“What’s So Amazing About Grace – Apa Yang Menakjubkan Dengan Anugerah itu?” Itulah judul buku karya penulis ikonik Philip Yancey. Ini adalah pertanyaan yang Yancey jawab sendiri sepanjang buku itu didasarkan pada pengalaman personal dan komunal. Ulasannya juga didasarkan pada pernyataan-pernyataan teologsi dalam Alkitab.

Sungguh kita kan terkagum-kagum membaca, mendengar dan merenungkan kisah-kisah yang tanpa bimbang dan ragu menyaksikan kuasa kasih karunia Tuhan dalam perjalanan hidup orang-orang beriman. Ungkapan Sola Gratia yang terkenal itu menjadi salah satu pilar gerakan reformasi yang dimulai oleh Dr. Martin Luther dengan ditempelkannya 95 Dalil reformasi di depan pintur gereja Wittenberg – Jerman.

Sola Gratia – Hanya oleh anugerah kita diselamatkan. Perbuatan dan kekudusan personal tidak mungkin mampu membawa kita pada keselamatan. Usaha dan kebaikan apa pun yang kita lakukan tidak mungkin mampu mengangkat kita dari lumpur dosa dan dari dari lembah maut dan kekelaman. Mimpi buruk akan datangnya hari penghakiman dan kematian senantiasa menghantui pikiran dan perasaan Luther, sampai dia temukan kebenaran dalam Alkitab, bahwa anugerah Tuhanlah yang memungkinkan kita beroleh keselamatan.

Anugerah inilah yang memberi Martin Luther kekuatan, pengharapan dan semangat untuk melanjutkan perjalanan hidup di dunia yang fana ini. Bukan sekadar hidup, tetapi dia mengisinya dengan penuh makna. Dia mencurahkan segenap hidup dan waktuNya untuk melayani Tuhan dan sesama melalui reformasi gereja. Dia menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa yang dimengerti masyarakat Jerman, menulis banyak buku dan artikel, menggubah banyak lagu, salah satunya nyanyian yang terkenal itu, BE 117 “Jahowa Debatanta Do…”

Amazing Grace mengajarkan, bahwa Tuhan memiliki rancangan damai sejahtera dalam hidup kita, dan bukan kebinasaan, untuk memberi masa depan yang penuh harapan. Dia mendengar orang yang berseru kepadaNya. Dia akan menunjukkan diriNya kepada orang yang mencari Dia dan yang dengan segenap hati menanyatakan tentang Dia (Bnd. Yer. 29).

Kitab Yunus menyaksikan betapa anugerah Tuhan sungguh mengagumkan. Kisah Yunus yang terkenal dan mudah dipahami – bahkan anak-anak sekolah minggu mudah menangkap pesan dari peristiwa ‘Yunus di perut ikan besar.” Tuhan memanggil dia untuk pergi dan menyerukan pertobatan kota Niniwe – kota dimana penduduknya berlumur dosa dan kejahatan. Tetapi Yunus membangkang, dia melawan Tuhan dengan mencoba melarikan diri dari hadapan Tuhan.

Dia berencana pergi ke Tarsis, menjauh dari hadapan Tuhan. Dalam perjalanan ke Tarsislah terjadi badai ombak yang memaksa semua orang di kapal itu melemparkan dia ke dalam laut. “Dari kesusahanku aku berseru kepada Tuhan, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak; telah terusir aku dari hadapan mataMu; Ketika jiwaku letih lesu, teringatlah aku kepada Tuhan dan sampailah doaku kepada-Mu.”

Jika Tuhan telah menetapkan, tak ada yang dapat menghalanginya. Jika Tuhan telah membuka pintu, tak ada yang dapat menutupnya. Jika Tuhan telah merencanakan, tidak ada yang dapat menggagalkannya. Firman Tuhan harus sampai kepada orang-orang yang Tuhan telah rencanakan untuk mendengarkannya. Penduduk Niniwe yang telah berlumur dosa dan berlaku jahat dalam kesehariannya harus mendengarkan seruan pertobatan dan mereka akan diselamatkan.

Sekali pun Yunus mencoba menolak untuk memberitakan itu, tetapi tangan Tuhan tetap menuntun dia untuk pergi kesana. Sekali pun dia di tengah lautan dengan tujuan ke kota lain, namun Tuhan mengutus ikan besar untuk membawa dia berbalik arah dan dia harus sampai ke tujuan yang Tuhan telah tentukan. Itulah yang terjadi, maka di kota Niniwe, Yunus berseru,

“Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan.” Pesan singkat dan jelas. Seluruh penduduk Niniwe mendengar suara nabiah ini. Mereka sadar akan keberdosaan mereka. Mereka tahu bahwa mereka penuh kejahatan: berpikir dan bertindak koruptif, menindas orang lemah, melakukan ketidakadilan dan jauh dari Tuhan.

Sekarang mereka merasa terancam. Mereka merasa dipojokkan. Mereka tahu, bahwa alasan penghukuman atas mereka sudah sangat kuat. Menyangkal tidak ada gunanya, apalagi membela diri. Mereka sadar, bahwa satu-satunya jalan yang mungkin mereka tempuh adalah mengaku salah dan bertobat. Karena itu, menyikapi seruan nabiah yang disuarakan Yunus, mereka mengumumkan hari-hari untuk berpuasa dan mengenakan kain kabung.

Bahkan Raja mereka, ketika mendengar itu, turun dari singgasananya dan menanggalkan jubah kebesaran raja dan mengenakan kain kabung dan duduklah dia di abu. Para pembesarnya memaklumkan, “Manusia dan ternak. Lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa. Tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air.” Semua harus berselubung kain kabung dan berseru kepada Tuhan Allah, dan bertobat dari dosa dan kejahatannya.

Menyaksikan semua itu, hati Allah luluh. Anugerah ajaib nyata. Niniwe selamat. Penduduknya hingga rajanya bertobat dan mengakui kebesaran dan kekuasaan Tuhan. “Ajaib benar anugerah pembaru hidupku! ‘Ku hilang, buta, bercela, olehnya ‘ku sembuh. Ketika insaf, ku cemas, sekarang ku lega! Syukur, bebanku t’lah lepas, berkat anugerah!” Kesaksian John Newton yang sangat menyentuh hati sanubari lewat lagu ‘Amazing Grace.”

Saudaraku yang terkasih, jika kita menyadari betapa besar anugerah Tuhan, tidak ada lagi yang dapat kita lakukan selain bersyukur dan mengungkapkan rasa syukur itu melalui nyanyian pujian dan komitmen untuk melakukan yang terbaik bagi Tuhan dan bagi sesama – Melayani dengan segenap hati (Marhobas sian Nasa Roha!)

Kita yang hidup dalam lumpur dosa dan kejahatan dunia ini, tidak ada upah yang pantas kita terima selain hukuman. Kita pantas menerima yang buruk, bahkan yang terburuk, tetapi Tuhan memberikan kita yang baik, bahkan yang terbaik, yakni pengampunan, penghapusan dosa, keselamatan dan hidup yang kekal.

Tuhan melakukannya dengan harga yang sangat mahal, bahkan yang paling mahal, yakni darah dan hidup Anak satu-satunya Yesus Kristus yang menjadi tebusan bagi keselamatan kita. Tuhan telah mengambil langkah radikal demi anugerahnya yang ajaib itu bagi kita umat berdosa.

Sungguh anugerah Tuhan itu ajaib. Karena itu jiwaku bersorak-sorak. Hatiku memuji-muji Tuhan dengan segala kebaikanNya. “Pujilah Tuhan, hai jiwaKu! Pujilah namaNya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah Tuhan hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! (Maz. 103).

Pengkhotbah : Pdt. Dr, Deonal Sinaga (Kepala Departemen Koinonia HKBP)

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *