“Jangan tanyakan apa yang negara dapat lakukan untukmu, tetapi tanyakanlah apa yang dapat kamu lakukan untuk negara…!” Ini adalah petikan pidato Presiden Amerika Serikat John. F. Kennedy kepada rakyatnya yang datang dari berbagai latar belakang, termasuk para pengungsi, kelompok minoritas atau yang tidak jelas status kewarganegaraannya, supaya bersama-sama membangun negeri impian “promised land” tempat aliran susu dan madu.

Kemauan setiap elemen masyarakat untuk berkontribusi membangun bangsa adalah fondasi pokok yang menentukan satu-satu bangsa untuk bertumbuh dan berkembang menjadi bangsa yang besar, kuat dan sejahtera. Sebaliknya, jika pribadi-pribadi, korporasi atau kelompok tertentu hanya mementingkan diri sendiri, pasti bangsa itu akan semakin kercil, bahkan bangkrut.

Jika ada orang atau kelompok yang hidup di satu negeri tetapi tidak merasa bagian dari negeri itu: cepat atau lambat, mereka akan menggerogoti eksistensi bangsa tersebut dan pada akhirnya akan melemahkan bahkan meruntuhkannya.

Firman Tuhan melalui nabi Yeremia dengan tegas menyatakan bahwa sikap seperti itu tidak baik. Tuhan tidak menginginkan itu. Umat Tuhan hadir di tengah-tengah satu bangsa, haruslah membawa berkat, sukacita dan damai sejahtera. Karena itu, mereka harus memiliki sikap yang positif terhadap bangsa dimana mereka berada, sekali pun status mereka adalah buangan.

Sekali pun mereka mungkin memiliki status “warga kelas dua,” atau sebagai kelompok “Dalit” yang tidak diperhitungkan karena mereka adalah orang buangan, namun mereka harus dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa memberikan sumbangsih terbaik bagi negeri dimana mereka tinggal.

“Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung!” Satu ungkapan yang populer di negeri kita ini. Dimana pun kita berada, kita harus berpikir dan bersikap bahwa tempat atau kota itu adalah rumah kita bersama. Karena itu kita harus merasa “At Home – nyaman” berada di tempat kita. Untuk itu kita harus menciptakan atmosfer seperti di rumah sendiri yang penuh dengan sukacita, kedamaian, semangat, impian, cita-cita, inovasi dan kreativitas.

“Halak hita” pintar hidup di negeri lain. Kemana pun dia merantau biasanya sukses, dan kehidupannya jauh lebih baik dari sebelumnya. Satu ungkapan penting dalam Bahasa Batak adalah “Sidapot solup do na ro…” Demikian juga nasehat orangtua, “Molo dung sahat ho amang/inang di panggarantoan, lului amangmu dohot inangmu di san da!” Artinya, kemana pun dia pergi, dia harus mencari sahatbat yang bisa seperti keluarga, dan harus berupaya memahami aturan, norma, kebiasaan atau adat-istiadat di tempat perantauannya, sekali pun iman kekristenan dan adat Bataknya tetap dibawa. “Jadilah sahabat bagi orang-orang di tempat itu!” Itu adalah satu kunci sukses bagi perantau.

Demikian jugalah pesan Firman Tuhan bagi umat Israel yang ada di pembuangan Babel. Melalui hambaNya nabi Yeremia, Tuhan berpesan kepada bangsa itu, bahwa sekali pun mereka hanya untuk sementara waktu berada di Babel, bukan seterusnya dan selamanya, melainkan hanya 70 tahun, mereka harus hidup seakan-akan mereka hidup 1000 tahun lagi di sana.

Artinya, mereka harus membangun kehidupan seperti di kampung halaman sendiri, seperti di negeri sendiri. Mereka harus benar-benar merasa “At Home” dan membangun rasa memiliki (sense of belonging) di negeri Babel. Mereka harus, “membangun rumah, membuka kebun anggur, mengawinkan anak-anak supaya mereka bertambah banyak!” Bukan hanya itu, mereka harus sungguh-sungguh mengusahakan kesejahteran kota itu dan berdoa untuk kota itu!”

“Kesejahteran kota itu adalah kesejahteraanmu juga!” Jadi setiap warga Israel di pembuangan dituntut oleh Firman Tuhan, bukan sekadar untuk memenuhi keinginan Raja Nebukadnesar, melainkan atas seruan Firman Tuhan, supaya bertanya pada diri sendiri, “Apa yang dapat saya berikan kepada negeri ini?”

Sesuai dengan panggilan umat Tuhan sejak awal pemanggilan nenek moyang mereka Abraham, bahwa mereka akan menjadi bangsa yang besar dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Umat Tuhan menjadi berkat bagi dunia ini. Kemana pun mereka pergi, harus menjadi berkat bagi sebanyak mungkin orang.

Kehadiran umat Tuhan di tengah bangsa Babel diharapkan akan membawa perubahan besar. Bangsa itu harus benar-benar terberkati dengan kehadiran umat Israel. Bangsa Babel akan mengenal Tuhan Allah: kasih, kebaikan, kekuasaan dan berkat-berkatNya. Mereka harus merasakan damai sejahtera melalui kehadiran umat Tuhan.

Tuhan akan memberkati umatNya Israel! Tuhan memiliki rancangan yang jauh lebih baik dan jauh lebih indah bagi mereka. Sekali lagi, bukan karena kebaikan dan keinginan Raja Nebukadnesar atau pemimpin Babel, melainkan karena Tuhan sendiri. “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah Firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera…Aku akan memulihkan keadaanmu.“

Heilsgeschichte – Sejarah keselamatan umat Tuhan memang unik. Terkadang sangat jauh dari logika berpikir manusia. Tetapi sejarah membuktikan bahwa pekerjaan penyelamatan Tuhan sangat nyata dalam kehidupan umat Tuhan di dunia ini. Berulangkali umat Israel terbuang dan memang selalu ada niat bangsa-bangsa lain untuk melenyapkan mereka, tetapi tidak pernah terwujud. Di Mesir, di Babel dan di tengah bangsa-bangsa yang kuat mereka menghadapi ancaman eksistensial. Namun Tuhan senantiasa melindungi mereka dan menyelamatkan mereka.

Masih segar dalam ingatan masyarakat moderen apa yang terjadi dengan umat Israel di Jerman, ketika bangsa itu berada dalam masa Dritte Reich yang dipimpin oleh Adolf Hitler. Memang rencana besar Hitler adalah memusnahkan umat Yahudi di Jerman, Eropa, bahkan di seluruh dunia ini. Lebih 6 juta orang Yaudi dibunuh di kamp-kamp konsentrasi dan di berbagai tempat.

Sekali lagi Tuhan menunjukkan bahwa Dialah yang berkuasa di atas segalanya. Adolf Hitler hanyalah sementara. Kekuasaan Nazi hanyalah sementara. Tuhan menyelamatkan mereka. Umat Tuhan bangkit kembali. Mereka dipulihkan dan menjadi bangsa yang besar di seluruh dunia. Sekarang mereka juga membangun negara yang kuat dan disegani di dunia ini, yakni Israel yang sekarang dipimpin Perdana Menteri Benyamin Netanyahu.

Bersama Tuhan, umat pilihanNya akan bangkit dan berjaya, karena Tuhan memiliki rencana yang terbaik yakni damai sejahtera – hidup yang berkepenuhan bagi semua! Dengan visi besar ini, kita sebagai umat percaya harus hidup dalam pengharapan.

Pengharapan kita bukanlah pengharapan yang tanpa dasar. Pengharapan kita memiliki fondasi yang kuat baik secara historis, terutama secara teologis. Heilsgeschichte – Sejarah Keselamatan umat Israel telah membuktikan bahwa kasih, kebaikan, kekuasaan dan penyertaan Tuhan benar-benar nyata. UmatNya jatuh, bangun, dan dipulihkan hingga berjaya kembali. Itu terjadi jika umat itu dalam penyerahan diri yang tulus ikhlas kepada Tuhan.

Karena itu, sebagai umat pilihan Tuhan yang terpanggil menjadi berkat di negeri dimana Tuhan menempatkan kita; di keluarga dimana Tuhan menempatkan kita; di tempat kerja atau pelayanan dimana Tuhan menempatkan kita, dalam situasi dan kondisi apa pun dimana Tuhan menempatkan kita…kita harus tampil sebagai anak pilihan Tuhan: berdiri dengan kepala tegak, tampil percaya diri, bersemangat memberikan kontribusi terbaik.

Mari kita pergunakan waktu dan kesempatan yang Tuhan berikan, talenta yang kita miliki, keahlian, kekayaan, pengalaman hidup baik suka dan duka, manis dan pahit, semua eksistensi kita, mari kita gunakan untuk membangun negeri dimana kita berada!

Doa dan perbuatan kita harus selaras untuk kebaikan, kesejahteraan, kedamaian dan kepenuhan hidup bagi semua di negeri dimana kita ditempatkan oleh Tuhan. Berbahagialah saudaraku dan bersukacitalah mewujudkan panggilan yang Tuhan berikan kepada kita!

Tanggal 10 November yang lalu, kita mengingat Hari Pahlawan. Pahlawan adalah orang-orang yang telah memberkan kontribusi terbaik bagi negeri ini. Bahkan mereka mau berkorban demi kebebasan, kedamaian, kesejahteraan dan kebaikan bangsa ini. Sikap seperti itulah yang diharapkan dari setiap warga negara. Tuhan memerintahkan kita untuk memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara kita!

*) Penulis: Pdt. Dr. Deonal Sinaga, Praese HKBP Distrik XXI Banten

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *