Kejadian 9 : 8-17 mengingatkan kita bahwa Tuhan senantiasa menjaga dan memelihara kehidupan ini.

Pelangi. Siapa yang tidak suka melihat Pelangi? Setiap orang senang melihat Pelangi. Pelangi merupakan fenomena alam yang muncul akibat refleksi cahaya dalam air yang menghasilkan bentuk busur melingkar di langit dengan warna-warni: merah, merah muda, biru, biru muda, hijau, hijau muda, kuning dan putih. itu sungguh indah.

Ketika kita melihat Pelangi setelah hujan lebat hati kita senang. Kita melihat keindahan dan harapan bahwa cuaca mulai membaik. Hari gelap dan kelam perlahan-lahan hilang. Ada tanda-tanda kehidupan. Suasana hati yang gundah gulana berubah, dan kita melihat ada harapan di depan kita.

Secara teologis kita memahami pelangi sebagai tanda kehidupan yang diberikan Tuhan. Sekalipun itu bisa diuraikan secara logis sebagai fenomena alam dalam ilmu meteorologi, tetapi pemahaman teologis yang didasarkan pada kisah air bah dalam kitab kejadian memberikan kita gambaran bahwa Tuhan senantiasa menjaga dan memelihara kehidupan.

“Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Allah dan segala makhluk yang ada di bumi,” demikian Firman Tuhan merujuk pada busur yakni Pelangi yang muncul di awan setelah air bah yang meluluhlantakkan manusia dan segala yang hidup, terkecuali Nuh, keluarganya dan semua makhluk yang ada di bahtera itu.

Busur Tuhan menjadi pertanda bahwa Tuhan mengasihi manusia. Tuhan tidak menginginkan kematian dan kehancuran manusia serta makhluk yang ada di bumi ini. Dia juga berjanji akan memelihara dan menjaganya dari bencana dan bahwa air bah seperti yang terjadi di masa Nuh tidak akan terulang Kembali.

Air bah yang yang merupakan ungkapan kemarahan, murka dan hukuman Allah yang melenyapkan secara massiv tidak akan terjadi lagi, karena Tuhan sayang kepada manusia dan segala ciptaan.

Mungkin kita bertanya dalam hati, benarkah ini? Tsunami tahun 2004 terjadi. Gempa bumi tahun 2005 terjadi. Berbagai bencana mematikan terjadi dari waktu ke waktu. Bahkan perang yang mengancam kehidupan, termasuk genosida (penghapusan etnis) terjadi berulang kali dalam sejarah peradaban manusia. Sekarang, sejak satu tahun lalu pandemi virus corona melanda seluruh dunia.

Benar, semua itu terjadi dan terjadi berulang kali dalam sejarah. Tetapi kebenaran adalah bahwa Tuhan tetap memelihara kehidupan manusia dan makhluk yang ada di atas bumi. Busur Tuhan selalu muncul. Selalu ada tanda-tanda kehidupan. Pengharapan selalu ada.

Pengharapan yang didasarkan pada janji pemeliharaan Tuhan tetap mewarnai keberlangsungan kehidupan di dunia ini. Setelah perang selalu muncul pribadi-pribadi mulia dan cerdas untuk menciptakan rekonsiliasi dan perdamaian yang membawa kesembuhan dan pengharapan bahwa kemanusiaan akan bertahan.

Setelah Tsunami di Banda Aceh, hati umat manusia dari seluruh dunia tergerak untuk memberikan bantuan kepada korban, upaya memulihkan kota dan membangun kehidupan berjalan. Pemerintah mencanangkan program pemulihan dan pembangunan strategis sehingga Banda Aceh bangkit Kembali. Pribadi-pribadi dan berbagai kelompok masyarakat menunjukkan solidaritas yang memberikan semangat dan pengharapan untuk bangkit dari keterpurukan.

Tagline di Metro-TV waktu itu “Badai Pasti Berlalu” bagai Pelangi yang memberikan penghiburan dan harapan bagi masyarakat yang terpuruk. Demikianlah sejarah kemanusiaan dan kehidupan di dunia ini berlangsung dari waktu ke waktu. Setelah jatuh, bangkit Kembali. Setelah hancur, bangun Kembali. Setelah gelap, terbit terang.

Salah satu ungkapan paling inspirasional dari legenda dunia Nelson Mandela adalah, “We should all bear in mind that the greatest glory of living lies not in never falling, but in rising every time you fall – Kita harus mencamkan dalam hati, bahwa kemuliaan tertinggi dalam kehidupan tidak terletak pada ‘bahwa kita tidak pernah jatuh,’ melainkan pada ‘setiap kali kita jatuh, kita bangkit kembali…!”

Saudara terkasih, sekarang kita sedang berada dalam masa-masa sulit. Setelah merebaknya pandemi virus corona satu tahun lalu, dalam beberapa bulan pertama suasana dunia, termasuk bangsa kita begitu mencekam. Kesedihan dan ketakutan mewarnai kehidupan kita. Instruksi pemerintah yang berupaya menjaga keselamatan masyarakat dengan kebijakan: Di rumah saja: bekerja di rumah, belajar di rumah, dan beribadah di rumah, menambah rasa ketakutan kita. Kita bertanya-tanya: Sampai kapan ini berlangsung?

Kemudian, kita menyaksikan pribadi-pribadi yang luar biasa. Para dokter, perawat dan paramedis yang berani mempertaruhkan nyawa demi menolong sesama. Kita menyaksikan kesungguhan pemerintah membuat berbagai kebijakan dan upaya penyelamatan kehidupan.

Kita juga menyaksikan peribadi-pribadi dan jemaat-jemaat dari yang kecil hingga jemaat besar menunjukkan solidaritas kepada korban dan yang terdampak secara sosial dan ekonomi. Ini semua memberikan semangat dan pengharapan, bahwa peradaban manusia tidak akan lumpuh oleh pandemi ini.

Sekarang pengharapan kita semakin besar dengan hadirnya vaksin. Ternyata di luar sana banyak orang-orang pintar, pemimpin, para dokter dan ahli yang sungguh-sungguh bergumul, melakukan penelitian, mengadakan berbagai eksperimen, hingga menghasilkan vaksin. Diharapkan tahun ini dan tahun depan seluruh umat manusia bisa mendapatkan vaksin yang membantu menyelamatkan kehidupan.

Sekarang kita bisa merasa agak lega dan memiliki pengharapan, bahwa kehidupan tidak akan dilenyapkan oleh virus corona. Ada tanda-tanda kehidupan. Pelangi indah di awan semakin jelas kelihatan.

Sudaraku, ada banyak simbol kehidupan. Seperti kita ketahui, bahwa simbol menyingkapkan sesuatu. Bukan segalanya. Pelangi tidak menyingkapkan segalanya. Tetapi itu adalah pertanda yang menyingkapkan sesuatu. Dan itu sangat berharga. Vaksin bukanlah segalanya yang menjamin kehidupan, tetapi itu sangat penting dan berharga.

Sekali pun kita mendapatkan vaksin, bukan berarti masalah corona sudah selesai. Kita masih harus mengikuti norma-norma dalam kebiasaan baru (New Normal) di masa pandemi: tetap waspada, memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menjauhi kerumunan dan membatasi perjalanan, serta menjamin imun tubuh dengan asupan gizi yang cukup serta olahraga yang memadai.

Sebentar lagi, dalam kalender gerejawi kita diingatkan dengan masa-masa penderitaan Tuhan Yesus yang harus menjalani Via Dolorosa demi menebus kita umat berdosa dan demi keselamatan dunia. Ada salib di bukit Golgatha dan kemudian kebangkitan Kristus. Salib Kristus menjadi salah satu simbol terpenting akan kepedulian Allah atas kehidupan.

Karena itu, kita tetap diingatkan akan kasih dan kepedulian Allah. Kita selalu memiliki pengharapan. Sebagai umat beriman, kita berharap akan kasih Allah yang tak habis-habisnya. Kita percaya akan pemeliharaan Allah – Providentia Dei. Tuhan menentukan dan memberikan yang terbaik dalam kehidupan ini.

Sebagai umat percaya, kita telah dipilih dan diselamatkan oleh Tuhan Allah. Kita juga terpanggil menyaksikan cinta kasih dan pemeliharaan Allah dalam kehidupan ini. Kita telah melihat, merasakan dan mengimani kepedulian dan kasih Allah yang tak terhingga. Semoga orang lain juga dapat merasakan dan melihat itu dalam kehidupan kita.

Kiranya gaya hidup, perkataan, perbuatan, semangat dan keberadaan kita sebagai umat percaya dapat menampilkan sesuatu yang memberikan sukacita, semangat dan pengharapan bagi mereka. Dengan demikian mereka dapat melihat semacam pelangi yang indah dalam diri kita. Tuhan memanggil kita memancarkan cahaya pelangi yang indah yang memberikan sukacita dan pengharapan kepada mereka.

“Yesus menginginkan daku bersinar bagiNya, dimana pun ku berada kumengenangkanNya. Bersinar, bersinar, itulah kehendak Yesus; bersinar, bersinar, aku bersinar terus” (KJ 424).

Jadilah pribadi-pribadi yang bersinar – memancarkan Pelangi kasih Allah!

Pengkhotbah : Pdt. Dr. Deonal Sinaga (Kadep Koinonia HKBP)

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *