Bishop Desmond Tutu menuliskan, “Jika saudara memiliki pengharapan, saudara akan mampu melihat terang, sekali pun saudara dikelilingi oleh kegelapan.”

Ini adalah ungkapan hikmat yang sangat berharga – merupakan akumulasi pemahaman alkitabiah dan pengalaman empirik seorang hamba Tuhan yang taat dan setia, pejuang kemanusiaan dan kemerdekaan Afrika Selatan yang gigih, dan gembala umat yang merasakan penderitaan akibat pemerintahan apartheid selama bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun.

Di tengah masyarakat yang setiap hari harus menyaksikan penderitaan, kemiskinan, ketidakadilan, dimana pemerintahan minoritas kulit putih dengan sistim apartheid memperlakukan masyarakat secara tidak adil dan dengan penindasan, Bishop Desmond Tutu tampil sebagai gembala umat. Dia terpanggil memberitakan Injil. Dia terpanggil memberitakan kabar baik. Dia terpanggil menyebar pengharapan.

Apakah masyarakat yang sehari-harinya merasakan penindasan dan ketidakadilan masih tertarik mendengar Injil Yesus Kristus? Apakah orang yang sedang bergumul dengan kenyataan hidup yang penuh kegelapan mampu melihat terang sebagaimana Injil nyatakan? Apakah di tengah hidup yang demikian menyakitkan orang masih memiliki pengharapan, dan mampu berkata, “Semua ini akan berlalu dan akan indah pada waktunya?”

Itulah tugas berat yang diemban oleh Desmond Tutu sebagai seorang pemimpin, gembala, dan Bishop di Afrika Selatan di tengah perjuangannya bersama Nelson Mandela dan pejuang ANC lainnya untuk membebaskan Afrika Selatan dari pemerintahan yang bengis dan menindas (oppressive government). Desmond Tutu menyuarakan pengharapan. “Sekalipun kita dikelilingi oleh kegelapan, kita akan melihat terang, jika kita memiliki pengharapan.” Karena itu, pengharapan itulah kekuatan kita.

Saudaraku, kita sekarang sudah memasuki Minggu Advent dalam kalender gerejawi. Sebelum perayaan besar Natal – Kelahiran Juruselamat, kita akan melalui empat Minggu Advent. Advent berarti kedatangan yang menandakan kedatangan Tuhan – Juruselamat ke dunia ini. Umat Kristen menggunakan Minggu Advent sebagai persiapan menyambut Natal yang sesungguhnya.

Firman Tuhan pada Minggu Advent ini dari (Mazmur 24) mengingatkan kita akan kesiapaan kita menyambut kedatangan Tuhan. Bagian pertama Mazmur ini dengan tegas menyatakan bahwa Tuhan Allah menjadikan bumi beserta segala isinya. Dialah yang menjadikannya. Dialah pemiliknya. Dia memiliki otoritas penuh atas bumi dan segala yang ada di dalamnya.

Allah Pencipta memiliki kuasa dan kemuliaan yang demikian besar. Tak seorang pun yang layak untuk mendekat pada tahta kemuliaan Tuhan. Tidak ada yang pantas. Adakah orang yang memiliki hati yang murni dan tangan yang kudus yang layak naik ke tahta kemuliaan Allah? Tidak ada. Tetapi jika Tuhan berkenan, dengan kasih karuniaNya Dia dapat melayakkan kita.

Manusia dari zaman ke zaman, dari generasi ke generasi, sejak kejatuhan Adam-Hawa ke dalam dosa hingga saat ini mewarisi kelemahan laten dan dosa yang menghalanginya melihat kemuliaan Tuhan dan kasih karuniaNya. Pintu gerbang dan pintu yang berabad-abad itulah yang menjadi penghalang perjumpaan yang murni antara kita dengan Sang Raja Kemuliaan.

Apakah pintu gerbang dan pintu yang berabad-abad itu merupakan bangunan peradaban manusia? Apakah itu pencapaian dan karya umat manusia yang selalu dibanggakan dan terkadang didewakan? Apakah itu kebiasaan dan adat istiadat yang berkembang di tengah masyarakat dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia? Apakah itu ego pribadi, kesombongan, keangkuhan, pengalaman, pengetahuan dan kemampuan yang kita banggakan?

Apa pun itu pintu gerbang dan pintu yang berabad-abad, yang pasti itu sudah menjadi penghalang bagi kedatangan Sang Raja Kemuliaan. Karenanya, semua itu harus direposisi: diangkat, digeser, diubah, dipindahkan, supaya jangan seperti sediakala menghalangi kehadiran Sang Raja. Suara yang berseru-seru “Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk Tuhan, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! Setiap lembah harus ditutup dan setiap gunung dan bukit diratakan dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran” (Yes. 40: 3-4).

Tuhan semesta alam – Sang Raja kemuliaan akan masuk dalam hidup kita. Kita perlu mempersiapkan jalan bagi Dia. Sebagaimana kita menyambut kedatangan Sang penguasa – Sang Pemimpin yang memiliki otoritas tertinggi – yang berkuasa penuh atas hidup kita, kita harus mempersiapkannya dengan ketaatan, kesetiaan dan loyalitas yang tidak perlu dipertanyakan: kita harus melayani dengan segenap hati – Marhobas Sian Nasa Roha!

Saudaraku, Sang Raja kemuliaan demikian mengasihi kita. Dia ingin melakukan yang terbaik dalam diri kita, baik secara personal, keluarga dan komunitas. Dia datang ke dunia ini untuk menyelamatkan dunia ini. Dia datang dalam hidup kita untuk membaharui diri kita. Dia ingin agar kita membuka hati kita. Dia ingin agar kita mengangkat pintu hati kita atau apa pun yang menghalangi kedatanganNya, sebagaimana diungkapkan dalam pesan kepada jemaat Laodikia:

“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suaraKu dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku” (Wahyu 3: 20).

Saudaraku, marilah kita sambut Sang Raja dalam hati kita, keluarga kita, jemaat kita, komunitas kita! Jika kita membuka diri pada Sang Raja Kemuliaan, maka kita akan hidup dalam pengharapan. Realitas hidup sekarang ini akan berubah: Tantangan bisa menjadi kesempatan; kelemahan bisa menjadi kekuatan; penyakit dan penderitaan bisa menjadi kesembuhan; kesulitan bisa menjadi harapan; setiap situasi dan kondisi bisa menjadi kesempatan dimana kuasa dan kemuliaan Tuhan semakin nyata. Apa pun yang kita hadapi, bersama Tuhan, kita akan memiliki penghadapan!

Kata kunci dalam masa advent adalah pengharapan. Apa pun yang terjadi dalam hidup ini, terutama di masa-masa sulit seperti sekarang ini dimana kita masih harus menghadapi keadaan sulit karena pandemi virus corona, kita harus tetap ingat dan yakin bahwa Tuhan ada bersama-sama dengan kita. Keadaan akan berubah. Vaccine akan datang. Perekonomian akan bergulir. Keadaan akan lebih baik. Indah pada waktunya.

Tuhan tidak membiarkan kita tetap dalam ketakutan dan penderitaan. Dia merasakan apa yang kita rasakan. Dia juga bergulat dengan apa yang kita pergumulkan. Jika kita membuka hati kita dan mebiarkan Sang Raja kemuliaan memasuki relung hati kita dan menyambut Dia berkuasa atasnya, maka kita akan bangkit sebagai pribadi yang melihat realitas hidup kita dalam perspektif yang baru. Yakni, dalam terang kehadiran Sang Raja Kemuliaan!

Kita adalah umat yang berharap (we are the people of hope). Umat yang berharap mampu mengahadapi realitas dan tantangan kehidupan dengan perspektif yang berbeda, yakni perspektif yang optimis dan berpikir positif. Betapa pun susah dan beratnya kenyataan hidup, kita akan kuat menghadapinya. Jika kita membuka pintu hati kita dan membiarkan sang Raja berkuasa atas hati, pikiran dan jiwa kita, maka kita akan tampil sebagai pribadi yang tangguh.

Kita semua menghadapi tantangan dan persoalan hidup yang beragam. Tetapi jika kita hidup dalam pengharapan, kita akan menghadapi tantangan dan masalah, bukan sekedar untuk bertahan hidup, melainkan kita juga akan bangkit dengan inovasi dan kreativitas serta kekuatan baru.

“The future belongs to those who have hope.” Masa depan yang lebih baik dan lebih indah adalah miliki orang-orang yang berpengharapan. Terlebih bagi kita orang percaya – orang yang berharap akan Tuhan, masa depan yang lebih baik: kehidupan di dunia dan setelahnya menjadi milik kita. Karena itu, berbahagialah!

Pengkhotbah : Pdt. Dr. Deonal Sinaga
(Praeses HKBP Distrik XXI Banten)

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *