Oleh Penny Charity Lumbanraja

Penyelenggaraan perekrutan calon Aparatur Sipil Negara yang diselenggarakan di Indonesia baru-baru ini patut diancungi jempol. Siapa menduga, proses perekrutan Calon Pegawai Negeri Sipil (yang selanjutnya disingkat CPNS) yang berlangsung di tahun 2020 ini cukup menguras perhatian besar pihak pelaksananya. Penerimaan calon abdi negara di tengah gencar-gencarnya penyebaran virus Corona menjadi momentum bersejarah yang takkan terlupakan di Indonesia.

Sempat Terhenti

Sebenarnya kompetisi rekrutmen CPNS yang digelar di tahun 2020 ini merupakan penerimaan CPNS untuk periode tahun 2019. Sedari awal dimulai dari seleksi administrasi yang dibuka pada bulan November tahun lalu hingga pelaksanaan ujian Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) yang dimulai sejak Februari 2020. Jadwal penyelesaian tahap akhir ujian CPNS 2019 ini semestinya dilaksanakan sejak April 2020 lalu. Jadwal telah diatur secara rinci sebelumnya. Namun, pada bulan Maret lalu sejak adanya kasus pertama penyebaran virus Corona di Indonesia, program seleksi ini kian ditunda.

Penantian yang cukup panjang tentu dirasakan bagi para peserta ujian CPNS 2019. Tak sedikit diantaranya telah mempersiapkan diri, mental serta materi untuk menghadapi tahapan selanjutnya, ujian Seleksi Kompetensi Bidang (SKB). Bahkan dari awal ada yang rela membayar biaya para tutor yang mendampingi pembelajaran atau persiapan ujiannya secara matang. Namun, lagi-lagi karena virus Corona, segalanya menjadi terhenti.

Lama terus menunggu, informasi dengan pasti masih terus dipantengi peserta yang lolos ke tahap SKB. Hingga pada akhirnya penantian berbuahkan hasil ketika BKN mengumumkan bahwa seleksi penerimaan CPNS 2019 akan dilanjutkan setelah seleksi sekolah kedinasan diselenggarakan. Waktu penyelenggaraan tersebut pada bulan Juli 2020 hingga Agustus 2020.

Pencerahan dari pihak BKN ini tentu menjadi celah yang mengembalikan semangat para penantinya. Daya juang peserta ujian kembali dipacu. Namun, persiapan secara matang itu tak hanya milik pesertanya. Pihak BKN juga diperhadapkan dengan tantangan untuk membangun sistem ujian yang tidak menyimpangi protokol kesehatan. Rangkaian simulasi sistem dilaksanakan secara apik, mengingat sistem ini telah berhasil dicanangkan sebelumnya di waktu penerimaan calon mahasiswa sekolah kedinasan.

Pertandingan Dilanjutkan

Kompetisi yang melibatkan 5,5 juta pelamar ini memberi tantangan tersendiri bagi seluruh aparat penyelenggaranya. Ujian dilaksanakan dengan menjunjung tinggi keadilan, mulai penerapan sistem yang transparan, jujur, dan tentunya dapat dipertanggungjawabkan. Peserta ujian juga diberi kesempatan untuk menyanggah hasil yang diperoleh kepada pihak BKN, apabila terjadi kekeliruan yang tak terduga.

Jumlah peserta yang berhak lanjut ke tahap ujian SKB tidak hanya berdasarkan kelulusan nilai ambang batas (passing grade) SKD, melainkan harus dirangking sebanyak tiga kali formasi jabatan yang tersedia pada instansi tersebut. Jadi, meskipun lulus nilai ambang batas SKD, belum tentu dapat lanjut ke tahap berikutnya. Banyak peserta yang gugur pada tahap ini, hingga pada akhirnya sekitar 43,7 persen peserta SKD CPNS 2019 berhak berkompetisi kembali dengan setiap kompetitornya.

Proses SKB ini dilaksanakan pada awal September lalu hingga 12 Oktober 2020. Hanya berjarak 18 hari saja, tanggal 30 Oktober 2020, pemerintah mengumumkan para pemenang yang bakal menjadi calon abdi negaranya. Namun, sebelum waktu pengumuman sah tersebut berlangsung, para peserta sudah memperoleh gambaran hasil bakal siapa yang jadi pemenang akibat sistem transparansi yang telah disebutkan di awal.

Memang, peserta dapat memilih lokasi dimana dapat mengikuti ujian SKB-nya sedekat-dekatnya dengan domisili ia berada. Kebijakan ini ditetapkan oleh pemerintah di tengah pandemi tentunya membawa keringanan mental para peserta. Hal ini diterapkan untuk mengurangi intensitas pergerakan peserta apabila lokasi instansi yang dituju berjarak jauh dengan tempat tinggalnya. Bahkan berbeda provinsi dan pulau. Karena adanya perbedaan jadwal dan lokasi ujian antar pesaing, maka pihak BKN menerapkan sistem pantau nilai pesaing secara terbuka. Dikatakan terbuka artinya siapapun dapat mengakses nilai yang diperoleh secara online saat sedang bersaing. Penerapan sistem seperti ini tentu berbeda dengan sistem penerimaan CPNS di tahun-tahun sebelumnya, dimana peserta ujian wajib mengikuti ujian SKB ke lokasi atau daerah dimana dia memilih instansinya.

Kendatipun demikian, pihak BKN menjunjung tinggi keterbukaan tersebut, dimana pesaing dapat memantau hasil ujian pesaing lainnya secara online melalui situs channel YouTube masing-masing instansi ujian yang dituju. Hal ini dapat meniadakan kemungkinan terjadinya bentuk kecurangan-kecurangan yang tentunya merugikan pihak lain. Patut dikatakan bahwa negara ini berhasil menyelenggarakan sistem seleksi CPNS 2019 yang unik dan dengan tidak melupakan aturan kejujuran.

Kepada para pemenangnya, sepatutnya mensyukuri kesempatan yang diberikan untuk menjadi abdi negara yang berbudi dan berkesempatan untuk berinovasi memberikan kinerja yang terbaik bagi Indonesia. Namun, begitupun belum dapat bernafas lega. Tahap pemberkasan menjadi tantangan baru bagi CPNS dimana pada tahap ini, BKN harus benar-benar memastikan bahwa CPNS yang bakal dilantik harus bersih dari rekam jejak yang buruk. Mengapa dikatakan demikian?

BKN dengan ketat memantau bakal CPNS yang pernah terlibat dengan pidana hukuman (penjara), penyimpangan usia peserta yang berada di luar interval 18-35 tahun, kecuali yang peserta berusia di atas 35 tahun untuk jabatan fungsional dokter, dosen, perekayasa dan peneliti. Selain itu, BKN juga memastikan kembali bahwa sejak awal pelamar CPNS 2019 tidak boleh terlibat sebagai anggota partai politik. Jadi, masih besar kemungkinan dibatalkan kemenangannya sebagai CPNS apabila tersangkut dengan perbuatan menyimpang yang disebutkan di atas.

Abdi Negara yang Sepatutnya

Menjadi seorang abdi negara yang ditugaskan kelak bukanlah menjadi sesuatu yang kebetulan terjadi. Perjuangan untuk menjadi abdi negara yang memakan waktu hampir selama satu tahun ini memang telah terbayar. Namun, hal tersebut tidak menjadikan kita lengah untuk beristirahat melainkan semakin berdaya memberikan yang terbaik bagi negara. Menjadi abdi negara yang dipilih tentu bukan jadi menempatkan diri pada posisi yang nyaman. Akan tetapi, sepatutnya berjalan sevisi dan semisi dengan negara Indonesia untuk memperbaharui sistem pelayanan yang lebih baik, berkarya dan berkiprah untuk bangsa.

Sebagai ASN yang berbudi, sebaiknya menghindari diri dari hal-hal yang dapat menimbulkan perpecahan. Di era teknologi dan komunikasi yang maju, ASN dituntut untuk mawas diri. Tidak sembarang menyukai, membagikan, mengomentari dan lain sebagainya pada konten-konten media sosial yang tidak berguna. Semakin bijak mengelola akun sosial pribadi dan bersikap netral. ASN juga dalam menjalankan tugas dan fungsinya harus dilakukan secara total atau tidak asal-asalan. Berbudaya dan beretos kerja yang berorientasi pada pelayanan publik serta jujur terhadap diri sendiri.

Tantangan menjadi ASN di era milenial kini menempatkan diri menyediakan amunisi sebaik-baiknya. Amunisi yang dimaksud tak terbatasi, baik pengetahuan, pendidikan, pengembangan diri/profesi dan sikap berkinerja yang tanggung jawab. Niscaya, pembaharuan sistem ke Indonesia yang lebih baik dapat segera terjadi.

Penulis bergiat di Perhimpunan Suka Menulis (PERKAMEN)

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *