Natal adalah hari paling penting dan dinanti-nantikan sepanjang tahun. Setiap orang, khususnya umat Kristen merindukan perayaan Natal. Apa pun latar belakangnya, bagaimana pun kondisi sosial, ekonomi, politik dan lingkungannya, setiap orang merasakan sesuatu yang berbeda pada 24 Desember.

Ada satu sukacita yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Karena itu, baik secara verbal atau melalui pesan SMS, WA, Instagram, Facebook atau media komunikasi lainnya, setiap orang mengungkapkan isi hati untuk berbagi sukacita dengan menyampaikan, “Selamat Ari Pesta! Selamat Natal! Merry Christmas! Feliz Navidad! Frohe Weihnachten!”

Apa sebenarnya yang terjadi pada malam Natal, sehingga setiap orang di seluruh dunia dapat merasakan sukacita besar? Menurut tradisi kekristenan, ada satu peristiwa besar, yang belum pernah terjadi dalam sejarah dan yang tidak akan terjadi lagi, hanya sekali untuk selamanya (once for all and forever), yakni kelahiran Sang Juru Selamat: Yesus Kristus, Allah yang menjadi manusia.

Pada malam itu, di Betlehem kota Daud, Maria melahirkan seorang bayi mungil dengan wajah yang bersinar sepertinya menyinari kegelapan dan menghilangkan segala keresahan, kegelisahan dan kekhawatiran. Allah memasuki sejarah dunia yang penuh kegelapan dan ketidakpastian, menghadirkan realitas baru yang penuh harapan dan kepastian akan makna dan arah hidup di dunia ini, yakni keselamatan.

Pada malam itu, di tengah kegelapan di daerah itu ada sekelompok gembala yang menggembalakan kambing domba dan ternak lainnya. Tiba-tiba berdiri seorang malaikat dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka yang membuat mereka ketakutan. Tetapi malaikat itu berkata, “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: hari ini telah lahir bagimu Juru selamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.

Dan tiba-tiba, tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

Para gembala itu berubah. Mereka mengalami transformasi di dalam dirinya. Jika sebelumnya mereka ketakutan, kini mereka penuh sukacita dan keberanian. Jika sebelumnya mereka merasa minder sebagai warga kelas bawah, tetapi kini mereka cukup percaya diri dan melangkah mantap. Jika sebelumnya mereka merasa tak berdaya, kini merasa kuat dan penuh semangat, seraya berkata, “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana..”

Mereka pergi dan menyaksikan semua yang disampaikan malaikat itu. Mereka melihat Sang Juru selamat dengan mata kepala sendiri. Mereka menyembahNya dan memuliakan Tuhan Allah. Mereka kembali dipenuhi sukacita dan kekuatan untuk memberitakan apa yang mereka lihat. Mereka memuji dan memuliakan Tuhan.

Inilah kisah singkat peristiwa Natal yang telah mengubah arah sejarah dunia dari kegelapan kepada terang, dari kekacauan menuju damai sejahtera, dari kehinaan menuju kemuliaan, dari ketidakpastian dan tanpa pengharapan kepada kepastian dan realisme yang penuh pengharapan.

“Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.” Inilah nubuatan Nabi Yesaya berabad-abad sebelum peristiwa kelahiran Yesus.

Umat Tuhan hidup dalam kegelapan. Bangsa Israel berada dalam ketidakpastian. Perang, kekalahan, penindasan, bahkan perbudakan ada di depan mata. Sejarah dunia nampaknya tidak berpihak kepada mereka. Mereka terpuruk dan kehilangan pengharapan. Tetapi suara nabi memberi secercah harapan. Seperti mercusuar di tengah lautan luas nan gelap, memberi sedikit petunjuk, bahwa masih ada harapan sang pelaut bisa sampai di daratan. Bangsa yang hidup dalam kegelapan melihat terang. Mereka melihat tanda-tanda kehidupan.

Suara Sang Nabi menjadi mercusuar yang memberi harapan, menunjuk arah berlabuh pelaut yang tengah berada di tengah lautan bebas yang sangat gelap. Itulah yang membangkitkan semangat, kekuatan dan sukacita. Umat Tuhan percaya akan suara itu, hingga mereka memiliki visi, bayangan bahwa kelak mereka akan kembali bersorak-sorai dan memiliki sukacita besar.

Demikian besarnya sukacita mereka seperti sukacita di waktu panen dan sorak sorai mereka seperti di waktu membagi-bagi jarahan. Mereka sepertinya telah melihat kemenangan dalam peperangan sehingga bisa membagi-bagi jarahan, dan mereka melihat masa damai dan ketenangan, sehingga mampu bercocok tanam dan menuai panen.

Semua ini terjadi, karena seorang anak lahir bagi umat itu, seorang putera yang diberikan, lambang pemerintahan ada di atas bahunya dan namaNya disebut Penasehat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang kekal, Raja Damai! Besar kekuasaannya dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas tahta Daud dan di dalam kerajaannya.

Realisasi visi besar nabi Yesaya ini terjadi dalam peristiwa Natal – kelahiran Sang Juruselamat – Yesus Kristus, Allah yang menjadi manusia dan berdiam di antara kita, dan kita melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Saudaraku, ungkapan lama “History repeats itself – sejarah yang sama terulang kembali.” Itu terjadi berulang kali. Dalam konteks kegelapan dan kekelaman dunia, itu adalah khabar buruk. Masa kegelapan, masa kekelaman, masa ketidakpastian, masa perang, bencana, kemiskinan bahkan kelaparan, dalam konteks global, sepertinya terulang di tahun 2020 ini.

Gambaran umum yang kita saksikan dalam dunia global: kerusuhan dan permusuhan terjadi dimana-mana, penindasan dan ketidakadilan, korupsi yang merajalela, pelayanan kesehatan yang semakin menurun, polarisasi politik termasuk di negara yang selama ratusan tahun mendengung-dengungkan demokrasi seperti Amerika Serikat, bencana alam, dan secara khusus pandemi virus corona yang mengancam kehidupan di seluruh dunia.

Dunia ini kembali berada dalam kegelapan dan kekelaman. Saya bukan melebih-lebihkan, tetapi itulah yang terjadi sejak awal tahun ini hingga sekarang.

Namun demikian, kita memiliki alasan yang kuat untuk berharap, untuk bangkit dan untuk melangkah dengan pasti, karena Sang Juru selamat telah lahir. Dia telah memasuki sejarah. Dia telah berada bersama-sama dengan kita. Karena itu seberat dan segelap apa pun realitas hidup yang kita hadapi, semua itu tidak akan mampu menghilangkan sukacita kita. Realitas dunia tidak akan mampu melumpuhkan kreativitas dan inovasi kita untuk berselancar di tengah gelombang kehidupan.

Kelahiran Kristus adalah jaminan bagi kita bahwa terang telah bersinar di tengah kegelapan. Karenanya, mari kita nikmati sukacita Natal. Mari bagikan sukacita Natal. Mari melangkah dengan iman, kasih dan pengharapan, sehingga kita pun akan bersinar! (*)

Pengkhotbah : Pdt. Dr. Deonal Sinaga, Kepala Departemen Koinonia HKBP

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *