2 Samuel 9: 1-8 adalah contoh nyata bagi gereja untuk menjadikan kelompok “termarginal” sebagai prioritas pelayanannya.

“Kekuatan sebuah rantai terletak pada mata rantai yang paling lemah.” Ungkapan ini merupakan analogi yang tepat untuk mengukur dan menentukan kekuatan seseorang, sebuah organisasi, komunitas, gereja, masyarakat dan bangsa.

Jika ada elemen yang rusak atau sakit-sakitan, maka itu akan menentukan keberlangsungan hidup elemen-elemen yang lain. Karena itu, tidak boleh mengabaikan elemen atau pihak yang sangat lemah dan rentan. Sebaliknya perhatian khusus dan perlakuan ekstra harus diberikan, agar bagian yang paling lemah itu jangan menjadi pemicu runtuhnya seluruh bangunan.

Jika warga yang paling lemah dan termarginal dari satu bangsa tidak mendapatkan perhatian dan pelayanan yang baik dan sepantasnya, bangsa itu secara keseluruhan tidak mungkin bertumbuh menjadi bangsa yang besar dan kuat. Sebaliknya, mereka menunjukkan bahwa fondasi kehidupan mereka sangat rapuh dan setiap saat bisa rubuh dan hancur berkeping-keping.

Karena itu, kita bisa katakan, “bangsa yang besar dan kuat adalah bangsa yang memerhatikan kepentingan dan kesejahteraan warganya yang paling lemah dan termarginal. Gereja yang benar-benar kuat dan taat pada panggilannya, adalah gereja yang memberikan pelayanan terbaik bagi warga yang paling kecil, miskin, menderita dan termarginal. Orang Kristen yang paling kudus adalah orang yang peduli dengan saudara-saudara Yesus yang paling hina dan terpinggirkan.”

Raja Daud terkenal sebagai raja yang masyhur di tengah umat Israel bahkan dia dikenal di seluruh dunia. Ribuan tahun sejak masa kejayaannya, nama Daud masih terus disebut-sebut sebagai salah seorang pemimpin yang paling sukses, paling kaya, paling kuat dan paling dekat kepada Tuhan. Di antara segudang capaian, kesuksesan dan kehebatannya, mungkin salah satu pencapaiannya yang paling mengagumkan tersingkap dalam kisah “Kemurahan Hati Daud kepada Mefiboset.”

Mefiboset adalah cucu Raja Saul, anak dari Yonathan – Sahabat Daud itu. Pada masa kejayaan Raja Daud, Mefiboset termasuk warga termaginal. Selain secara fisik dia mengalami kelumpuhan (difabel), secara politis, dia berada di pihak yang kalah. Raja Saul dan seluruh keluarganya tidak lagi berkuasa atas bangsa Israel, sebab raja yang baru – Daud yang notabene dimusuhi oleh kakeknya Raja Saul, telah duduk di takhta kerajaan.

Dalam situasi dan kondisi yang demikian, kita bisa bayangkan kehidupan Mefiboset yang termarginal. Dia terpinggirkan. Jika dahulu dia bersama ayah ibunya hidup di istana di masa kejayaan Saul, serba berkecukupan dan berkelimpahan. Semua orang menaruh hormat kepadanya dan kepada keluarganya, dan setiap orang siap sedia meayani mereka. Tetapi sekarang?

Menginjakkan kaki saja pun di halaman istana rasanya mustahil. Sebagai kelomopok yang kalah secara politis bahkan dalam peperangan, mereka hanya bisa hidup di pinggiran atau di tempat tersembunyi. Jika tidak terbunuh, mereka hidup di pinggiran – mereka termarginal. Mereka hanyalah sisa-sisa dari rejim lama. Mefiboset sendiri adalah bagai pangeran yang tanpa kuasa dan wibawa.

Karena itu, Daud berkata, “Masih adakah orang yang tinggal dari keluarga Saul?” Pertanyaan yang mengandung beribu makna. Apa sebenarnya yang ada di benak Daud? Apakah mereka semua sudah tewas dalam pertempuran? Apakah mungkin para jenderalnya memiliki niat, “hanguskan sampai ke akar-akarnya?“

Hati Daud lega, ketika dia mengetahui bahwa masih ada cucu Saul yang hidup, yakni Mefiboset. Dia adalah anak sahabat Daud, Yonathan. Dia tinggal di Lodebar. Daud menyuruh para pembantunya untuk menjemput dia. Sekarang Mefiboset diberi kesempatan istimewa menginjakkan kaki di istana raja.

Sebagai warga yang termaginal, masuk ke istana, tentunya Mefiboset dipenuhi beragam perasaan. Mungkin dia ketakutan. “Apakah yang akan diperbuat raja bagiku? Apakah dia masih menaruh dendam atas dosa dan kesalahan kakekku Raja Saul? Atau apakah ada yang ingin menghancurkan saya, sehingga keturunan Saul benar-benar punah?“

Ternyata, Mefiboset mendengar kabar baik, berita sukacita dari seorang raja yang murah hati. “anganlah takut, sebab aku pasti akan menunjukkan kasihku kepadamu oleh karena Yonathan, ayahmu. Aku akan mengembalikan kepadamu segala ladang Saul, dan engkau akan tetap makan sehidangan dengan aku.“ Mefiboset berkata, “Apakah hambamu ini, sehingga engkau menghiraukan anjing mati seperti aku?“

Tindakan Daud benar-benar menjadi teladan dan inspirasi untuk melakukan kebaikan. Dia benar-benar menunjukkan diri sebagai seorang raja berhati mulia: “parbahul-bahul na bolon.“ Dia murah hati, termasuk kepada keluarga musuhnya, atau keluarga yang pernah berencana bahkan mengupayakan yang terburuk baginya, yakni Saul sendiri.

Berulangkali Saul berupaya membunuh Daud. Berulangkali Saul dan orang-orang dekatnya merancang tindakan paling jahat dan paling buruk terhadap Daud. Saul sebenarnya ingin menyingkirkan Daud dari kancah perpolitikan Israel, bahkan dari dunia ini. Tetapi kasih karunia Tuhan senantiasa menyertai Daud.

Sementara itu, Yonathan anak Saul adalah sahabat Daud. Sebagai sahabat, mereka menunjukkan kasih yang tulus satu dengan yang lain. Itu juga berkelanjutan hingga kepada keturunan Yonathan. Anaknya Mefiboset mendapatkan kasih sayang Daud – penguasa paling masyhur di Israel. Dalam kisah ini, kita melihat nilai-nilai yang istimewa:

Daud menunjukkan integritas sebagai seorang pemimpin. Bahwa sekalipun sahabatnya Yonathan telah tiada, tetapi dia masih mengingat arti persahabatan itu hingga keturunannya. Dia tidak mau membohongi diri sendiri, bahwa dia pernah berjanji kepada Yonathan untuk menunjukkan kasihnya kepada keluarga Yonathan.

Kedua, dia menunjukkan integritas sebagai seorang pemimpin. Bahwa harta warisan Saul dikembalikan kepada yang pantas mewarisinya. Sekali pun Daud sebagai pemenang dalam pertarungan politik dan menjadi penguasa bisa menggunakan wewenangnya untuk mengambil alih harta keluarga Saul, tetapi kini dia menunjukkan kebesaran hatinya untuk mengembalikkanya kepada keluarga Saul melalui Mefiboset.

Ketiga, Dia mau memanusiakan manusia. Bagi Daud, setiap orang itu sangat berharga, tanpa memandang latarbelakangnya. Secara politik, Mefiboset berada di pihak musuh. Tetapi, dia tetaplah manusia – yang diciptakan dalam gambar dan rupa Allah. Sekali pun dia di pihak yang kalah, dia adalah manusia, gambar dan rupa Allah, berharga di hadapan Allah dan sesama.

Sekali pun orang yang bersangkutan merasa dirinya hina dan tak punya arti apa-apa, tetapi Daud menunjukkan bahwa Mefiboset adalah manusia yang memiliki hak dan kedudukan yang sama seperti yang lainnya. Bahkan dia bisa sehidangan makan dan minum bersama raja.

Raja Daud “memanusiakan” Mefiboset yang telah menganggap dirinya tak punya arti apa-apa, sebab dia sendiri menenyebut dirinya sebagai ‘anjing mati.’ Bagi Daud, Mefiboset adalah manusia yang memiliki harkat dan martabat yang tinggi. Dia adalah keturunan raja, karena itu layak sehidangan dengan raja.

Sekarang, banyak orang yang termarginal dan terpinggirkan dari pusat kehidupan. Ada beragam alasan mengapa mereka terpinggirkan. Ada karena faktor sosial, politik, ekonomi, bencana alam, penyakit – khususnya sekarang ini akibat pandemi vrirus corona. Banyak orang yang termarginalkan karena perbedaan agama, kepercayaan atau aliran. Ada banyak faktor penyebab mengapa orang termarginalkan. Dan memang sangat banyak orang yang termarginalkan.

Yang menjadi pertanyaan adalah, siapa yang menolong mereka? Dan apa yang dilakukan oleh gereja kepada mereka? Inilah yang perlu kita renungkan. Sebagai gereja, kita dituntut untuk menolong saudara-saudara kita yang miskin, lemah, tertindas, terpenjara, yang lapar, tidak memiliki pakaian dan rumah.

Inilah salah satu seruan dari Sidang Raya Ke-10 Dewan Gereja-gereja Sedunia (DGD) di Busan, Korea Selatan pada tahun 2013. Dalam petualangan bersama menuju kedamaian dunia yang berkeadilan (just peace), gereja harus mampu melihat pelayanannya dari sudut pandang masyarakat termarginal – terpinggirkan. Apa yang dilakukan oleh gereja kepada mereka dan bersama mereka?

Saudaraku, ini jugalah yang menjadi pertanyaan mendasar bagi kita sebagai pengikut Kristus: „apa yang kamu lakukan kepada salah seorang dari saudaraku yang paling hina dina itu? Apakah yang kamu lakukan kepada Mefiboset? Apakah yang kamu lakukan kepada Lazarus? Apakah yang kamu lakukan kepada anak-anak yang terbuang di Kalkutha? Apakah yang kamu perbuat kepada para budak di rura Silindung?“

“Apakah yang kamu perbuat kepada orang-orang yang jatuh miskin dan kehilangan pekerjaan di masa pandemi virus corona? Apakah yang kamu perbuat kepada orang yang positif terinfeksi virus corona?“ Semoga kita dapat memberi jawab yang meyakinkan, sebagaimana Daud dapat memberi jawab akan apa yang dia perbuat kepada Mefiboset.

Penulis: Pdt. Dr. Deonal Sinaga, Praeses HKBP Distrik XXI Banten

By Redaksi

One thought on “Peduli Orang Termarjinal”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *