“Jangan pernah menyerah! Jangan pernah kehilangan harapan! Anda pasti bisa! Hari ini akan lebih baik dari hari kemarin, dan esok akan lebih baik dari hari ini! Ingat, semua ini akan berlalu dan lihatlah akan indah pada waktunya! Nothing is impossible and impossible is nothing – tidak ada yang mustahil! Engkau tidak pernah berjalan sendirian!”

Kata-kata ini bisa mengubah kehidupan seseorang, terutama di saat menghadapi masa-masa paling kelam. Ketika hidup demikian sulit, teman-teman tidak begitu bersahabat, semua orang rasanya menjauh dan nampaknya tidak ada lagi jalan keluar. Kita merasa bahwa seluruh dunia bermusuhan dengan kita, hidup kita “songon tandiang na hapuloan,” terasing dan teralienasi. Kita benar-benar butuh pertolongan. Satu kata atau kalimat dia atas bisa mengubah segalanya!

Saya sendiri pernah mengalaminya. Sekembalinya kami dari pelayanan di Jerman akhir tahun 2014 lalu, kami harus menerima kenyataan pahit. Beberapa bulan tidak mempunyai tempat pelayanan, dan tempat tinggal kami tidak menentu. Sambutan hangat dari teman-teman sudah mulai berkurang dan semua terasa hambar. Makin lama, makin terasa keadaan hidup semakin sulit. Sepertinya, negeri yang selama enam tahun kami tinggalkan tidak begitu bersahabat.

Dalam keadaan hati yang gundah gulana, suatu hari dalam perjalanan di kota Medan, saya melihat satu tulisan di belakang mobil pick-up, “Akan Indah Pada Waktunya!” Saya merasakan sesuatu yang memberi harapan dalam kata-kata ini. Saya doakan, semoga ini menjadi kenyataan dalam pelayanan dan kehidupan keluarga kami. Sejak saat itu, semangat saya mulai bangkit. Sukacita dan harapan mulai mengisi kehidupan saya. Tidak lama setelah itu, ada berita nampaknya realisasi SK penempatan kami di HKBP Ressort Cinta Damai mulai terbuka. Benar, kata-kata itu menjadi kenyataan “Indah Pada Waktunya!“

Demikian juga dengan kisah hidup seorang perempuan Samaria yang bertemu dengan Yesus di dekat sumur Yakub di Sikhar – wilayah Samaria. Satu perjumpaan yang mengubah hidup perempuan itu dan menjadi inspirasi bagi banyak orang! Perjumpaan Yesus dan perempuan Samaria terjadi dalam konteks, kurang lebih seperti berikut ini:

Yesus dan para murid sedang dalam perjalanan dari Yudea ke Galilea. Waktu itu hubungan orang Yahudi di Israel Selatan (Yudea) dan orang Samaria (Israel Utara) tidak harmonis. Mereka saling bermusuhan satu dengan yang lain. Kalau kita lihat peta wilayah Palestina di jaman Perjanjian Baru, Yudea terletak di Selatan, di bagian utaranya Samaria dan ke utara lagi Galilea. Jika orang bepergian dari Selatan ke Utara, dari Yudea ke Galilea atau sebaliknya melalui Samaria, pasti menghadapi banyak kesulitan.

Paling nyaman, walau harus menempuh jarak yang lebih jauh, mereka harus melalui Perea dan Dekapolis. Tetapi Yesus memimpin perjalanan mereka dari Yudea menuju Galilea langsung menembus wilayah Samaria. Yesus tentu sudah memperhitungkan resiko bertemu dengan orang-orang Samaria, yang notabene adalah musuh bebuyutan orang Israel Selatan. Namun, seperti kita ketahui, Yesus adalah pemimpin yang berpikir “Out of the Box.”

Setelah perjalanan panjang Yesus dan para murid sampailah mereka di Sikhar, bagian kota Samaria. Tentunya mereka kelelahan, haus dan lapar. Karena itu, para murid pergi ke kota untuk membeli makanan. Tinggallah Yesus sendirian di siang bolong duduk di tepi sumur Yakub itu, tanpa makanan dan tanpa minuman. Yesus Lelah, lapar dan haus.

Tiba-tiba datang seorang perempuan Samaria untuk mengambil air dari sumur itu. Kedatangan perempuan ini sendiri sudah menimbulkan tanda tanya besar. Perempuan datang sendirian ke sumur di siang bolong? Apakah itu lazim? Biasanya orang datang ke sumur ramai-ramai dan biasanya dilakukan pada pagi hari atau sore hari. Tetapi perempuan ini datang pukul 12 siang. Ada apa dengan dia?

Lewat percakapan dengan Yesus tersingkaplah siapa dia sebenarnya. Dia mungkin adalah seorang perempuan yang “Outcast.” Seorang perempuan yang dipandang rendah di tengah masyarakat. Dia mungkin malu dilihat orang dan malu dengan diri sendiri. Ternyata, dia sudah lima kali “menikah.” Bukan hanya itu, sekarang dia hidup dengan seorang laki-lagi yang bukan suaminya. Kita sudah bisa bayangkan, perempuan seperti apa dia ini.

Dia datang sendirian di siang bolong, mungkin dia malu bersama-sama dengan perempuan lain di pagi atau sore hari untuk mengambil air. Atau bisa saja ada kemungkinan lain. Yang jelas dengan kenyataan bahwa dia sudah lima kali menikah dan sekarang tinggal bersama laki-laki yang bukan suaminya, dia pasti dipandang rendah di tengah masyarakat yang sangat ortodoks.

Dia adalah seorang perempuan yang susah, yang hina dina, perempuan termarginal. Mungkin dia dikucilkan di tengah keluarga dan kerabatnya. Sekali pun dia berupaya mengubah jalan hidup, tetapi rasanya mustahil. Tidak ada yang dapat mengubah pandangan orang tentang dia. Dia sudah kelelahan. Hatinya gundah gulana. Dia dipenuhi dengan kecurigaan. Mungkin dia sudah benci dengan dirinya sendiri dan tidak ingin bertemu dengan orang lain.

Tanpa disangka, dia bertemu Yesus – satu pribadi yang lain daripada yang lain. Pribadi yang mampu mengenal dia dan memahami jeritan hati dan jiwanya. Yesus tahu betul keadaan hidup perempuan yang menderita dengan realitas dunia ini. Yesus tahu bahwa perempuan itu butuh pertolongan.

Karena itu, Yesus memulai percakapan dan berkata, “Berilah aku minum!” Yesus mungkin jujur meminta air, karena Dia kehausan. Lantas perempuan itu yang sudah dipenuhi kecurigaan, apalagi mengetahui bahwa Yesus adalah orang Yahudi, bereaksi dengan berkata, “Masakan Engkau orang Yahudi meminta air kepadaku, seorang Samaria?” Yesus tidak mengindahkan pernyataan perempuan itu.

Sebaliknya Yesus fokus pada tujuanNya untuk menolong perempuan malang ini. “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah yang meminta air kepadamu, niscaya engkau akan meminta kepadaNya dan Dia akan memberikan kepadamu air hidup.” Perempuan itu belum memahami apa yang dimaksudkan Yesus. Malah dia mencoba berpolemik dan mempertanyakan apakah Yesus lebih besar dan lebih hebat dari nenek moyang mereka Yakub.

Yesus sekali lagi tak menghiraukan pertanyaan sarkastik perempuan itu, dan berkata, “Barangsiapa meminum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya, air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.

Sampai di sini, perempuan itu masih gagal paham. Dia memang akhirnya meminta air itu kepada Yesus, tetapi dengan nada meledek, “Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.”

Pemikiran perempuan itu masih tetap bercokol pada air dalam arti harafiah sebagai benda cair yang dipakai sebagai bahan minuman dan untuk mencuci. Padahal Yesus berbicara dalam arti figuratif tentang air kehidupan. Tetapi, ketika Yesus menyingkapkan siapa sebenarnya perempuan itu, dengan menyebut bahwa dia telah memiliki lima suami dan laki-laki yang sekarang hidup bersamanya bukanlah suaminya, dia akhirnya tersadar, bahwa sesungguhnya yang berbicara dengan dia itu bukanlah manusia biasa.

Dia adalah Tuhan. Dia adalah nabi. Dia adalah Mesias yang dapat mengenali kedalaman hati, jerita jiwa dan pergumulan hidup seseorang. Dia dapat memberikan anugerah, penghapusan dosa, keselamatan dan hidup yang kekal. Seketika itu juga, hidup perempuan itu berubah secara total. Dengan hati yang girang, tanpa merasa malu, dia berlari kesana kemari menyaksikan perjumpaannya dengan Yesus. Sepertinya dia berkata, “Aku telah bertemu dengan Sang Mesias. Aku telah melihat Juruselamat. Aku telah melihat keselamatan yang selama ini dinubuatkan. Mari datanglah dan lihatlah Dia!“

Hidup perempuan itu berubah total. Dia sudah menjadi manusia baru. Hidupnya dipenuhi sukacita. Dia tidak malu-malu lagi. Dia tidak lagi memandang dirinya sebagai perempuan “Outcast,” orang yang hina dina. Dia sekarang melihat dirinya sebagai pribadi yang berharga di hadapan Tuhan. Dia menjadi hamba Tuhan yang luar biasa. Perjumpaan dengan Yesus menjadikan perempuan itu menjadi manusia beriman yang tampil Tangguh dan percaya diri: kuat, elastis dna tahan uji. Sejak itu dia benar-benar melayani dengan hati. Karena kesaksiannya banyak orang yang datang kepada Yesus dan percaya kepadaNya.

Yesus memberi air kehidupan. Barangsiapa meminum air yang Yesus berikan, tidak akan haus lagi. Sebaliknya itu akan menjadi air hidup yang mengalir terus menerus hingga kekekalan. Seruan Yesus, “Datanglah kepadaKu, hai yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu!” Ini benar dan perempuan Samaria itu telah mengalaminya.

Saudara yang terkasih, dalam perjalanan hidup di dunia ini, semua kita mengalami kehausan, kelelahan, beban berat, tantangan dan kesulitan hidup. Kita menghadapi berbagai permasalahan dalam kehidupan keluarga, pekerjaan, pelajaran bagi yang sekolah atau kuliah, dalam pelayanan atau apa pun yang kita hadapi saat ini. Tentunya kita harus berupaya keras sedaya mampu kita untuk mencari jalan keluar dan berusaha membereskan apa yang dapat kita bereskan.

Namun, kita juga harus sadari: kemampuan kita terbatas, waktu kita terbatas, sumberdaya yang kita miliki terbatas. Dalam segala keterbatasan kita, yang kita sadari tidak cukup untuk menyelesaikan segala persoalan hidup kita, Yesus datang dan menawarkan air kehidupan bagi kita. Dan air kehidupan yang Yesus tawarkan lebih dari cukup untuk sekedar menghadapi kenyataan hidup ini, melainkan itu terus mengalir sepanjang hidup kita di dunia ini, bahkan hingga kekekalan.

Karena itu, berbahagialah saudaraku! Jangan takut! Jangan khawatir! Apakah saudara pernah mendengar lagu yang dipopulerkan Mariah Carey, “Just call my name, and I’ll be there?” Yang berarti, “Sebut saja namaku, dan aku akan ada bersamamu…!” Satu kalimat yang menjanjikan – menunjukkan kesediaan seorang sahabat untuk memberikan pertolongan setiap kali dibutuhkan.

Yesus, sahabat kita yang baik hati, telah menjanjikan, jika kita datang kepadaNya dan memohon pertolonganNya, Dia senantiasa bersedia memberikan pertolongan yang tepat pada waktu yang tepat. Kesusahan dan beban hidup yang kita tanggung, tidak akan melebihi kemampuan kita untuk memikulnya. Bersama Yesus yang memberikan kita air kehidupan, semuanya akan baik-baik saja!

Malahan, kita akan dimampukan untuk melakukan hal-hal yang jauh lebih besar, lebih indah dan lebih terhormat dari yang selama ini kita lakukan, jika kita telah menerima air hidup yang Yesus janjikan. Itulah pengalaman nyata perempuan Samaria dalam perjumpaan dengan Yesus.

Seperti perempuan Samaria itu, jika kita telah menerima Karunia Tuhan Jesus Kristus, cinta kasihNya, RohNya yang Kudus dan keselamatan yang disediakanNya, maka kita adalah orang-orang paling bahagia dan terberkati. Kita akan memancarkan sukacita, damai sejahtera, kesabaran, ketabahan, keuletan, keramahtamahan dan segala kebaikan yang akan membawa kesembuhan dan sukacita bagi banyak orang di dunia ini! (*)

Pengkhotbah : Pdt. Dr. Deonal Sinaga
(Praeses HKBP Distrik XXI Banten)

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *