APA YANG membuat guru kikuk mengajar? Jawabannya ringkas: ketidakmerdekaannya. Apa yang membuat guru saat ini galau? Jawabannya juga ringkas: merdeka belajar!

Bagaimana implementasi merdeka belajar pada siswa? Apakah dengan adanya jargon ini, maka siswa bisa bersesuka hati untuk tidak lagi mendengar gurunya, misalnya, lantaran sumber-sumber belajar melimpah dari internet, juga aplikasi belajar? Apalagi kemudian, Nadiem mengaku bahwa di awal penerapan program merdeka belajar ini pasti banyak penolakan dan kontroversi.

Di satu sisi, penolakan ini masuk akal karena selama ini sudah terlalu asyik di zona nyaman. Di sisi lain, pengakuan Nadiem atas adanya penolakan ini justru mengantar guru pada ketakutan baru: makhluk apa gerangan merdeka belajar itu? Apakah akan berbeda dengan sistem selama ini atau tidak?

Kalau berbeda, apakah akan membebaskan siswa belajar lalu pada sisi lain mengekang kreativitas guru? Tidak bisa dimungkiri, jargon merdeka belajar bagi guru masih belantara penuh tafsir dan penuh tanya.

Namun, sebelum terlalu jauh, kita harus berangkat dari poin awal: apa itu belajar? Belajar sejatinya proses yang sangat alami. Sejak manusia ada, kegiatan belajar sudah ada. Saat itu, manusia belajar dari dan dengan alam. Mereka berburu. Semula berburu tanpa alat, kemudian berburu dengan alat.

Semula dengan batu-batu kasar, kemudian dengan logam-logam pipih. Semula berpindah-pindah, kemudian bertahan di suatu tempat. Mereka mulai bertani. Mereka mulai paham membaca untuk apa ada hujan, untuk apa pula ada matahari. Mereka pun lantas belajar mengusahakan tanah.

Alami atau Rekayasa?

Semua hal di atas adalah proses belajar yang sangat alami. Namun, jangan sepele dengan belajar alami. Mahakarya Candi Borobudur dengan segala kemegahannya adalah produk belajar alami.

Nah, apakah demikian maksudnya “merdeka belajar”: kembali alami? Atau, jangan-jangan malah kembali seperti selama ini: belajar penuh rekayasa bahwa definisi belajar adalah pergi ke sekolah dan di luar itu, jika seorang anak pergi ke laut, pergi ke sawah, bermain bersama rekan sebaya, mengamati tumbuh-tumbuhan, membantu orang tua berjualan, kesemua hal itu akan dianggap sebagai bukan belajar.

Rekayasa belajar lainnya ada lagi: dijauhkannya proses berpikir dari belajar dengan alibi karakter sehingga semua mata pelajaran berkiblat pada karakter. Rapor khusus untuk karakter pun dibuat dengan sangat cacat: keterampilan sosial dan religius dibuat berbeda.

Yang lebih menyeramkan, karakter membuat guru tak merdeka. Takut anak tidak naik kelas, maka semua tingkah laku anak dibuat berlabel baik. Terjadi pembohongan guru secara massal. Pasalnya, guru tak merdeka memberi nilai yang sesungguhnya tentang karakter sehingga apa yang dinilai menjadi superfisial dan tidak otentik (Koesoema, 2018).

Karena itu, perlu diberi kemerdekaan pada guru mengisi rapor karakter tanpa harus menjadi penentu utama naik kelas. Selama ini, rapor karakter tak mencerminkan apa-apa, juga tak mengubah apa-apa.

Sebaiknya, catatan kepribadian dibuat naratif-deskriptif pada masing-masing siswa oleh masing-masing guru untuk memberi nilai secara aktual sambil merangsang perubahan siswa.

Jujur saja, sebagai guru, saya lebih memilih teknis aman ketika menilai karakter siswa. Alhasil, semua rapor karakter siswa Indonesia seragam.

Andai guru dibuat lebih merdeka untuk mengisi rapor karakter siswa, keseragamanan tak terjadi dan perubahan pun bisa distimulasi dari rapor. Sebab, dengan kemerdekaan itu, catatan kepribadian siswa pasti banyak yang negatif-faktual.

Lalu, untuk merangsang perubahan, catatan di rapor dirancang bernada positif sebagaimana teori cermin (mirror theory)-nya Charles Horton Cooley. Dari sanalah sebaiknya guru dimerdekakan sebelum datang untuk memerdekakan siswa dari jerat kamuflase selama ini.

Sebab, belajar itu adalah sesungguhnya jalan menuju kemerdekaan. Ivan Illich membuat konsep deschooling society: bersekolah tidak otomatis belajar, belajar tidak harus di sekolah.

Saat ini, bagi kita justru terbalik: belajar pasti harus bersekolah. Akibatnya, kita menyepelekan anak yang pergi ke pantai lalu mengamati laut, menangkap ikan, melihat gejala-gejala alam. Sebaliknya, kita mengagumi anak yang pergi ke sekolah dengan jubelan buku, selekas itu pergi ke gedung baru bernama bimbel seakan mereka sedang belajar.

Sesunggunyalah mereka itu tak belajar, justru jadi budak belajar. Padahal, belajar adalah pembebasan (Paulo Freire). Lantas, bagaimana membebaskan siswa dari perbudakan belajar ini? Mulailah dari membebaskan guru.

Mustahil siswa bisa merdeka jika guru saja tak merdeka. Mustahil siswa bergembira jika guru bersedih! “Anda ditugasi untuk membentuk masa depan bangsa, tetapi lebih sering diberi aturan dibandingkan dengan pertolongan,” demikian bunyi pidato Nadiem.

Fakta di lapangan, guru sering menderita karena ulah oknum di dinas pendidikan.
“Anda ingin membantu murid yang mengalami ketertinggalan di kelas, tetapi waktu Anda habis untuk mengerjakan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas,” lanjut Nadiem lagi.

RPP saat ini lebih ke administratif. Pejabat terkait sering merasa lebih ahli menilai RPP. Tetapi, itu adalah kebijakan dari pusat yang kemudian menjadi alat bagi oknum di daerah.

Faktanya, RPP itu tak dijalankan. Guru punya jurus masing-masing di ruang kelas. Kini, RPP rencananya dibuat selembar meski sejauh pengamatan saya, substansinya tetap sama saja.

Peringatan Awal

“Anda tahu betul bahwa potensi anak tidak dapat diukur dari hasil ujian, tetapi terpaksa mengejar angka karena didesak berbagai pemangku kepentingan,” masih kata Nadiem.

Benar sekali. UN selama ini tak mencerminkan apa-apa. UN bukan hasil keringat siswa. Buktinya, nilai UN siswa dari Barat ke Timur Indonesia tak jauh berbeda pada posisi kualitas memang berbeda. Nadiem masih paham betul. Maka katanya, “Anda ingin setiap murid terinspirasi, tetapi Anda tidak diberi kepercayaan untuk berinovasi.”

Saat ini, ruang kelas lebih sering sepi daripada bergairah. Sebab, ada pemahaman, semakin sepi, semakin hikmat. “Harus terdengar bunyi jarum jatuh,” begitu kata guru ketika saya masih SD.

Padahal, pelajaran dan interaksi apa yang didapatkan dari keheningan? Banyak lagi ketidakmerdekaan guru sebenarnya. Namun, mari kita masuk ke kalimat pamungkas dari Mas Menteri, “Satu hal yang pasti, saya akan berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia!”

Ide itu mulia, tetapi mari beri peringatan awal: kemerdekaan belajar tidak akan tercapai selama guru tak merdeka dan bahagia. Guru yang bahagia akan mengajar dan ceria. Bersekolah pun layaknya berwisata sehingga siswa antusias ke sekolah.

Jadi, yang prinsipiel sebenarnya untuk merdeka belajar bukan semata menuntaskan proyek Wajib Belajar 12 Tahun atau menggratiskan pendidikan. Yang prinsipiel adalah merdekakan gurunya, maka siswanya pun akan merdeka.

Semoga!

 

Penulis adalah Guru SMA Negeri 1 Dolok Sanggul, Humbang Hasundutan, Sumut, Aktif Berkesenian di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) Medan dan Toba Writers Forum (TWF).

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *