Oleh Lindung Silaban

“Semua pasti berlalu. Jalani saja,” kata Sri Melati.

Setiap hidup manusia memiliki kisah yang berbeda-beda. Setiap kisah itu memiliki makna yang dapat dijadikan pelajaran hidup.

Dalam kisah hidup itu juga dilukiskan sejuta nilai perjuangan hidup yang dapat diteladani.

Meskipun manusia itu sendiri memiliki keterbatasan, namun di dalam keterbatasan ada kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain.

Demikian juga dengan wanita yang satu ini. Ia satu dari ratusan juta wanita lainnya yang memiliki kisah yang memotivasi manusia lainnya. Siapakah dia?

***
Sri Melati, ia akrab disapa. Ia terlahir normal seperti insan lainnya di Medan 20 Januari 1988 dengan sempurna.

Sri Melati sedang mengerjakan tugas kuliah.

Ia tergolong anak pintar dan rajin belajar . Keuletan dan kegigihan belajar menghantarkannya hingga menyelesaikan pendidikan dari Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sumatera Utara (USU) pada tahun 2009 dan berhasil menyandang profesi dokter pada tahun 2010.

Ia merasa bahagia. Satu persatu mimpi berhasil diraihnya. Pada tahun yang sama setelah ia menjadi seorang dokter, dirinya mengabdi sebagai tenaga Pegawai Tidak Tetap (PTT) di Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga 2011. Hidupnya berjalan dengan mulus. Setiap rencana yang ia tuliskan terealisasi dengan baik.

Namun, pada tahun yang sama hidupnya berubah. Tak ada yang menyangka. Tidak seorang pun menduga secepat itu pula kehidupan itu berubah.

Pada tahun 2011 ia menderita penyakit tuberculosis pada otak. Ternyata penyakit itu sudah meradang tanpa ia sadari.

Karena penyakit ini, Imel harus dioperasi, tetapi Tuberculosis itu sudah menyerang pada bagain syaraf mata, hingga membuatnya mengalami kebutaan pada tahun 2012.

Sebelumnya, ia tak mengira dirinya mengalami kebutaan. Seolah harapan sembuh itu seribu kali hadir dalam hatinya. Ia menantikan kesembuhan matanya.

“Aku yakin mataku ini akan sembuh,” harapnya saat itu.

Perempuan berhijab ini meyakini matanya akan sembuh selama dua tahun ke depan. Setelah itu ia akan kembali melanjutkan mimpi-mimpi yang telah dirancangnya.

“Setelah sembuh, aku sudah merencanakan kuliah mengambil spesialis,” ungkap anak ketiga dari empat bersaudara itu.

Orangtuanya berusaha membawa Imel berobat kemana-mana. Rumah sakit mata terkenal di negeri ini pun sudah ia jalani.

Bahkan, konon rumah sakit mata terbaik di Singapura pun sudah mereka jajali demi kesembuhan matanya. Namun tak membuahkan hasil. Ia tetap buta.

Pada tahun 2015 ia membulatkan hati dan pikiran untuk berhenti berobat. Sepulang dari Singapura ia mengatakan pada orangtuanya supaya berhenti membawanya berobat.

“Cukup sampai disini, jangan suruh lagi aku berobat,” Kata Imel mengenang kejadian 5 tahun lalu.

Imel memiliki pribadi yang kuat. Ia mengubur dalam-dalam mimpinya jadi dokter spesialis. Akhirnya ia belajar menerima keadaanya.

Tahun 2016, tanpa ia sangka. Imel diajak oleh tentangganya bergabung dengan Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) di jalan Sampul nomor 32, Medan Sumatera Utara.

Di sana Imel bertemu dengan orang-orang tuna netra. Awalnya ia berpikir komunitas itu bukan bagiannya. Dirinya merasa Tidak nyaman.
“Aku tidak sama dengan mereka” katanya dalam hati saat itu.

Namun, esok hari tanpa ia dituntun oleh siapa pun, dirinya kembali mengunjungi sekretariat Pertuni tersebut. Sesungguhnya keluarganya selalu khawatir akan keselamatan Imel saat melakukan perjalanan kemana-mana, namun dirinya bersikukuh untuk pergi ke sekretariat Pertuni.

“Tanpa kusadari, ada kenyamanan yang kudapatkan dari komunitas itu,” ujarnya.
Sejak itu ia rajin mengikuti kegiatan Pertuni.

Imel memiliki prinsip hidup, yakni badai pasti berlalu dan selalu ada jalan dalam kebuntuan. Prinsip itu menjadi pegangan kokoh untuk bangkit dari keterpurukan itu.

Ia menyadari perjalanan hidup yang diberikan oleh Tuhan sudah bagus, namun saat itu jalan sempit sedang diperhadapakan pada dirinya. Bahkan batu besar sedang menghambat mimpinya.

“Aku sudah berjuang melompati batu besar yang menghambat jalanku. Kucoba cari jalan namun tak kunjung bisa kulalui. Aku berada pada kungkungan batu besar yang tak bisa aku lewati,” ungkapnya.

Namun, ia mendapatkan jalan keluarnya. Tuhan mengutus orang-orang hebat untuk menolong dirinya.

“Mereka (rekan guru) menjadi tangga buatku untuk melewati batu besar itu. Sehingga aku dapat keluar dari kungkungan itu,” kata Imel melanjutkan.

Imel menyadari jalan hidupnya sudah berubah. Mimpi lama sudah ia tinggalkan. Menjadi seorang dokter spesialis hebat telah ia kubur dalam-dalam. Kini dirinya menemukan hidup yang baru.

“Tempat yang baru itu ialah kehidupan dissabilitas,” katanya.

Imel bertemu dengan tiga orang guru hebat yang menunjukkan jalan baginya. Ketiga rekan-rekannya itu mengajaknya untuk bergabung sebagai tenaga pengajar di sekolah Dwi Tuna Harapan Baru. Inilah langkah awal baginya.

“Hari pertama ke sekolah, aku berpakaian laiknya seorang guru. Berpenampilan rapi. Aku sudah membanyagkan bagaimana guru di sekolah,” ucapnya.

Namun, semua itu di luar dugaan. Apa yang ia pikirkan itu tak seperti guru-guru di sekolah pada umumnya. Mereka justru tak memerlukan rok span atau sepatu. Melainkan berpakaian sederhana namun mendidik dengan tulus dan ikhlas.

Dirinya menyaksikan bagaimana guru-guru yang menyandang dissablitas tunanetra mendidik anak-anak tunanetra sekaligus dissablitas intelektual. Baginya ini hal luar biasa. Ia lantas kagum.

Menurutnya mereka (guru) adalah orang-orang hebat yang tak pernah sebelumnya ia temui.

“Aku tak menyangka mereka mengajari siswa tuna netra dan menyandang dissablitas intelektual. Anak-anaknya ada yang menangis dengan suara keras, ada yang berlari-lari dan ada yang merajuk,” ujarnya heran.

Menurutnya semua itu mustahil untuk dilakukan. Namun, ia menyaksikan betapa hebatnya Meraka. Hal inilah yang memotivasi dirinya menjadi seorang guru.

Imel merasa tak layak dirinya disebut sebagai guru. Karena menurutnya pekerjaan ini tak mampu ia lakukan.

Berkat motivasi rekannya, ia bergiat belajar untuk mendidik anak-anak dissablitas itu.

Setiap hari ia menempuh perjalan dari rumah sendiri tanpa di antar oleh orang lain. Baginya profesi dokter adalah masa lalu. Guru menjadi panggilan hidupnya pada masa kini.

Berkat keuletannya ia pernah dianugerahi sebagai wanita berpengaruh oleh salah satu Tv swasta di kota Medan.

Bahkan berkat kegigihannya belajar. Kini ia mendapat beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) S-2 di University College London (UCL) Belanda. Ia mengambil jurusan Pendidikan Luar Biasa.

Imel bermimpi suatu saat memperjuangkan hak-hak anak dissabilitas dalam menempuh pendidikan.

“Saya berharap suatu saat kami yang dissabilitas mendapat pendidikan layak yang didukung dengan infrastruktur yang memadai. Sebab selama ini anak-anak dissabilitas yang beradaptasi dengan sistem pendidikan kita,” pungkasnya.


Kita dapat belajar nilai kehidupan dari wanita hebat ini. Meskipun ia pernah terpuruk, namun ia bangkit untuk menjalani hidup yang lebih baik. Ia tak mau terkungkung dalam keterpurukannya.

Demikian juga dengan kita, sering sekali kita menangisi kemiskinan dan keterbatasan yang membuat kita tak berbuat apa-apa.
Kata bijak mengatakan “Jangan tangisi kemiskinanmu, tetapi tangisilah kebodohan dan kemalasanmu” (*)

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *