Mimpi kecil Paitua Rajab Sorowat (56) kini menjadi nyata. Sejak tahun 2000, pria dari Kampung Taroi, distrik Taroi Kabupaten Teluk Bintuni itu selalu dihantui ancaman abrasi dan angin yang merusak bahkan menenggelamkan desanya. Berkat kerja keras selama bertahun-tahun, kini desanya telah dikelilingi jutaan bakau yang melindungi, bahkan menjadi sumber penghidupan masyarakat di distrik Taroi.

Kondisi bibir pantai teluk Bintuni sebagian tertutupi bakau

Pada tahun tahun sebelumnya, ketika datang angin ribut dan ombak besar, rumah-rumah penduduk banyak yang rusak. Karenanya, mereka harus berpindah tempat tinggal.

Nurdin Bauw, penduduk Kampung Taroi, mengaku sudah delapan kali mengalami perpindahan kampung. “Kami sudah berpindah kampung hingga delapan kali akibat terjangan angin dan abrasi laut,” tutur Nurdin.

Minimnya penahan abrasi telah menciptakan degradasi yang amat besar di desa tempat tinggal Nurdin dan Rajab. Sebagai mantan kepala kampung, Paitua Rajab merasa tergerak untuk menciptakan gebrakan yang dapat menyelamatkan kampungnya.

Ia memulai inisiatif menanam bakau dengan harapan suatu saat, masyarakat Taroi akan hidup aman, tanpa diselimuti rasa khawatir akan ombak raksasa serta angin ribut.

Awalnya, tak ada yang tertarik untuk membantu menanam mangrove. Masyarakat Taroi merasa pesimis, oleh karena bakau kecil selalu dihantam ombak pantai.

Namun, tekad Paitua Rajab sudah bulat. Ia dengan kegigihannya terus menerus mendorong menanam puluhan hingga ribuan bakau di sepanjang garis pantai desa Taroi. Beberapa mati, namun beberapa lainnya tumbuh kokoh dan subur.

Pada Agustus 2005, Paitua Rajab mendapat dukungan PT Bintuni Utama Murni Wood Industries. Ia pun memimpin masyarakat untuk melanjutkan pekerjaan tersebut.

Aktifitasnya ini kemudian mendapat dukungan dari program sosial dari Tangguh LNG dan Kantor Pemangku Hutan, Dinas Kehutanan Teluk Bintuni.

Pohon bakau sepanjang 2km kini menjaga Desa Taroi dari hempasan ombak dan angin besar

Setelah beberapa tahun, aksi tersebut mulai menunjukkan hasil. Beberapa masyarakat mulai ramai membantu dan terlibat.

“Hingga saat ini, tanaman mangrove ini telah bertumbuh lebih dari 2km sepanjang pantai utara teluk Bintuni Papua Barat. Dulu, hanya ada lumpur saja sepanjang pantai ini,” ujar Paitua Rajab, ketika dijumpai oleh Benny Inanosa, Indigenous People Expert, Kitong Bisa Consulting.

Paitua Rajab berharap, aksi ini dapat terus berjalan dan mendapat lebih banyak dukungan dari berbagai pihak untuk menjamin kelangsungan hidup masyarakat di Teluk Bintuni.

Saya senang sekali jika aksi ini bisa mendapat lebih banyak dukungan agar kami dapat terus menjaga Teluk Bintuni, serta membantu penghidupan masyarakat sekitar,” tutupnya. (ven)

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *