TUHAN ALLAH memberi kekuatan kepada yang lemah, pengharapan kepada yang putus asa, niat untuk bangkit bagi yang jatuh dan semangat bagi yang terpuruk (Baca kitab Yesaya 40: 27-31).

Siapakah dan apakah yang saya andalkan dalam hidup ini? Salah satu pertanyaan mendasar dan terpenting dalam hidup ini. Jawaban terhadap pertanyaan ini menentukan segalanya. Respons apa pun terhadap pertanyaan ini akan menentukan orientasi dan arah perjalanan hidupnya.

Ini bukan sekadar asumsi atau prasangka, melainkan fakta. Kita bisa menemukan fakta itu dalam kisah-kisah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dalam catatan sejarah dan kesaksian hidup banyak orang beriman dari gereja mula-mula hingga di zaman milenium ini. Saya berharap saudara juga telah mengamatinya dalam perjalanan hidup saudara.

Siapakah atau apakah yang saya andalkan dalam hidup ini? Orang yang mengandalkan “dunia” ini dalam hidupnya, cepat atau lambat, sadar atau tidak sadar, akan menemukan dirinya dalam kekecewaan dan penyesalan. “Dunia” yang dimaksudkan di sini adalah segala sesuatu yang ada di dunia ini, selain Tuhan Allah: Bapa, Anak dan Roh Kudus.

Semua kekayaan, kekuasaan, posisi atau jabatan, teman, koneksi, kemampuan, kepintaran, bahkan kebaikan diri sendiri, keluarga, harta warisan, yang dapat “menggeser” posisi Allah dalam hidup seseorang. Itu adalah dunia. Kita tidak boleh dan seharusnya jangan mengandalkan itu semua.

Salah satu penentu dalam Gerakan reformasi gereja yang dimulai oleh Dr. Martin Luther berakar pada jawaban yang dia temukan terhadap pertanyaan ini. Pergumulan akan apa dan siapakah yang dapat diandalkan dalam hidup ini? Dia bergumul hingga bathinnya tersiksa. Pengajaran gereja yang mengatakan, kuasa Paus dan kebajikan serta kekudusan diri sendiri sangat menentukan keselamatan seseorang.

Dia bergulat dengan dirinya sendiri hingga dia tersungkur ke tanah. Dia bergumul demikian dalam hingga seperti orang gila. Hatinya tidak damai. Jiwanya gundah gulana, sampai pada akhirya dia temukan kesalahan fatal dalam hidupnya dan dalam gerejanya. Kesalahan itu adalah bahwa gereja dan Martin Luther sendiri telah mengandalkan “dunia” ini.

Sebaliknya, orang yang benar-benar dari lubuk hatinya dapat menjawab bahwa Tuhanlah yang dia andalkan dalam hidup ini, apa pun yang terjadi dalam hidupnya dan di dunia ini, hatinya akan damai, jiwanya akan tenang. Hatinya damai, karena dia telah mengandalkan Tuhan, dan bukan “dunia” ini.

Itulah yang secara eksplisit dan implisit tersingkap dalam nats hari ini dari kitab Deutero – Yesaya. Kitab Deutero-Yesaya ditulis pada masa pembuangan dan ditujukan kepada umat Tuhan yang sedang menderita. Mereka mengerang karena beratnya hukuman yang mereka terima dalam pembuangan Babel. Untuk menguatkan mereka dan memberi mereka pengharapan, Yesaya menyampaikan nubuatan tentang janji keselamatan Tuhan kepada mereka.

Tuhan menghukum mereka karena dosa dan pelanggaran mereka, bukan hanya satu dua tahun, melainkan bertahun-tahun hingga tujuh puluh tahun. Seperti yang dialami bangsa kita pada masa penjajahan Belanda, demikianlah umat Israel dipaksa untuk bekerja, mereka diperbudak dan sering diperlakukan tidak manusiawi. Mereka menangis dan meratapi nasib mereka yang begitu memilukan hati.

Apa boleh buat? Itu adalah konsekwensi perbuatan mereka. Mereka sering menyimpang dari Firman Tuhan. Mereka tidak taat dan setia terhadap Hukum Taurat. Bahkan mereka sering berpaling dari Allahnya Abraham, Ishak dan Yakub dan mengalihkan hati dan kepercayaan mereka kepada “dunia ini” : ilah dan allah yang bukan Yahweh.

Kini di Babel tujuh puluh tahun lamanya, mereka harus menderita. Mereka menangis serta menyesali perbuatan mereka. Mereka harus merasakan pahitnya konsekwensi dari dosa mereka. Mereka mulai sadar akan kekhilafan mereka. Tetapi tidak banyak yang dapat mereka lakukan. Pilihan bagi mereka sangat terbatas, bahkan hampir tidak ada. Hanya satu kemungkinan bagi mereka untuk dapat selamat, yaitu bertobat dan berbalik kepada Tuhan serta hanya mengandalkan DIA dalam segenap hidupnya! GOD alone can rescue them!

Umat Israel harus mau dengan tulus dan dengan iman yang tidak tedeng aling-aling menyatakan, “Tuhan ialah Allah kekal, yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertianNya. Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.

Pengakuan akan eksistensi Tuhan yang tiada tara, yang menjadikan segalanya dan yang berkuasa atas segalanya adalah pijakan berpikir dan fondasi beriman yang sangat kokoh dan solid, sehingga tidak ada ruang dan kesempatan bagi allah, ilah duniawi. Sebagaimana pernyataan pertama dalam Pengakuan Iman Rasuli: Aku percaya kepada Allah, Bapa yang mahakuasa, khalik langit dan bumi.

Hal ini berarti, bahwa tidak ada allah atau ilah lain di dalam hidupku. Tidak ada kuasa dan kekuatan lain yang melebihi Tuhan Allah Yahweh yang dapat mengisi dan berkuasa atas hidupku. Tidak ada otoritas atau pengaruh lain yang dapat mengendalikan kehidupanku. Tidak ada “dunia” yang berkuasa atas hidupku. Aku adalah orang bebas – bebas dalam naungan cinta dan kuasa Allah saja.

Sekali pun aku jatuh, sekali pun aku terpuruk, aku tidak akan berpaling dariNya. Aku tahu, bahwa di waktu yang tepat dan pada kesempatan yang tepat Dia memberi kekuatan dan semangat yang aku butuhkan.

Sebaliknya orang muda dan teruna akan lelah, lesu dan tersandung. Orang muda dan teruna merupakan ungkapan alegoris terhadap kekuatan dunia yang diandalkan. Jika ada perang atau pekerjaan yang membutuhkan tenaga, kekuatan dan ketangguhan, maka yang diandalkan adalah orang muda dan teruna. Namun dalam kenyataannya, mereka juga sangat terbatas. Dalam waktu yang tidak lama mereka akan lelah dan lesu, bahkan bisa saja tersandung. Karena itu kita tidak dapat mengandalkan mereka.

Jika demikian, siapakah yang dapat kita andalkan? Berbahagialah orang yang mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

Di sinilah perbedaan yang sangat kontras antara yang mengandalkan TUHAN ALLAH dan mengandalkan “dunia”:

Orang yang mengandalkan dunia akan sampai pada titik klimaks dan anti-klimaks. Orang muda, teruna, orang pintar dan perkasa akan sampai pada puncak kemampuan mereka. Cepat atau lambat mereka akan tiba pada anti-klimaks. Semakin menurun, merosot hingga tidak dapat berbuat apa-apa. Demikian juga dengan karir dan capaian di dunia ini, semau itu akan berakhir.

Sebaliknya orang yang mengandalkan Tuhan akan senantiasa kuat dan kokoh, karena kekuatan mereka bukanlah pada diri mereka sendiri. Kekuatan mereka terletak pada penyerahan diri pada kuasa TUHAN ALLAH. Kuasa Tuhan itu unlimited – tanpa batas. Orang yang mengandalkan Tuhan, sekali pun tubuhnya termakan usia, tetapi kekuatannya tidak habis-habisnya.

Semakin tua dia semakin kuat, semakin semangat dan semakin berhikmat. Bahkan di depan kematian pun dia tetap kuat dan mampu melayani dengan sukacita dan dengan segenap hati. Dia tetap tampil tangguh dan percaya diri: kuat, elastis dan tahun uji. Dia senantiasa mendapatkan kekuatan baru.

Orang yang mengandalkan Tuhan mampu membawa perubahan di dunianya. Dia memengaruhi lingkungannya, bukan lingkungannya yang memengaruhi dia. Sekali pun dia berjalan dalam lembah kekelaman, dia tidak takut bahaya karena Tuhan beserta dia. Dia tetap tampil prima, termasuk di tengah kegelapan dan kekelaman hidup.

Admiral William McRaven mengatakan, “If you want to change the world, you must be your very best in the darkest moment – Jika anda ingin mengubah dunia, anda harus dalam kondisi prima (yang terbaik) di waktu paling gelap!” Orang yang mengandalkan Tuhan akan senantiasa dalam kondisi prima, sekali pun dia dikelilingi kejahatan dan kuasa dunia. Karena apa?

Karena kehadiran Tuhan. God is there. Tuhan ada di sana. Di kala Tuhan hadir, neraka pun bisa menjadi sorga. Tempat paling menyakitkan sekali pun bisa menjadi tempat paling membahagiakan.

Karena itu, orang yang mengandalkan Tuhan dalam hidupnya tidak akan pernah menyesal. Karena dia tahu itulah jalah hidup paling baik. “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dia gunung batuku, hanya Dia kota bentengku. Aku tidak akan goyah selama-lamanya (Bnd. Maz 62: 2-3).

Dear friends, I wish you a wonderful Sunday. Our Lord is our strength and our fortress. Let us put our trust in the Lord wholeheartedly. We can rely on HIM only! Be happy and smile!

Pengkotbah: Pdt. Dr. Deonal Sinaga (Kadep Koinonia HKBP)

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *