Sorotdaerah.com – Melawan penyebaran penyakit Covid-19 sebenarnya mempromosikan gaya hidup baru, yaitu 3M. Perilaku 3M itu adalah memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. Namun, masih tingginya angka penularan memperlihatkan bahwa promosi 3M ini belum membudaya. Perilaku masyarakat masih banyak yang belum patuh pada penerapan 3M.

Keberhasilan 3M bukan pada banyaknya iklan mengenai 3M, bukan pada banyaknya tokoh masyarakat yang menganjurkan, juga bukan pada biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk sosialisasi 3M. Semua produk, sifatnya sama, yaitu bahwa terjadi transformasi konsumen. Maka dalam ilmu kesehatan masyarakat, dengan adanya promosi 3M, ukuran keberhasilannya ada pada jumlah orang yang menerapkan 3M.

Ada hal yang selama ini belum disentuh. Yaitu pada upaya menyadarkan masyarakat mengenai keuntungan menerapkan 3M. Dalam bahasa pemasaran sosial, ini disebut benefit. Selama ini, masyarakat masih menganggap bahwa menerapkan 3M akan menyita waktu mereka, menganggapnya sebagai gangguan, bahkan mungkin memalukan. Sektor kesehatan masih belum mempromosikan bahwa dengan menerapkan 3M, ada benefit besar yang diperoleh masyarakat.

Selama ini pemerintah memang telah mencoba mendorong kesadaran masyarakat untuk “peduli” dengan cara memberikan data-data mengenai semakin beratnya pelayanan di rumah-sakit karena semakin banyak orang yang harus ditolong.

Tetapi terlihat bahwa kampanye dengan “hanya” mempromosikan benefit “menyelamatkan orang lain” dan atau “menyelamatkan beban layanan kesehatan”, masih belum menemukan tempatnya. Masyarakat umumnya masih beranggapan bahwa mereka tidak bisa menghitung benefit sosial tersebut karena berjarak dengan kehidupan mereka.

Pemerintah perlu menggenjot metode pemasaran sosial lain, yaitu dengan mengartikulasikan benefit pribadi. Benefit itu berupa kesehatan diri dan keluarga yang tentu tidak bisa dinilai. Jika seseorang sehat maka ia akan mampu bekerja dengan baik, menghidupi keluarga dan menafkahi anggota keluarganya.

Belum lagi benefit karena tidak sakit, sehingga tidak ada pengeluaran yang tidak perlu. Dan, benefit yang tidak kalah penting adalah waktu yang dapat dimaksimalkan untuk keluarga. Sebaliknya, seluruh benefit tersebut akan hilang, jika terkena Covid-19, apalagi jika sampai fatal.

Benefit-benefit di atas dapat dihitung dan masyarakat dapat menggunakannya sebagai referensi di dalam mempraktikkan 3M. Kita harus menciptakan cara mengubah perilaku masyarakat dalam menerapkan 3M ini. Kita sedang berkejaran dengan waktu. Jika tidak, Covid-19 ini akan semakin meluas.

(Prodi Magister Kesehatan Masyarakat, Inkes Sumut)

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *