PEMBERITAAN di media massa jorjoran soal pandemi Covid-19 di sektor kesehatan. Total orang terinfeksi virus corona, peningkatan kasus, jumlah yang meninggal, kluster baru, hingga sorotan soal tenaga medis yang berjuang habis-habisan.

Pemberitaan yang masif itu seakan hendak mengatakan, pandemi identik dengan gelombang dahsyat yang hanya meroyak sektor kesehatan. Padahal, sesungguhnya, banyak sektor lain yang turut limbung. Diantaranya yang paling kelimpungan adalah sektor pendidikan.

Jargon “BDR” atau Belajar Dari Rumah kini menjadi semacam cambuk bagi seluruh pihak. Tanggung jawab menjaga kualitas pendidikan anak-anak kita kini dipertaruhkan. Meski pemerintah telah menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 menteri, tidak otomatis persoalan pembelajaran menjadi baik. Nyatanya proses pembelajaran di semua wilayah di tanah air masih banyak kendala.

Data kemendikbud menyebut, total, kurang lebih 94 persen peserta didik saat ini berada di zona yang mengharuskan mereka melakukan pembelajaran jarak jauh. Pembelajaran jarak jauh ini memiliki banyak kendala, baik dari segi suprastruktur (sumber daya guru) maupun infrastruktur (jaringan internet dan laptop termasuk kuota internet).

Belum lagi, kita tahu, bahwa tidak semua daerah di tanah air memiliki akses yang merata terhadap jaringan internet. Banyak daerah yang kesulitan mengakses internet karena belum tersedia jaringan telekomunikasi.

Namun yang lebih parah adalah, kemampuan guru-guru kita dalam memanfaatkan teknologi komunikasi untuk mendesain pembelajaran secara daring. Kerap kita mendengar guru-guru mengeluh soal sulitnya membelajarkan siswa jarak jauh. Hal ini karena bangsa kita belum memiliki pengalaman soal menghadapi pandemi sedahsyat Covid-19 ini.

Kita bisa memaklumi “kegagapan” pendidikan kita hari ini, karena memang sebagian besar guru-guru tidak terbiasa dengan pembelajaran jarak jauh. Bahkan, pembelajaran daring ini merupakan hal yang benar-benar baru.

Melepaskan kebiasaan pembelajaran secara tatap muka yang telah bertahun-tahun dijalani dengan mendadak harus via daring, itu seperti menjalani sebuah revolusi. Seperti pesawat yang mengalami turbelensi dahsyat berkali-kali. Pilot dan seluruh penumpang musti bertahan dan bersiap terhadap segala resiko paling buruk.

Apa boleh buat, pada pembelajaran jarak jauh ini, para guru harus bekerja ekstra dua sampai tiga kali lipat dari sebelumnya. Mereka terpaksa harus belajar mengupgrade diri soal pemanfaatan teknologi digital.

Padahal sebagaimana diketahui, sebelum pandemik terjadi, dan pembelajaran masih dilakukan tatap muka, perjuangan para guru sudah cukup berat, terlebih para guru yang ada di pedalaman. Jangankan berbicara akses internet atau teknologi, untuk tiba ke tempat mengajar, mereka bahkan harus berjuang.

Namun, sebagaimana label yang sudah disematkan selama ini bahwa mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa, guru harus tetap melanjutkan perjuangan menjadi garda terdepan. Esensi pendidikan harus tetap tercapai yakni memanusiakan manusia, bahkan di tengah kondisi pandemik saat ini.

Garda Terdepan

Menjadi garda terdepan demi pendidikan Indonesia, mau atau tidak, setiap guru harus memiliki komitmen. Dalam kondisi rumit dimana pengelolaan pembelajaran sangat tidak mudah ini, guru benar-benar harus mendidik dengan hati, karena hanya dengan spirit seperti itulah ia bisa menjadi guru yang sebenar-benarnya.

Di masa pandemik ini, guru harus memantapkan diri bahwa menjadi seorang pendidik tidak hanya profesi melainkan juga panggilan. Jika guru sudah menjadikan itu sebagai panggilan hati, mereka akan melakukan pelayanan terbaiknya dalam mendidik anak. Meski dalam suasana pandemi ini.

Mereka akan memandang peserta didik sebagai objek bukan subjek, sehingga segala yang mereka rencanakan dalam pembelajaran akan selalu memandang kepada peserta didik. Mereka tidak akan hanya berpikir yang penting saya sudah mengajar, yang penting saya sudah menyampaikan materi pembelajaran yang harus disampaikan.

Melampaui pemikiran seperti itu, mereka akan mencoba untuk mengetahui lebih dalam apa yang dirasakan setiap peserta didik, kendala yang dihadapi bahkan bersama-sama memikirkan solusi untuk menyelesaikan perintang tersebut.

Mendidik tidak hanya menyentuh ranah kognitif anak didik, namun menembus ke relung hati. Dengan komitmen dari hati, guru pun pasti akan kuat di dalam menjalankan perannya. Dalam dunia pendidikan, perubahan tidak dapat dihindari, sebaliknya harus dihadapi.

Secara khusus pada saat kondisi pandemik Covid-19 ini perubahan itu sangat pasti. Dari pembelajaran tatap muka, menjadi jarak jauh. Media yang digunakan juga beragam agar pembelajaran bisa berlangsung.

Aplikasi baru bermunculan untuk menunjang terselenggaranya pembelajaran virtual. Untuk menguasai media tersebut, guru harus mau belajar, dari gagap hingga melek teknologi. Mereka harus cepat beradaptasi untuk menjadi pelopor soal ketangguhan belajar

Benar, pandemi Covid-19 tidak dapat dipastikan kapan berlalu. Pembelajaran jarak jauh juga belum bisa dipastikan kapan berakhir. Hampir dua bulan sejak tahun akademik baru dijalankan, banyak kondisi yang membuat para guru harus bekerja keras dan harus punya jiwa pantang menyerah dalam masa pandemi ini.

Hal ini disebabkan karena banyak sekali keluhan yang diterima baik dari peserta didik mengenai tugas rumah dan pembelajaran yang melelahkan. Kondisi peserta didik yang juga sulit untuk mengikuti pembelajaran secara virtual karena keterbatasan perekonomian keluarga sehingga mereka tidak mampu membeli kuota internet atau tidak memiliki gawai sebagai media untuk belajar jarak jauh.

Maka guru pun harus terus belajar, memikirkan strategi baru seperti mempersiapkan homework based paper yaitu materi pembelajaran, Lembar Kerja Siswa (LKS) yang akan diberikan kepada mereka dalam bentuk kertas yang akan disediakan setiap minggu. Keterampilan-keterampilan itu apa boleh buat, menjadi sangat penting dimiliki oleh guru.

Guru harus memutar otak untuk mempersiapkan rancangan pembelajaran yang menarik dan mudah dimengerti para peserta didik. Mereka harus bijak menentukan model pembelajaran yang tepat yang dilakukan pada saat kegiatan belajar mengajar serta harus disesuaikan juga dengan konteks setiap mata pelajaran. Mereka juga dituntut untuk mengasah kemampuan dalam menggunakan akses teknologi.

Yang tidak kalah penting adalah kemampuan spiritual care guru. Pendidikan bukan hanya interaksi fisik antara dua pihak, namun juga jiwa atau rohani. Selama pembelajaran jarak jauh ini, baik guru maupun peserta didik hanya bertemu secara virtual. Jikalaupun harus bertatap muka, ada screen gawai yang membatasi pertemuan itu.

Maka tentu saja, sulit bagi seorang guru untuk bisa mengetahui kondisi jiwa dari setiap peserta didik tersebut. Oleh karena itu, para guru harus memiliki kemampuan dalam spritual care sehingga peserta didik tetap merasakan kehadiran gurunya dalam hidupnya meskipun tidak bertatap muka secara langsung.

Pada saat merancang rencana pembelajaran, guru harus bisa untuk mendesain pembelajaran yang akan mereka lakukan menyentuh peserta didik, tidak hanya secara kognitif namun juga secara afektif. Pembelajaran yang dihasilkan menjadi pembelajaran dari virtual sampai ke hati, “learning from screen to heart”. Media pembelajaran bisa saja terbatas atau dibatasi, namun guru tetap harus menjadi pemegang kendali agar kegiatan belajar mengajar tetap bisa berjalan dengan baik tidak dibatasi tempat maupun waktu, dimana saja, kapan saja. Guru tetap bisa menginspirasi melalui apa saja, siapa saja.

Penutup

Inilah refleksi yang bisa kita sampaikan pada para guru kita di Indonesia. Sebagai seorang guru, ini juga menjadi sebuah cermin bagi saya, karena terus terang mencapai peran ideal di atas jelas tidak mudah.

Tetapi, saya ingin mendorong seluruh guru, meski kemudian jasa kita tak pernah dikenang, tetapi kita pernah menjadi lilin penerang bagi anak-anak didik kita, di saat mereka paling membutuhkan peran guru. Ketika covid-19 ini berlalu, guru sebagai garda terdepan pendidikan perannya akan selalu tergurat indah di kalbu setiap anak didik. (*)

 

 

*Penulis adalah seorang guru di SMA Lentera Harapan Medan, bergiat di Perkamen (Perhimpunan Suka Menulis).

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *