Oleh Januar Pasaribu

PERAYAAN Natal 2020 menjadi spesial karena pelaksanaanya ditengah pandemi Coronavirus Disaese 2019 (Covid 19). Perayaan yang mendatangkan massa seperti yang selama ini dilaksanakan dilarang karena disinyalir akan menambah claster baru Covid 19.

Spirit dan semangat Natal sudah terasa dimana mana. Persiapanpun sudah banyak dilakukan, baik oleh  parsahutaon atau kekerabatan di desa, marga, gereja dan kumpulan kumpulan lain. Bukan hanya dalam tahap persiapan saja, bahkan beberapa organisasi sudah ada yang selesai melakukan kegiatan Natal.

Protokeler kesehatan (Prokes) memang tak jarang terlupakan akibat perayaan. Padahal ini menjadi fokus utama dalam perayaan Natal tahun ini, menjaga agar penyebaran Covid 19 tak semakin melonjak.

Kondisi terkini mengenai pandemi Covid 19 memang memprihatinkan. Ambil contoh data yang dari Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Setidaknya menurut data terakhir sudah puluhan orang yang positif terpapar virus yang pertama kali terdeteksi di Wuhan, Tingkok ini.

Kondisi ini menjadi pergumulan bersama dan agar lebih mawas diri lagi kedepannya. Baik dalam persiapan maupun dalam pelaksanaan tetaplah mematuhi ptotokol kesehatan,. Jangan sampai perayaan Natal menjadi sumber cluster baru dalam penyebaran Covid 19 nantinya.

DPC GAMKI Kabupaten Dairi berharap, jadilah moment Natal ini menjadi acara  yang kudus. Kegiatan yang merefrensetasikan iman percaya kita kepada Yesus Kristus, bukan sebaliknya menjadi “batu sandungan”, dengan munculnya cluster baru covid 19 dari kegiatan ini.

Kegamangan dalam menghadapi persoalan ini juga akan mengakibatkan makna Natal tereduksi. Perlu pikiran jernih dan duduk bersama dalam mendiskusikan nya lebih lanjut. Untuk meniadakan perayaan Natal juga rasanya kurang tepat.

Konsep acara Natal itu idealnya disesuaikan dengan kondisi pandemi ini. Natal baiknya kita ubah dari bentuk perayaan menjadi ibadah biasa. Tentunya panitia mempersiapkan lebih, sehingga esensi tidak berbeda.

Kontak fisik secara langsung, baik melalui proses liturgis pemberian pengeras suara dan penyematan bunga atau pita didada biasanya dilakukan penerima tamu, perlu dikaji kembali dan dicarikan bentuk lain. Masker, hand sanitizer, dan tempat cuci tangan juga harus tersedia dengan baik.

Selain itu, yang tak kalah penting harus diperhatikan adalah jumlah peserta ibadah harus dibatasi. Sesungguhnya ini bukan lagi sesuatu yang baru, karena selama ini gereja juga sudah siap akan hal itu, pembatasan jumlah peserta ibadah memang sudah menjadi keharusan.

Penggunaan Live Streaming atau dalam bentuk lainnya dalam acara Natal perlu juga dilakukan. Tujuanya agar acara Natal yang sudah dibatasi jumlahnya itu dapat disaksikan lebih luas dengan media live streaming.

Akhirnya marilah kita semua umat gereja agar berhikmat dalam persiapan dan pelaksanaan Natal di tahun 2020 ini. Tuhanlah yang dipermuliakan. Syalom, Ora Et Labora.

Penulis Sekretaris DPC GAMKI Kabupaten Dairi 2020-2023

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *