“Tung halak na margogo si partangiang i. Dokdok pe sitaonon ndang olo talu i. Nang hira-hira mogap dibaen sitaonon i, marsinggang do ibana managam Tuhan i. Imbaru panghirimon nang hagogoon i. Margogo, marsahala do partangiang i.“ (BE 487)

Satu nyanyian gerejawi yang populer menyingkapkan kekuatan seorang pendoa. Orang yang benar-benar bersahabat dengan Tuhan adalah orang yang tangguh. Ketangguhannya tidak terletak pada kemampuan, pengetahuan, atau pengalamannya menghadapi persoalan hidup, melainkan pada penyerahan diri dan keyakinannya pada pertolongan Tuhan.

Sekali pun banyak tantangan dan cobaan hidup, dia tidak pernah patah semangat dan kehilangan pengharapan. Ketika dia jatuh, dia bangkit lagi. Jatuh lagi, bangkit lagi, karena dia tahu dengan iman, bahwa tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menolong dan telinganya tidak kurang tajam untuk mendengar.

Orang yang bersahabat dengan Tuhan tidak pernah kehilangan pengharapan. Ketika satu pintu tertutup, dia yakin, Tuhan akan membukakan pintu yang lain baginya. Ketika ada yang menyakiti dia, banyak orang lain yang akan menunjukkan cinta kasih padanya. Dia yakin dan percaya bahwa Tuhan senantiasa memiliki rencana dan rancangan terbaik dalam hidupnya.

Karena itu, dia melangkah dengan kepala tegak. Dia selalu memiliki pengharapan dan kekuatan yang baru. Dia tampil tangguh dan percaya diri: kuat, elastis dan tahan uji. Dia tidak pernah gentar menghadapi masa depan. Apa pun yang terjadi, dia hadapi dengan keyakinan, bahwa Tuhan senantiasa menyertainya.

Keyakinan seperti itulah yang dimiliki oleh Paulus, rasul yang Tuhan pakai secara luar biasa memberitakan Injil dari satu daerah ke daerah lain, dari satu pulau ke pulau lain, dari satu bangsa ke bangsa lain. Dia menghadapi beragam tantangan dan kesulitan hidup. Bahkan, berulang kali hidupnya terancam. Tetapi dia tidak pernah mengeluh atau menyesal. Dia tidak pernah cengeng.

Dia tahu dengan iman bahwa dalam segala hal, Tuhan tidak pernah lepas tangan. Bersama Tuhan dia dapat menanggungnya. Karena itu, hidupnya penuh dengan sukacita. Dia merasa berkecukupan dengan apa yang dia miliki dan alami. Dia mampu menerima dengan ucapan syukur, apa pun yang diperhadapkan kepadanya. Dia mampu mempergunakan setiap kesempatan untuk menyaksikan karya penyelamatan Allah di dalam Yesus Kristus.

Dengan pemahaman mendasar inilah Paulus menasehati anak rohani dan rekan sekerjanya dalam pemberitaan Injil – Timotius. Paulus mengingatkan Timotius untuk benar-benar mengajarkan Injil keselamataan Allah secara murni. Jangan biarkan ajaran-ajaran sesat menyusup pada Injil yang murni itu.

Kemudian Paulus mengingatkan Timotius agar dia tetap memelihara hubungan yang akrab dengan Tuhan dan benar-benar hidup dalam doa. Dia harus berdoa bagi semua orang, bagi pemerintah, bagi penguasa, bagi raja-raja dan para pembesar. Paulus menantang Timotius untuk menaikkan doa syafaat demi kesejahteraan semua orang, demi kedamaian dan ketentraman hidup masyarakat banyak. Raja dan penguasa bukanlah untuk ditakuti apalagi bukan untuk disembah. Mereka adalah manusia biasa yang Tuhan pakai memerintah dan mereka juga membutuhkan pertolongan Tuhan.

Ajakan ini selaras dengan seruan Firman Tuhan dalam kitab Yeremia bagi umat Israel yang terbuang, “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu!”

Doa adalah harapan. Doa juga merupakan keinginan dan impian, supaya itu terjadi melalui permohonan kepada Tuhan. Jika kita berdoa untuk kesejahteraan kota atau bangsa dimana kita tinggal, itu adalah merupakan cita-cita dan kerinduan kita, agar kota atau bangsa itu sejahtera, aman dan damai.

Sesuai dengan topik Minggu ini “Tanggung jawab orang Kristen dalam politik,“ seruan ini mengingatkan, bahwa apa yang kita doakan dan cita-citakan supaya terwujud dalam masyarakat, bangsa dan negara, harus juga kita upayakan dengan sedaya mampu kita untuk mewujudkannya.

Sebagai contoh, kita berdoa untuk kedamaian dan ketentraman hidup berbangsa dan bernegara. Untuk mewujudkan ini, kita tidak boleh berpangku tangan dan menunggu Tuhan menyelesaikan pekerjaan itu. Kita juga harus melakukan bagian kita. Kita harus berupaya merajut hubungan yang harmonis dengan orang-orang di sekitar kita, dengan orang yang berbeda denominasi, berbeda agama, bahkan yang berbeda ideologi dan keyakinan dengan kita. Kita harus mampu menerima orang lain apa adanya dan menghormati mereka sebagaimana adanya.

Kita berdoa untuk kelestarian alam dan supaya ancaman pemanasan global dapat diatasi. Kita berdoa supaya es di kutub utara jangan meleleh hingga permukaan laut naik dan menghanyutkan berbagai kota di daerah pantai. Jika kita hanya berdoa, Tuhan tidak inginkan itu. Kita juga harus berupaya sedaya mampu kita melakukan bagian kita dengan hidup sederhana, hemat energi, kurangi penggunaan plastik, menanam pohon dan mendukung kebijakan-kebijakan yang pro-lingkungan hidup.

Kita berdoa untuk pemerintah yang adil dan berwibawa. Untuk itu, kita harus menunjukkan sikap politik kita dengan memilih pemimpin yang memiliki track-record yang anti-korupsi, pro-keadilan, menerima dan mengghormati pluralisme. Kita harus mampu berkata “No!” terhadap calon pemimpin yang berupaya memberikan suap atau gratifikasi! Apalagi di masa-masa Pilkada yang sudah di depan mata, gereja harus berada di garis terdepan menyatakan penolakan terhadap politik uang, politik identitas dan segala praktik gratifikasi.

Jika kita berdoa untuk pemerintah dan penguasa, tetapi pada masa-masa kampanye kita mau menerima gratifikasi dan pada akhirnya menjatuhkan pilihan kepada seseorang didasarkan pada pemberiannya, berarti kita hanya berharap Tuhan sendiri yang bekerja dan kita melepas tanggung jawab sebagai orang Kristen dan warga yang baik dalam politik.

Menolak politik uang dan gratifikasi adalah tanggung jawab politik. Memilih pemimpin yang berintegritas dan memiliki kompetensi untuk menyejahterakan rakyat adalah tanggung jawab politik. Pergi ke kotak suara untuk menentukan masa depan masyarakat, bangsa dan negara adalah tanggung jawab politik. Berani menyatakan kebenaran adalah tanggung jawab politik. Menyampaikan pikiran dan aspirasi demi kebaikan semua dalam diskursus publik, termasuk melalui media sosial adalah tanggung jawab politik.

Apa pun yang kita lakukan, sebagai hasil pergumulan mendalam kita dan dengan doa, demi kebaikan semua adalah merupakan tanggung jawab politik. Menjadi orang Kristen tidak boleh apolitik, karena Yesus Kristus juga bukan apolitik. Politik itu mulia, karena tujuannya adalah untuk menata kehidupan masyarakat, bangsa dan negara dengan kedamaian, ketentraman dan kesejahteraan semua!

Salah seorang tokoh paling penting dan berpengaruh dalam sejarah gereja – terutama dalam gerakan reformasi, Dr. Martin Luther banyak menuliskan pengajaran tentang doa. Satu ungkapan Martin Luther tentang doa yang dikenal luas dan menjadi inspirasi bagi banyak orang, adalah bahwa semakin banyak perkerjaan dan semakin berat beban yang harus dia pikul dalam satu hari, dia membutuhkan waktu yang lebih lama untuk berdoa.

Itulah yang dialami oleh pendoa-pendoa ulung – para tokoh di Alkitab dan di gereja seperti Musa, Daud, Martin Luther, Ignatius Loyola, Ingwer Ludwig Nommensen, Mother Theresia. Dengan doa, mereka membawa transformasi pertama-tama dalam diri sendiri, kemudian dalam dunianya. Bagi mereka, doa bukan sekadar pekerjaan baik (good work), melainkan (dan terutama) sebagai komunikasi yg tulus ikhlas dengan Tuhan (honest communication with God).

Sesungguhnya, Guru termasyhur dan sumber inspirasi dalam “Berdoa” dan kehidupan doa adalah Yesus sendiri. Dia adalah Anak Allah dan Dia yang paling memahami tentang Sang Bapa. Yesus tahu apa yang diinginkan oleh BapaNya. Salah satu yang paling diinginkan dan dirindukan Sang Bapa dari anak-anakNya adalah “BERDOA, BERDOA & BERDOA…!” dengan tekun dan tulus ikhlas. (*)

Pengkhotbah : Pdt. Dr. Deonal Sinaga
(Praeses HKBP Distrik XXI Banten)

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *