelajaran daring dan pendidikan jarak jauh dengan meningkatkkan konektifitas dan memperbaiki akses terhadap perangkat elektronik terutama bagi penduduk yang membutuhkan.

(2) Meningkatkan kualitas mutu materi pembelajaran yang telah disesuaikan dengan kemampuan serap siswa dengan metode belajar daring.

(3) Meningkatkan kemampuan dan kualitas pendidik sesuai dengan kondisi pendidikan jarak jauh.

(4) Bekerja sama dengan seluruh stakeholder untuk menjamin anak anak terlibat aktif dalam proses belajar serta mendapatkan kualitas yang baik dari proses belajar

(5) Melibatkan anak didik dalam pengambilan kebijakan.

Dengan membaiknya system ini, proses pembelajaran dapat terus dilaksanakan sembari terus memperbaiki kekurangan yang ada, memerdekakan siswa terhadap akses dan kualitas pendidikan dan meminimalkan risiko dampak ekonomi di masa mendatang. (*)

 

 

Penulis adalah pekerja lepas, tinggal di Jakarta

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *