“Setiap pertandingan adalah laga final,” prinsip yang dipegang oleh banyak pelatih sepak bola professional untuk memenangi setiap pertandingan.

“Setiap hari adalah hari terakhir,” prinsip yang dipegang oleh Steve Jobs untuk menghasilkan karya terbaik dalam sisa hidupnya. “Bagaimana jika hari ini adalah hari terakhir kita hidup di dunia ini?”

Steve Jobs, salah satu orang paling berpengaruh dalam perkembangan teknologi informasi seperti yang kita nikmati saat ini. Jobs mengatakan, “Menyadari bahwa cepat atau lambat kita akan mati, merupakan perangkat terpenting yang dapat membantu kita mengambil keputusan terpenting dalam hidup ini. Jika kita jalani hidup setiap hari, seakan-akan itulah hari terakhir kita, suatu saat kita akan bertindak benar, yakni melakukan apa yang terpenting saja…!”

Melakukan apa yang terpenting: paling baik, paling berharga dan paling mulia, itulah yang dilakukan oleh orang yang mengetahui bahwa itulah hari terakhirnya. Itulah yang dilakukan oleh Steve Jobs, sehingga menghasilkan produk-produk terbaik: computer Apple, iPad dan film animasi “Pixar.”

Orang seperti Steve Jobs tidak memiliki waktu untuk menghasilkan karya murahan dan yang tidak berguna. Dia tidak sempat melakukan hal yang sia-sia. Dia tidak memiliki waktu untuk melakukan yang tidak benar dan sia-sia: kebohongan, kebencian, kedengkian, iri hati, dendam dan semua perbuatan jahat yang akan membuat dia menyesal apabila menghadapi sidang pengadilan terakhir.

Sebaliknya, jika dia melakukan yang paling baik, paling benar dan paling mulia, apa pun yang ditanyakan kepadanya di pengadilan terakhir, dia tidak akan menyesal lagi. Sebagaimana tersingkap dalam pengajaran penting Yesus sebelum Dia menghadapi pengadilan dunia ini, sebelum dia dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman terberat (Capital Punishment) yakni salib, Dia mengajarkan sesuatu yang paling penting bagi setiap orang percaya.

“Bila sangkakala menggegap dan zaman berhenti, fajar baru yang abadi merekah; bila nanti dibacakan nama orang tertebus, pada saat itu aku pun serta. Bila nama dibacakan, bila nama dibacakan, bila nama dibacakan, pada saat itu aku pun serta”. Inilah keyakinan orang yang selama hidupnya menjalani hari-harinya bukan dengan kesiasiaan, melainkan dengan nilai, prinsip dan komitmen sebagaimana diajarkan oleh Yesus.

Yesus mengajarkan, segala yang kita lakukan di dunia ini akan tiba pada penghakiman terakhir. Tuhan tahu semua yang kita lakukan: yang baik dan yang jahat, yang putih atau hitam, yang penuh kasih atau penuh kebencian, yang sesuai dengan Firman Tuhan atau bertentangan dengan Firman Tuhan. Tidak ada yang tersembunyi di hadapan Tuhan. Seperti dalam ungkapan bahasa Batak “Patar do songon indahan di balanga.”

Orang bisa saja melakukan hal yang tidak benar ketika tidak ada orang melihat dan ketika tidak ada orang yang mengetahui. Orang bisa bersembunyi di balik topeng atau masker yang menutupi wajahnya. Orang bisa saja mengelabui semua orang lain dengan kecerdikan dan kelicikannya, sehingga tidak kelihatan perbuatan jahatnya yang mencelakakan diri sendiri dan orang lain serta menghinakan Sang Pencipta.

Namun hati tidak bisa berbohong. Di lubuk hatinya yang terdalam dia tahu bahwa apa yang dilakukannya itu salah. Terlebih, dia tidak bisa membohongi dan mengelabui Tuhan. Bagi Tuhan semua terang benderang: Dia melihat apa yang orang lakukan di tempat yang terang dan di tempat yang gelap, ketika dia di tengah keramaian atau sendirian di tempat yang tersembunyi.

Orang yang benar-benar percaya kepada Yesus (bukan sekadar Kristen), yang hidup menurut ajaran Kristus: mengasihi Tuhan dan sesama dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatan, akan berupaya melakukan hal yang benar, baik dan mulia setiap hari dan di setiap kesempatan. Karena itu, dia yakin bahwa bila nama dibacakan di hari penghakiman itu, namanya pun ikut serta.

Ikut serta dimanakah nama kita dibacakan? Masuk kelompok yang mana? Apakah masuk kelompok kambing atau domba? Masuk kelompok yang di sebelah kiri atau sebelah kanan? Masuk kelompok neraka atau kelompok sorga? Tentunya kita semua mengharapkan yang terbaik: ahli waris buah pohon kehidupan, upah abadi orang-orang tertebus, yakni kehidupan sorgawi. Pengharapan itulah yang membuat kita bertahan di dunia yang fana dan penuh penderitaan ini.

Kita berharap akan keselamatan dan hidup yang kekal, upah bagi setiap orang percaya yang diselamatkan oleh darah Kristus dan kasih karuniaNya yang tak terhingga. Orang-orang yang telah menerima anugerah Tuhan inilah yang hidup sesuai dengan panggilan Tuhan di dunia ini. Selama hidupnya dia berupaya hidup benar: jujur, berintegritas, menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran, sabar, tabah, penuh kasih, taat pada Firman Tuhan, peduli kepada sesama terlebih terhadap saudara yang miskin, lapar, haus, terpenjara, sakit dan termarginal.

Kepada orang-orang inilah Sang Raja berkata, “Mari hai kamu yang diberkati oleh bapaKu, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.”

Mereka tidak mengetahui perbuatan baik yang mereka lakukan kepada Tuhan. Namun sesungguhnya, selama hidupnya sebagai orang percaya, mereka menunjukkan kasih Kristus itu kepada sesama, yang jauh dan yang dekat. Mereka menunjukkan kasih, kebaikan, pertolongan, membela kebenaran, menjunjung tinggi keadilan. Upah mereka adalah SORGA.

Sebaliknya, kelompok orang-orang yang akan menerima hukuman dan kematian yang kekal merasa keberatan pada saat penghakiman itu. “Kapan Engkau Tuhan lapar dan kami tidak memberimu makan atau haus dan kami tidak memberimu minum?” Yesus mengatakan, “apa yang tidak kamu perbuat kepada salah seorang dari saudaraku yang hina ini, kamu tidak memperbuatnya kepadaKu.”

Mereka tidak menyadari perbuatan jahat mereka kepada Tuhan. Padahal, sewaktu mereka berkesempatan berbuat baik kepada sesama, mereka menyianyiakan kesempatan itu. Ketika ada kesempatan menolong orang sakit dan menderita, mereka tidak peduli. Ketika terjadi bencana alam: gempa bumi, tsunami dan banjir bandang, mereka tidak mau berbuat apa-apa untuk meringankan beban korban. Ketika ada orang yang tertindas dan mendapat perlakuan tidak adil, mereka bungkam seribu bahasa dan tidak mau berbuat apa-apa.

“Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan Dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga” (Mat. 7: 21). Kehendak Allah Bapa adalah mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa dan dengan segenap kekuatan, demikian juga mengasihi sesama seperti diri sendiri: memuliakan Allah, berbuat baik kepada sesama, terlebih peduli orang yang menderita, sakit, terpenjara, lapar, haus dan yang tertindas.

Saudaraku, kita memegang teologi sebagaimana diajarkan oleh Paulus dan dikembangkan oleh Martin Luther dan teolog-teolog reformasi. Bahwa kita selamat, bukan karena perbuatan baik kita, melainkan hanya oleh anugerah yang kita terima dengan iman, sebagaimana tertulis dalam Alkitab (Sola Gratia, Sola Fide, Sola Scriptura).

Pada waktu yang sama, orang yang benar-benar percaya bahwa dia telah menerima anugerah sebagaiman tertulis dalam Alkitab, akan hidup dalam ketaatan pada seruan Firman Tuhan untuk mengasihi Dia dan sesama. Orang beriman yang menerima anugerah Tuhan akan menunjukkan kasih, kemurahan, sukacita, kepedulian dan cinta kasih kepada semua orang.

Karena itu, berbahagialah saudaraku! Kitalah orang-orang yang Tuhan tebus. Bila nama dibacakan di masa penghakiman itu, kita pun akan ikut serta, karena darah Kristus telah menyucikan dosa kita dan Dia telah menganugerahkan kepada kita keselamatan dan kita hidup dalam iman akan anugerah Tuhan di dalam Kristus. (*)

Pengkhotbah : Pdt. Dr. Deonal Sinaga
(Praeses HKBP Distrik XXI Banten)

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *