Oleh : Annie Maria Napitupulu

“History will judge us by the difference we make in the everyday lives of children.” Ungkapan Nelson Mandela ini layak jadi pengantar yang menohok. Maknanya amat dalam dan seharusnya membawa pada permenungan sudah seperti apa orang-orang dewasa memperlakukan anak-anak di sekitarnya.

Satu dari tiga penduduk Indonesia adalah anak-anak. Hal itu dituliskan dalam buku Profil Anak Indonesia 2019, hasil kerjasama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Badan Pusat Statistik. Namun anak-anak yang jumlahnya mencapai 30 persen dari total 250-an juta penduduk Indonesia, justru sering dimarginalkan. Musababnya bisa jadi karena ada anggapan bahwa anak-anak adalah kaum yang lemah, tidak bisa melindungi dirinya sendiri, dan belum tahu apa-apa.

Tidak heran mengapa tingkat kekerasan verbal maupun nonverbal pada anak masih menanjak naik. Yang dicatat oleh KEMENPPA, korban kekerasan menurut status usia yaitu dewasa sebanyak 43,3 persen lalu diungguli usia anak sebesar 56,7 persen. Memang miris melihat sajian data tentang kekerasan anak ini. Tapi yang perlu diketahui, tidak sedikit juga persoalan anak selain kekerasan yang jarang diangkat ke permukaan.

Hari Anak Sedunia yang jatuh pada tanggal 20 November tidak saja lahir dari pergulatan para tokoh dunia melihat kekerasan yang terjadi pada anak-anak. Tetapi juga oleh sebuah ide besar bahwa anak-anak adalah tunas yang menjamin kelangsungan eksistensi sebuah bangsa. Sehingga hak-hak anak ini perlu diupayakan, tidak hanya oleh orangtuanya, tapi oleh setiap orang dewasa yang setiap hari pasti bersinggungan dengan anak-anak.

Hak-hak anak

Terdapat sepuluh hak-hak anak menurut Konvensi Hak Anak PBB yang juga diakui oleh Pemerintah Indonesia, antara lain:Hak untuk bermain, mendapatkan pendidikan, mendapatkan perlindungan, mendapatkan nama, mendapatkan status kebangsaan, mendapatkan makanan, mendapatkan akses kesehatan, mendapatkan rekreasi dan mmendapatkan kesamaan hak untuk memiliki peran dalam pembangunan

Hak-hak anak ini merupakan bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin dan diperhatikan, bukan saja oleh pemerintah sebagai penyelenggara negara atau pembuat kebijakan, tetapi juga oleh setiap orang yang menganggap diri dewasa. Manusia dewasa tidak bisa melepaskan peran ini terlepas dari apapun yang menjadi profesinya.

Adalah bijaksana jika seseorang dapat melihat gambaran sebuah generasi di masa mendatang yang dipenuhi oleh orang-orang yang semasa anak-anaknya telah merasa ‘penuh’ dengan dirinya. Ia dimanusiakan sesuai dengan hakikatnya. Ia tumbuh jadi pribadi yang berkarakter kuat sehingga dapat membawa angin perubahan. Kemudian mereka mewariskannya pada generasi-generasi berikutnya.

Tapi permasalahan yang terjadi, orang dewasa sadar atau tidak, kerap kali menjerumuskan anak-anak pada banyak stigma yang keliru. Anak-anak, sadar atau tidak, mengadopsi stigma itu, menghidupinya, membentuk pribadinya, dan setelah tumbuh dewasa mewariskannya lagi ke generasi selanjutnya.

Orang dewasa harus ambil sikap

Alih-alih ingin mengubah kehidupan anak-anak di seluruh dunia, manusia dewasa hanya perlu mengubah cara pandang melihat anak-anak di sekitarnya. Jika diperhatikan, banyak perlakuan orang dewasa yang tidak memanusiakan anak-anak. Tidak hanya kekerasan secara fisik, nyatanya anak-anak juga banyak mengalami tekanan psikis yang jarang kita sadari.

Penulis mengajak para pembaca bercermin dari hal-hal sederhana ini. Seberapa seringkah melihat anak-anak yang mesti tumbuh dengan menghidupi mimpi-mimpi orangtuanya. Menanamkan ke otak anak bahwa anak yang pintar hanyalah yang jago Matematika. Memberitahu anak bahwa anak yang hebat hanyalah mereka yang selalu dapat nilai sempurna.

Anak-anak dipaksa untuk menerima bahwa mereka belum tahu apa-apa. Seakan-akan orang dewasa sudah paling tahu segala. Karenanya, anak-anak tak lagi diberi pilihan untuk melakukan sesuatu. Mereka menjadi pengikut setia orangtua karena takut disebut tidak berbakti. Anak-anak kehilangan ruang untuk mengekplor dirinya, kemampuannya, lingkungannya.

Dalam kasus yang lain, stigma negatif juga kerap kali diarahkan pada anak-anak berkebutuhan khusus/disabilitas, anak jalanan, anak penyintas HIV/AIDS, anak broken home. Bahwa mereka tidak punya harapan untuk hidup layak dan bermartabat. Bahwa mereka hanya jadi beban orangtua dan masyarakat. Secara khusus lagi, anak dengan kebutuhan khusus dilabeli sebagai anak yang tidak tercukupi nutrisinya selama dalam kandungan, sebagai anak hasil dari aborsi yang gagal, dan lain sebagainya.

Stigma-stigma negatif ini jika tidak diputus kelak akan jadi bumerang. Ini yang membuat manusia dewasa tumbuh tanpa mengerti identitas dirinya. Anak-anak seharusnya ditolong sejak dini untuk memahami keberadaannya. Dan salah satu hal yang mesti dilakukan oleh orang dewasa ialah mengubah cara pandangnya terhadap anak-anak.

Memanusiakan anak-anak

Kita mungkin sudah hapal betul sebuah nasihat: hargailah orang tua. Namun sejatinya, anak-anak, sebagai manusia, juga perlu dihargai eksistensinya. Memanusiakan anak-anak, ibarat menabur benih yang baik untuk kemudian kelak dapat dituai hasilnya.

Tidak meng-underestimate anak-anak, tidak memaksakan kemauan orang dewasa pada anak-anak, tidak berlaku dan berkata kasar pada anak-anak, adalah perilaku-perilaku terpuji yang jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, pasti membawa dampak baik bagi masa depan mereka.

Memberi ruang untuk anak-anak dapat mengembangkan dirinya, mengeksplor lingkungannya, mencapai yang diimpikannya, adalah satu di antara banyak lagi cara untuk menghargai keberadaan mereka. Bukankah anak-anak juga perlu merdeka sebagai manusia, tidak terkungkung dalam kerumitan serta kekeliruan berpikir orang-orang dewasa?

Benarlah yang dikatakan Nelson Mandela, bahwa sejarah akan menilai kita dari perbedaan yang kita buat dalam kehidupan sehari-hari anak-anak. Selamat Hari Anak Sedunia. (*)

*) Penulis bergiat di Perkamen

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *