Sorotdaerah.com- Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri yang mengizinkan pembelajaran tatap muka pada Januari 2021, harus direspon pemerintah daerah (pemda) dengan perencanaan yang matang. Sebelum membuka sekolah, pemda diharapkan memperbaiki penyelenggaran pembelajaran jarak jauh (PJJ). Salah satu poin penting yang harus dievaluasi adalah penggunaan kurikulum. Sejumlah keluhan dari orangtua dan murid menunjukkan materi PJJ masih sering memberatkan siswa.

GNI menemukan, materi dan metode belajar yang membosankan serta minimnya interaksi dengan guru, menjadi alasan utama siswa tidak selalu mengikuti PJJ. Biarpun siswa memiliki hp android dan kuota internet yang cukup, namun mereka tidak selalu tertarik ikut belajar. Dari 125 siswa yang memiliki hp android, hanya 29,60 persen yang setiap hari mengikuti pembelajaran. Sedangkan 70,40 persen pernah absen beberapa kali. Survei ini melibatkan 227 respoden yang berada di Medan dan Deli Serdang. “Itu terjadi karena masih ada guru yang  berusaha menuntaskan kurikulum 2013, sekalipun Kemdikbud sudah merilis kurikulum darurat atau kurikulum dalam kondisi khusus,” terang Anwar Situmorang Manajer Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI) Medan-Deli Serdang dalam jumpa pers di Medan, Senin (23/11).

Lebih lanjut Anwar mengatakan, kurikulum darurat didesain untuk mengurangi beban mengajar guru dan beban belajar siswa. Penyederhanaan kompetensi dasar dari setiap mata pelajaran, memberikan guru kesempatan lebih besar kepada guru untuk fokus mengajarkan kompetensi pra-syarat dan esensial. Kompetensi pra-syarat dan esensial, adalah kompetensi yang dibutuhkan agar siswa mampu belajar pada level pendidikan selanjutnya. Di tingkat sekolah dasar (SD), kompetensi ini merujuk kepada literasi, numerasi, dan karakter.

Sekalipun kurikulum darurat efektif mengurangi beban mengajar, namun masih banyak guru belum menggunakan kurikulum darurat. Survei Balitbang Kemdikbud yang diumumkan baru-baru ini, menunjukkan hanya 52 persen guru yang menerapkan kurikulum darurat. Kurangnya sosialisasi dan tidak ada kebijakan pemda untuk mengarahkan guru, merupakan dua faktor utama yang menghambat penggunaan kurikulum darurat.

GNI sebagai organisasi yang berfokus pada pemenuhan hak anak dan pemberdayaan masyarakat, mendorong pemda untuk menggunakan kurikulum darurat. Terlebih dalam menyambut SKB 4 menteri, penggunaan kurikulum darurat akan membantu pemda menyelenggarakan pembelajaran tatap muka yang lebih efektif. “GNI berkomitmen membantu pemda di wilayah dimana kami bekerja untuk menerapkan kurikulum darurat,” tambah Anwar.

Sebagai Langkah awal mendukung pemda menerapkan kurikulum darurat, GNI akan menyelenggarakan webinar nasional bertajuk Strategi Implementasi Kurikulum Darurat di Daerah. Webinar ini menghadirkan pembicara kunci dari Pusat Assessmen dan Pembelajaran (Pusmejar) Kemdikbud, Disdikbud Kabupaten Tana Tidung (KTT) dan jurnalis media nasional. 

Pusmenjar akan menjelaskan esensi kurikulum darurat. Melalui penjelasan ini pemda dan guru bisa lebih paham dalam menggunakan kurikulum darurat. Sedangkan Kabupaten Tana Tidung (KTT) dari Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), akan berbagi praktik baik penggunaan kurikulum darurat baik dari segi kebijakan dan implementasi di tingkat sekolah. KTT merupakan daerah pertama di Kaltara yang secara tegas menggunakan kurikulum darurat. Terobosan yang dilakukan KTT, membuat daerah ini dikenal inovatif dalam merespon pembelajaran di era pandemi COVID-19. Sedangkan jurnalis dari media nasional, akan mendorong peran media massa untuk mensosialisasikan penggunaan kurikulum darurat.

Gugah Nurani Indonesia adalah organisasi kemanusiaan non pemerintah yang bekerja sesuai dengan pilar-pilar SDGs (Sustainable Development Goals), terutama pada bidang yang berkenaan dengan pemenuhan hak-hak anak dan pemberdayaan masyarakat. Gugah Nurani Indonesia hadir untuk menciptakan dunia yang aman tanpa kemiskinan dan kelaparan, dimana anak-anak mendapatkan pemenuhan atas hak asasinya, membantu sesama yang menderita kemiskinan dan penindasan untuk mendapatkan kembali harapan hidup yang lebih baik dan mencapai kemandirian.

Anwar Situmorang Manajer Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI) Medan-Deli Serdang dalam jumpa pers di Medan, Senin (23/11).

Gugah Nurani Indonesia merupakan afiliasi dari Good Neighbors International yang berdiri di Korea tahun 1991. Gugah Nurani Indonesia bekerja di 15 proyek pengembangan komunitas dan tersebar di delapan propinsi yaitu Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan. (redaksi)

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *