Medan. Kabupaten Tana Tidung (KTT), Kalimantan Utara, menjadi salah satu daerah yang paling progresif menggunakan kurikulum darurat. Manajer Gugah Nurani Indonesia (GNI) Medan-Deli Serdang, Anwar Situmorang memuji KTT sebagai salah satu contoh baik pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di Indonesia.”Walau berada di pedalaman Kalimantan, KTT mampu melatih dan menggerakan guru menggunakan kurikulum darurat secara massif,” terang Anwar Situmorang dalam webinar nasional bertajuk Strategi Implementasi Kurikulum Darurat di Daerah yang difasilitasi GNI, Jumat (27/11).


Asdiana, guru SDN 001 Tana Tidung menyebut kekuatan implementasi kurikulum darurat di KTT terletak kepada dukungan pemerintah daerah (pemda). Disdikbud KTT tidak hanya mewajibkan guru menggunakan kurikulum darurat, tetapi juga menyediakan pelatihan dan pendampingan kepada guru. Pelatihan dan pendampingan dilakukan bersama Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI). Kegiatan ini berlangsung secara terus menerus melalui kelompok kerja guru (KKG).”Kebijakan ini membuat kami sebagai guru, lebih nyaman menjalankan program pembelajaran jarak jauh,” terangnya.

Asdiana, Guru SDN 001 Tana Tidung mempresentasikan Prkatik Baik Penggunaan Kurikulum Darurat di Kabupaten Tana Tidung (KTT), Kalimantan Utara. Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI) memfasilitasi webinar Strategi Implementasi Kurikulum Darurat di Daerah, Jumat (27/11).


Asdiana mengatakan ada empat manfaat penggunaan kurikulum darurat. Pertama, mengurangi kebingungan guru. Pada awal PJJ lalu, banyak guru bingung memilih kompetensi dasar (KD) untuk diajarkan kepada siswa. Sekalipun Kemdikbud memberi kebebasan kepada guru memilih KD, namun banyak guru yang tidak mampu melakukannya. Melalui pengurangan KD yang dilakukan Kemdikbud, guru menjadi terbantu.”Saya sendiri baru tahu kalau kompetensi di kurikulum 2013 bisa dikurangi. Sebelumnya saya tidak pernah mendengar istilah kompetensi pra-syarat dan esensial. Setelah mendapat pelatihan penggunaan kurikulum darurat, barulah saya tahu,” tukasnya saat mempresentasikan materi Praktik Baik Penggunaan Kurikulum Darurat.


Kedua, pengurangan KD membuat beban mengajar guru berkurang. Asdiana mengatakan, guru tidak perlu lagi mengajarkan banyak KD. Guru bisa fokus kepada kompetensi pra-syarat dan esensial. Kompetensi ini dibutuhkan untuk membangun keterampilan literasi, numersi, dan karakter siswa.”Ketiga keterampilan ini merupakan pondasi belajar yang dibutuhkan, agar siswa mampu belajar pada level pendidikan selanjutanya,” tambahnya.


Ketiga, selain kurikulum darurat, Kemdikbud juga menyediakan modul belajar numerasi dan literasi. Modul ini dirancang sistematik dan mudah digunakan. Konten modul secara spesifik membekali siswa dengan keterampilan membaca dan berhitung. Penggunaan modul ini bisa mengurangi beban belajar siswa. Termasuk mengurangi beban orangtua untuk mendampingi anak belajar. Mereka bisa mendampingi anak belajar kapan saja.


Keempat, jika biaya penggandaan modul terlalu mahal, maka guru dapat melakukan adaptasi sesuai kemampuan keuangan sekolah dan kebutuhan belajar siswa.” Di KTT, kami mengadaptasi modul belajar kedalam lembar aktivitas siswa (LAS). Adaptasi modul ini kami lakukan untuk memperkuat konten LAS yang sudah kami buat sejak Juni kemarin,” tambahnya.


Sofie Dewayani, tim ahli pembuatan kurikulum darurat dan modul belajar, Pusat Assessment dan Pembelajaran (Pusmenjar) Kemdikbud, mengapresiasi usaha KTT untuk memodifikasi modul belajar Kemdikbud. Ia mengatakan apapun bahan ajar yang dibuat Kemdikbud tidak harus dianggap sebagai satu-satunya materi belajar yang merefleksikan kurikulum. Ia mendorong guru dan pemerintah daerah untuk melakukan adaptasi bahan ajar sesuai kondisi daerah. Pelatihan dan pendampingan dapat dilakukan untuk meningkatkan kapasitas guru memodifikasi modul belajar Kemdikbud. (Redaksi)

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *