Oleh: Fotarisman Zaluchu*)

BAGAIMANA kita menentukan waktu yang paling pas untuk melakukan pelonggaran di dalam kebijakan pengendalian Covid? Saya tertarik menulis hal ini ketika membaca kabar jika pemerintah UK (England) hendak menerapkan kebijakan pelonggaran bagi warganya, salah satunya tak lagi mensyaratkan penggunaan masker di area publik. Begitu menyenangkan sekali. Terbayang betapa berbahagianya penduduk di sana. Pertanyaannya, mengapa mereka berani melakukan hal itu?

Sudah lama diketahui bahwa kebijakan pengetatan selalu berkonsekuensi pada hancurnya ekonomi dan kondisi mental manusia yang semakin berat. Akibatnya, alih-alih berhasil melonggarkan virus, beberapa pandangan justru menilai bahwa pengetatan akan menyebabkan persoalan yang tidak kalah seriusnya khususnya bagi kesejahteraan sebuah negara. Ancaman resesi dan hilangnya potensi kekuatan bangsa, menjadi sebuah ketakutan besar yang sedapat mungkin harus dihindari. Maka dengan demikian, pelonggaran adalah kebijakan yang selalu menjadi tujuan akhir dari pengendalian Covid-19.

Jika kita memperhatikan data yang disediakan oleh worldometers, di UK, angka kematian menurun drastis sejak akhir Maret. Padahal di Januari, setiap hari, masih terjadi ribuan kematian. Puncak kasus kematian terjadi ketika dalam sehari muncul 1.700 kasus kematian. Tapi perlahan kematian itu menurun sehingga berada di bawah 100 sejak akhir Maret. Dalam Juli saja, kematian akibat Covid-19 di UK hanya tinggal puluhan orang, jauh di bawah angka 50. Padahal, pada saat yang sama, jumlah kasus positif tetap tinggi. Rata-rata kasus harian positif di UK masih sekitar 50 ribu kasus dan sampai sekarang masih yang tertinggi di dunia.

Tetapi Boris Johnson dan pakar kesehatan di UK memiliki percaya diri atas keputusan mereka melonggarkan pengetatan. Mengapa? Data yang ada di atas paralel dengan capaian vaksinasi. BBC melaporkan bahwa di UK saat ini tingkat vaksinasi pada orang dewasa sudah mencapai 68 persen.

Model yang mereka buat menunjukkan bahwa saat ini, jika pun kebijakan pelonggaran dilakukan, angka perawatan di rumah sakit akibat penyakit Covid-19 serta kesakitan dan kematian, akan tetap lebih rendah. Mereka sangat yakin bahwa vaksinasi yang mereka lakukan, telah membentuk herd immunity hanya dalam 4 bulan terakhir saja karena mereka mengejar vaksinasi massal.

Vaksin, bagi pemerintah di UK, adalah sebuah kisah sukses untuk menghantam balik Covid-19 yang berbulan-bulan telah menciptakan penderitaan pada mereka. Separuh orang dewasa di UK telah divaksin hanya dalam waktu tiga bulan. UK memang mengandalkan vaksin dari AstraZeneca dan Universitas Oxford, serta Pfizer dan BioNTech. Jadi vaksinasi adalah cara mereka mempertahankan diri dari serbuan virus penyebab Covid-19.

Lagipula, UK memiliki prestasi yang sangat besar soal berburu virus SARS-CoV-2 ini. Mereka melakukan pelacakan yang sangat masif. Sampai saat ini tercatat sebanyak 23 juta lebih test telah dilaksanakan untuk seluruh populasinya dengan rata-rata test harian mencapai 337.608 test. Angka test harian tersebut menempatkan UK pada 10 negara dengan kapasitas jumlah test harian terbesar.

Dengan demikian, dapat disimpulkan jika pelonggaran massal di UK adalah sebuah hasil kerja keras. Menurut mereka, tidak apa-apa jika yang sakit dan positif masih banyak, tetapi jika fatality rate (tingkat kematian) bisa diturunkan, maka infectivity (kekuatan virus menginfeksi) pun bisa ditekan.

Pemerintah UK bahkan bersiap jika sekiranya pasca pelonggaran, kasus positif bisa menembus angka 100 ribu bahkan 200 ribu per hari. Bagi mereka hal itu tidak penting sepanjang kasus kematian bisa ditekan serendah mungkin. Alhasil, beginilah cara menjadikan Covid-19 menjadi penyakit biasa. Jika dalam sebulan kematian bisa ditekan lebih rendah lagi, maka jumlah kematian tahunan Covid-19 pun bisa jauh lebih rendah dari penyakit lainnya.

Bandingkan dengan Indonesia

Sampai pertengahan Juli, Indonesia masih harus berjuang keluar dari jeratan Covid-19. Dalam empat hari berturut-turut , jumlah kasus positif yang dilaporkan mencapai 50 ribu kasus dalam satu hari, menempatkan Indonesia dengan laporan kasus tertinggi di Asia bersama-sama dengan India sehingga menjadi salah satu sorotan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Angka itu tidak jauh berbeda dengan UK. Namun perbedaan besar ada di angka kematian harian. Jika di UK di waktu yang sama angka kematian hanya puluhan, di Indonesia kematian mencapai 1,000-an orang.

Memang, pemerintah Indonesia telah melakukan vaksinasi massal sejak Januari 2021. Hasilnya, sampai dengan 18 Juli 2021 sebanyak 41 juta dosis pertama telah dilakukan, dan 16,2 juta dosis kedua diselesaikan. Angka itu masih jauh dari target 208 juta penduduk Indonesia yang ditargetkan menerima vaksin, bahkan belum separuhnya.

Total test juga jauh sekali perbedaannya dibandingkan dengan UK. Saat ini, kita hanya bisa melakukan test harian pada sebanyak 8.400 saja untuk setiap 1 juta penduduk. Untuk populasi sebesar negara kita, total test yang dilakukan baru 2,3 juta saja.

Angka-angka di atas jelas berbeda jauh dibandingkan UK. Jumlah populasi di UK hanya seperempat dari penduduk Indonesia. Belum lagi dengan perbedaan periode melakukan vaksinasi, dan bukan tidak mungkin juga jenis vaksinnya. Namun angka-angka di atas dapat memberikan sebuah informasi penting kepada kita mengenai keputusan-keputusan yang diambil di dalam pengendalian Covid-19 termasuk program vaksinasi yang sedang digenjot oleh pemerintah. Data yang baik akan menghasilkan sebuah kebijakan yang baik. (*)

*)Penulis adalah pengajar, peneliti, dan penulis.

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *