Oleh: Pretty Luci

Perilaku banyak orang mendadak berubah sangat dramatis. Sifat keunikan untuk menjadi tetap keren menyusuri kesusahan hidup banyak orang. Mereka tidak perlu makan, tidak perlu mandi, tidak perlu minum untuk bisa bertahan hidup. Mereka hanya tidur sepanjang hari. Namun, itu hanya bertahan beberapa minggu saja. Mereka pasti membutuhkan bantuan dari yang mereka abaikan.

***

Dikisahkan seorang pemuda dan pemilik usaha mendadak bangun lebih pagi. Biasanya, tokonya baru buka setelah tengah hari dan tutup sebelum senja berlabuh. Si Munir dibangunkan bosnya melalui panggilan dari  gawai. Wasno, majikannya itu menyuruhnya untuk segera datang ke toko.

“Bangun, Nir. Jangan lupa makan dan langsung ke toko. Disini saja kau mandi”, katanya singkat,  tidak banyak cincong dan langsung menutup telepon. Munir yang biasa dikenal dengan kejongosan dan caranya yang suka meratapi kesusahan hidup langsung bangkit dari tempat tidur untuk memenuhi panggilan bosnya itu.

Sesampai di depan toko. Orang-orang sudah datang berkerumun. Mereka bau dan dikerumuni banyak lalat. Bau anyir menguar kuat. Aroma busuk membubung tinggi. Mulut mereka menganga dan digelayuti ulat-ulat. Mata mereka sudah sayu untuk hari-hari yang sudah dihabiskan hanya dengan tidur.

Mereka hanya menunggu sambil bercerita. Mereka berbagi cerita kesusahan hidup beberapa hari terakhir di sisa detik-detik ketidaksanggupan mereka. Terdengar sayup-sayup lengking tangisan. Bahkan sampai dibumbui gelak tawa. Bukan karena itu musibah yang sangat lucu. Namun karena sanking frustasinya. Dengan tersenyum lebar sambil manggut-manggut mereka mendengar cerita hidup satu sama lain.

Beberapa menceritakan kesusahan hidupnya lamat-lamat. Terus bercerita. Hanya bercerita tentang kesusahan hidup yang semakin menyusahkan hidup si pendengarnya. Bahkan telinga pendengarnya mengeras karena tidak perlu mendengarkan cerita itu lagi. Sebab cerita mereka sama.

Mendadak depan toko Wasno menjadi panggung drama. Dalam drama itu diceritakan kesusahan hidup orang. Dan Wasno serta Munir adalah penontonnya. Orang-orang tersebut sudah lelah untuk hidup keren di tengah kesusahan yang mendadak terjadi. Air muka mereka menghitam karena daki yang sudah menebal. Pakaian mereka lusuh karena sudah berminggu-minggu tidak tercuci. Perut membuncit bukan karena terlalu banyak makan dan minum. Melainkan tak sebiji nasi pun termakan agar tidak membuang hajatan. Mereka menyerah untuk bersikap keren dan angkuh.

Deritan pagar yang sudah tua membuat orang itu-itu bangkit dan mendekat. Panggung kesedihan dan penderitaan seketika berubah menjadi kerusuhan. Wasno si pemilik toko gantian mendadak tampil keren. Ia tersenyum simpul melihat kerumunan banyak orang mengerubungi depan tokonya sambil membawa wadah. Padahal sebelumnya seekor semut pun jarang terlihat. Namun, saat ini bukanlah waktu bagi Wasno untuk mengingat kesusahannya itu.

Ratusan pasang tatapan nanar dan membeliak memandanginya. Apalagi sejurus hening, saat Munir keluar membuka depot. Badannya wangi minyak nyongnyong dan kelimis rambutnya tidak menjadi gunjingan. Munir sang bujang menjadi idola banyak orang. Orang-orang tersenyum seperti terpenuhi rasa leganya. Serta merta yang terkulai lemas menjadi semangat menderu. Sekelebat orang berbahagia melihat tetesan air berkecipak. Secerca harapan ada seolah-olah mereka mendengar deburan ombak.

Munir membenamkan tangguk. Satu per satu ia layani dengan sabar. Ia tidak mau memanfaatkan kesusahan hidup banyak orang untuk membayar kesusahan yang ia alami saat itu. Begitu juga Wasno. Di dalam ruangan ia sibuk menghitung banyak uang. Karena orang-orang itu datang dengan membawa banyak uang. Mereka mau membayar berapapun hanya untuk secangkir air. Sebab yang mereka butuhkan saat ini hanyalah ‘sebuah’ air.

Semenjak kerusakan pipa yang menyalurkan air hingga ke pelosok rumah. Orang-orang sekampungnya menjadi susah. Tetapi mereka lupa akan keberadaan usaha depot Wasno. Karena selama hujan menderu mereka tidak akan pernah kesusahan air. Mereka tidak perlu menghemat air. Kran dibiarkan terbuka sehabis pakai. Apalagi semenjak ketua lingkungan menawarkan pemasangan pipa di daerah itu. Mereka mau membayar berapapun agar dapat menerima pasokan air dari kota. Karena di daerah itu amat susah mendapatkan air bersih dan jernih. Kondisi tanahnya tidak mendukung. Sehingga jika pemasangan air bor merupakan pekerjaan yang sia-sia.

Oleh karena, itu Wasno membuat usaha depot air. Ia merasa air dari pegunungan jauh lebih sehat diminum dibandingkan air dari hasil penyulingan. Dibutuhkan pengolahan lebih agar air itu layak minum. Hanya saja masyarakat sekitar merasa hal itu tidak perlu. Mereka marah saat mobil pengisi tanki air menutup jalan masuk menuju pemukiman warga. Padahal hanya beberapa menit saja diperlukan waktu untuk memindahkan air dari tanki mobil ke tanki depot Wasno.

***

Gelap menggelayut. Semilir angin menghempaskan larik-larik rumput hingga lampu jalan yang menggantung. Di bawahnya terdapat beberapa orang yang masih menunggu wadah dan galonnya terisi air. Sejauh mata memandang, terlihat satu dua orang menyusuri setapak. Tanjakan landai panjang agar sampai ke depot air Wasno. Sebab yang mereka butuhkan adalah pertolongan dan air kehidupan.

(*) Penulis bergiat dalam Perhimpunan Suka Menulis (Perkamen)

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *