OLEH: LEO AGUSTINUS SITANGGANG

SEIRING dengan perkembangan zaman dan teknologi, game online mulai muncul dengan banyak variasi yang semakin canggih. Permainan yang menyita banyak waktu serta mengasyikkan. Para pengguna Android beramai-ramai memainkannya. Permainan ini dimainkan oleh para pencintanya seperti yang sedang marak-maraknya saat ini Mobile Legends, Free Fire,PUBG, AOV dan banyak macam lagi.

Memainkan game online setiap saat sudah menjadi candu bagi anak-anak generasi millennial. Game online menunjukkan pada salah satu sejenis permainan yang dapat diakses melalui jaringan internet. Jadi, dalam permainan game online tersebut secara psikologis dapat membangkitkan gairah si pemain untuk terus bersemangat mengalahkan pihak lawan.

Menggunakan internet tanpa kendali dapat menyebabkan kecanduan. Salah satu dampaknya dapat kita sebut computer game addiction (candu main game). Memainkan permainan ini cukup menyenangkan dan menghibur. Akan tetapi, dampak negatifnya harus kita akui, memiliki sifat yang membuat penggunanya kecanduan. Tak hanya remaja yang diserang, bahkan sampai orang tua.

Banyak remaja yang memiliki waktu luang dan kebiasaan dalam bermain game, ini yang membuat mereka lebih banyak menghabiskan waktunya. Saat ada kesempatan yang dicari ialah bermain game online baik di rumah maupun di sekolah. Kebiasaan-kebiasaan yang membudaya ini membuat mereka kecanduan. Dampak terlihat sekarang. Para remaja sibuk dengan gadgetnya masing-masing dan semakin lama melupakan posisinya sebagai seorang pelajar.

Pendapat Griffiths dan Davies menyoalkan permasalahan ini. Mereka mengatakan bahwa ada enam aspek yang membuat remaja kecanduan game online yaitu salience, mood modification, tolerance, withdrawal symptoms, conflict, dan relapss. Banyak dampak negatif yang akan ditimbulkan dari game online ini, khususnya bagi anak-anak.

Dari segi kegiatan bersosialisasi, anak muda yang awalnya aktif di lingkungannya dan perduli dengan sesamanya berubah menjadi apatis (tidak perduli) dengan lingkungan dan orang-orang disekitarnya. Munculnya ketidakperdulian akan menyebabkan anak muda tersebut akan menarik diri dari pergaulan sosialnya sehingga mereka lebih bersikap individualis.

Awalnya, game online hanya dijadikan sebagai pengisi waktu senggang, penghibur di waktu penat, mencari teman baru, dan lain sebagainya. Namun, kini bermain game online beralih dampak menjadi sebuah kebiasaan buruk hingga menimbulkan ketergantungan bagi anak anak muda di Indonesia.

Dengan timbulnya sikap ketergantungan, banyak dampak yang ditimbulkan dari bermain game online tersebut. Anak muda yang telah mengalami ketergantungan dalam penggunaan game online tersebut berpengaruh pada kegiatan belajar serta kegiatan bersosialisasinya di dunia nyata. Karena anak muda yang sudah mengalami ketergantungan akan menjadikan game online tersebut sebagai prioritasnya, sehingga kegiatan belajar yang seharusnya menjadi prioritas utama akan diabaikan.

Berdasarkan data hasil survei yang dilakukan oleh Cigna, 42% orang Indonesia menghabiskan waktu lebih lama untuk bermain game online daripada melakukan hobi dan bersosialisasi dengan teman-teman. Hal ini juga tidak terkecuali pada anak-anak.

Orang yang sudah kecanduan dalam bermain game online dapat ditandai dengan beberapa sifat, antara lain merasa gelisah dan mudah marah apabila tidak diijinkan bermain, selalu ingin main game terus menerus dan susah bila disuruh berhenti, tidak peduli dengan orang-orang di sekitar, bahkan enggan untuk bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya.

Dampak bagi kesehatan si pemain juga digerogoti. Mereka menjadi mudah mengalami migrain serti sering merasa lelah, pandangan mata mulai terganggu akibat terlalu lama memandang layar komputer atau gadget.

Pola pikir anak yang sudah kecanduan game online berbeda dengan anak yang tidak kecanduan. Anak yang sering bermain game online akan memiliki efek kecanduan. Efek tersebut akan memberikan dampak pada karakteristik seperti, pemalas, ambisius, anti sosial dan perilaku seperti suka lupa waktu, pemalas, dan lain-lain.

Game online dapat menyebabkan semakin sedikitnya waktu untuk berinteraksi dengan orangorang dalam dunia nyata. Kondisi ini tentu tidak baik bagi keberlangsungan hidup bermasyarakat. Hal ini mengingat interaksi sosial itu penting dalam hal untuk saling mempengaruhi, mengubah, memperbaiki, juga mewarisi sikap,nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.

Game online, bisa saja dikatakan mempunyai aspek interaksi sosial, namun orientasi puncaknya adalah permainan itu sendiri. Untuk mencegah terjadinya kecanduan pada remaja atau anak-anak di sekitar kita, seharusnya dilakukan komunikasi atau kepedulian terhadap kondisi ini dari pihak keluarga, sekolah dan pemerintah.

Keluarga sebagai tempat belajar yang pertama dan utama bagi anak-anak sebaiknya memberikan contoh yang nyata untuk meningkatkan rasa tanggung jawab anak-anak terhadap dirinya sendiri dan orang lain. Bagi orangtua, hal itu bisa dilaku kan dengan membuat batasan waktu bagi anak-anaknya dalam mengakses internet, khusunya game online.

Orang tua juga harus lebih lagi menunjukkan kepedulian terhadap tingkah laku atau keseharian anak-anak saat di rumah maupun luar rumah. Rasa peduli, perhatian dan kasih sayang yang diberikan dalam keluarga akan menciptakan kondisi rumah yang harmonis yang pada akhirnya akan membuat pribadi anak-anak menjadi lebih bertanggung jawab dan jujur.

(*) Penulis adalah mahasiswa Program studi Matematika, FMIPA Universitas HKBP Nomensen Pematang Siantar

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *