Sorotdaerah.com – Annie Maria Napitupulu, guru PAUD di Medan menjuarai lomba menulis opini atau essay khusus guru yang digelar Perhimpunan Suka Menulis (Perkamen) tahun 2020. Naskahnya yang berjudul “Dilema Belajar Dari untuk Anak Usia Dini” mengungguli sekitar 50-an naskah para peserta.

Essay yang ditulis Annie Maria mengungkapkan satu persoalan besar pendidikan kita hari ini di masa-masa pandemi Covid-19. Bagaimana beban pendidikan kini bertumpu besar di pundak orangtua. Dan perhatian terhadap pendidikan anak udia dini di masa pagebluk ini kurang begitu disorot.

“Tulisan peserta bagus-bagus. Kami senang karena peserta sangat antusias. Tulisan yang masuk ada dari berbagai daerah, termasuk dari Papua,” kata Ketua Panitia Lomba Tulis Perkamen Christian Erlant Tampubolon, usai mengumumkan pemenang lomba, Sabtu (14/11/2020).

Di urutan kedua, naskah berjudul: “Mengarusutamakan Pendidikan Di Daerah Terpencil,” diulas secara apik oleh guru dari pelosok Kabupaten Lanny Jaya, Maruntung Sihombing. Lewat essaynya, Maruntung mengisahkan tentang kondisi pendidikan di daerah pedalaman, seperi Papua yang selama puluhan tahun kurang serius diurus. Anak-anak buta aksara jamak ditemukan, dan persoalan itu makin diperparah oleh kurangan tenaga pendidik.

Maruntung melihat, problem besar pendidikan kita salah satunya penataan dan pemerataan guru. Guru tidak tersebar secara merata mengakibatkan di perkotaan guru-guru menumpuk sedangkan di daerah pedalaman kekurangan guru. Itu menyebabkan, banyak sekali anak-anak kita tidak terlayani dengan baik.

Meskipun pemerintah kita telah menganggarkan dana 20 persen dari APBN pendidikan, hasilnya secara mutu, pendidikan kita masih jauh dari kata berhasil. Riduan Situmorang, juara ketiga, dalam essayanya bertajuk “Borosnya Dunia Pendidikan Kita” mengeritik tentang bagaimana anggaran pendidikan yang besar tanpa disertai target yang jelas sama saja dengan membakar-bakar duit. Mutu pendidikan kita kalah jauh dari negara tetangga, Singapura, yang hanya seluas kota Bandung.

“Kami tidak hanya menjaring tiga naskah pemenang. Kami juga mendapatkan ada tujuh naskah terbaik yang layak untuk dibukukan. Terima kasih atas antusias peserta. Tak lupa kami juga berterima kasih kepada para donatur yang telah mendukung suksesnya gelaar perlombaan menulis yang digelar Perkamen ini. Sangat kami apresiasi,” kata salah satu panitia, Pretty Luci.

Pendiri Perkamen Fotarisman Zaluchu, Ph.D mengatakan, masyarakat Indonesia perlu membangun sebuah peradaban yang menggunakan tradisi menulis sebagai dasarnya. Bangsa yang besar bukan cuma bisa maju dari aspek perekonomian, tetapi bangsa yang besar juga bangsa yang membangun tradisi menulis dan menjadikannya sebagai sebuah kekuatan yang besar.

Doktor yang mengecap pendidikan di negeri kincir air itu menambahkan, masyarakat kita perlu menyadari, bangsa-bangsa besar yang pernah ada, mereka mengandalkan menulis sebagai bagian dari peradaban. Melalui karya-karya tulis yang kaya, mereka mewariskan sejarah yang luar biasa beribu-ribu tahun kemudian.

“Persoalannya adalah sering sekali peradaban menulis ini hanya menjadi wacana dan tidak pernah menjadi sebuah pergulatan praktis. Oleh karena itu, marilah kita menjadikan Indonesia sebagai negara yang mengandalkan menulis sebagai kebudayaan baru,” ajaknya. (Penny)

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *