Sorotdaerah.com – Berita tentang pemulung bernama Maria Marlina Manurung (45), ibu dua anak, warga Sempakata, Medan yang menderita kanker payudara stadium empat, sampai ke telinga Kapolda Sumut.

Kapolda Sumut Irjen Martuani Sormin segera memberi atensi. Esok harinya, tim dokter dari Rumah Sakit Bhayangkara Medan menjemput Marlina dari kediamannya. Marlina diboyong ke rumah sakit dengan mobil ambulans. Ia dirawat di ruang rawat inap. “Istri saya sudah dirawat di ruang Flamboyan, Rumah Sakit Bhayangkara,” kata Selamattha Ginting Suka (40) via pesan WhatsApp.

Atas perhatian dan tindakan cepat Kapolda Sumut, Ketua Yayasan Peduli Pemulung Sejahtera Uba Pasaribu mengapresiasi dan berterima kasih. “Terima kasih kepada Kapolda Sumut Irjen Martuani Sormin yang memberi perhatian kepada Inang Maria Marlina Manurung, pemulung yang mengidap kanker payudara.

Berkat atensi Pak Kapolda, kini inang Boru Manurung bisa dirawat di Ruang Flamboyan 2, Rumah Sakit Bhayangkara, Medan. Kami dari Tim YPPS mengucapkan terima kasih atas perhatian dan jiwa kemanusiaan Bapak Kapolda Sumut. Tuhan kiranya membalas kebaikan hati bapak,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Maria dan keluarganya terpaksa pindah dari Sempakata ke Tanjung Selamat, lantaran mereka telah jatuh miskin. Di sana mereka mengontrak rumah agar lebih murah. Sebelum jatuh sakit, Maria rajin memulung barang bekas di kawasan Jalan Ayahanda maupun kompleks perumahan Tasbih.

Maria telah menggeluti aktivitas memulung sejak 2019. Ia memulung karena tidak mau bergantung pada suaminya Selamat H Ginting Suka (40) karena sama sekali tidak memperhatikan keluarganya sendiri. “Aku memulung di perumahan Tasbih. Suamiku tak bisa kuandalkan. Dia tidak pernah menafkahi kami. Mau gimana lagi. Perempuan Batak mesti kerja keras,” ujarnya.

Maria Marlina Manurung (45), pemulung yang idap kanker payudara dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara, Medan.

Kata Maria, dia memilih memulung karena perlu uang cepat setiap hari. Ada biaya yang harus ia tanggung yakni menafkahi dua putrinya, Mutiara (10) dan Permata (8). Keduanya masih pelajar setingkat sekolah dasar.

“Tak mengapa aku seperti gembel memulung, asalkan anakku ini kelak berhasil di masa depan. Kalau aku enggak memulung, makan apa nanti anakku dan bagaimana mereka bisa bersekolah. Tetapi jadi pemulung pun mesti hidup jujur, berintegritas dan belaku baik,” kata dia.

Maria menangis karena ia kini sekarat. Setiap hari hanya bisa tergeletak di sofa ruang tamu rumahnya. Ia hanya bisa bergantung pada kedua anaknya. Kedua putrinya itulah yang setia setiap hari merawatnya. Walau masih terbilang anak-anak mereka berusaha membopong Maria kalau harus ke toilet untuk urusan hajat atau buang air kecil. Kedua bocah ini pula yang memasak, mencuci dan jualan di warung mereka.

Untuk tanggung jawab sebesar itu, baik Mutiara maupun Permata terpaksa sering sekali mengorbankan waktu-waktu belajarnya. Mutiara dan Permata harus selalu siaga mana kala ibunya butuh bantuan. “Kadang anakku ini sampai tak sempat atau terganggu belajar, karena aku sering meraung kesakitan, entah itu malam, pagi, siang. Sakit sekali kurasa,” terangnya. (Red)

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *