Oleh: Pretty Luci

Inang Dor mengirimkan foto penahbisannya di media sosial, sedang memegang Kitab Suci di depan altar gereja, dengan pernyataan. ‘Kiranya saya dapat memuliakan Tuhan selalu’. Ia dikenal sangat ramah dengan bibirnya mempesona. Tidak cocok dengan jubahnya yang kebesaran, kusut. Seperti tidak siap dengan panggilan rohaninya itu.

Suara piano dimainkan amat merdu. Anak paling kecil laki-lakinya tersenyum simpul. Kepalanya serta merta menikmati permainan jari-jemarinya. Kaki pendeknya saling menjuntai mengiringi melodi yang dimainkan. Pundaknya terkulai lemas bak pemain piano profesional. Sudah cukup berani hingga Inang Dor menggunggah permainan piano putranya di media sosial. Ia jadi budak media sosial. Mulai dari pekerjaan, status sosial, keluarga hingga kegiatan-kegiatan memenuhi isi profilnya

Komentar-komentar yang menggelayuti tidak lebih dari sapaan. Apa kabar. Sudah dimana sekarang. Makin cantik saja. Semangat melayani Tuhan. Sungguh cantiknya. Itu-itu saja. Tidak lebih. Hingga senja berlabuh disusul malam yang menggelayut, Inang Dor di depan gawainya membalas sapaan monoton yang membuat ia bosan saban hari.

Demikian pun jika ia menggunggah pernyataan kondisinya yang terpuruk. Mulai matahari merayap hingga gelap merangsek, komentar yang ia balas hanya, Sabar inang. Tetap semangat. Hanya itu saja. Ia meletakkan gawainya.

Padahal orang-orang menaruh perhatian padanya. Karena tingkahnya yang amat baik dengan lidahnya yang amat manis. Setiap sekali dalam seminggu, tepat di Hari Sabtu, orang-orang se-jemaat gereja datang mengerumuni rumahnya. Seperti Dayang Sumbi ia sibuk sendiri. Mengolah makanan apa aja yang jadi. Meraciknya dengan bumbu yang sudah jadi. Dan menjejalinya kepada setiap mulut-mulut yang sudah memujinya dari tadi.

Sekeluarga sibuk grasah-grusuh. Beberapa menit lagi tamu itu akan datang. Memenuhi rumah depan milik ayahnya itu. Demikian pun suaminya tidak mau dikira miskin. Empat mobil dijajarkan memadati teras depan rumahnya. Siapa saja yang datang akan heran dan bertanya. Siapa gerangan yang datang. Dengan bibir miring yang sudah membujur kaku. Sebab sudah biasa ia memasang wajah mentereng. “Mobil-mobil ku ini, Lae.” Jawabnya tanpa rasa ragu. Orang-orang saat itu hanya bisa mangut-mangut. Dengan sejuta umpatan dalam hati siapa yang tahu. Beberapa jawaban terdengar lamat-lamat. “Mantap kali lae ku ini bah.”

Tapi saat mereka memasuki rumah tua itu. Sangat berbeda dengan penampilan mewah dadakan mereka. rapi dan modis. Apalagi Inang Dor dengan rok di atas tumitnya itu.  

***

Sejurus hening. Padahal ada tiga orang yang ia tinggalkan di rumah itu. Namun, satu orang yang tidak pernah ia anggap ada. Begitu juga anak dan suaminya sendiri.

Ayah mertuanya terkulai lemas. Langkah gontainya membuat orang dari jauh siap menangkapnya setiap kali ia berjalan. Ia ingin mengunjungi tempat yang penuh dengan gelak tawa. Dimana ingatan akan cacian dan hinaan sirna hanya sekejap saja. Warung itu dikerubungi dengan orang-orang yang tidak memiliki masalah. Hingga dudukan dan meja menjadi licin dan halus karena terlalu lama diduduki. Saat ayah mertuanya datang, siapapun dari mereka datang mempersilakannya duduk. Kacamata tuanya tidak bisa menyembunyikan tatapan nanarnya. Bahkan ada yang dari jauh datang memeganginya jika sudah terlihat sejauh mata memandang. Seluruh penjuru kampung pun tahu anak, menantu, dan cucunya bersama-sama menyiksanya di rumahnya sendiri.

Uangnya dicuri, makan tidak diperhatikan, kamar yang kotor, hingga tanggung jawab membersihkan rumah dan pekarangan.

***

Hujan menderu-deru. Gemuruh petir sahut-menyahut. Di penghujung rumah, tepatnya di bagian belakang. Kamar yang berukuran tiga kali tiga meter. Cat putih yang sudah memudar. Lampu kamar 5 watt.

Selot pintu ditarik, daun pintunya terbuka separuh. Ayah mertuanya berdiri di ambang pintu. Dari ruang belakang rumah, satu lampunya menyala pudar. Seraut rupa lelaki tua berdiri mengamti pintu tengah yang tertutup. Pintu itu membatasi rumahnya dengan rumah Inang Dor. Ia mengamatinya dengan tatapan sendu. Berharap siapa saja membukakan pintu dan memberikannya sesendok nasi. Sebab setengah mati ia menahan rasa lapar.

Setelah beberapa menit ia menunggu. Ia melangkah masuk kembali ke kamarnya. Selot pintu didorong, pintu menutup kembali. Matanya terpicing karena penerangan yang semakin memudar. Langkah-langkah kecilnya menabraki benda apa saja. Terdengar langkah-langkah kaki menuju ke ruang belakang.

Ayah mertuanya bangkit berdiri memburu dengan sisa tenaga yang ia miliki. Sebelum ia sampai pada ambang pintu yang tadi. Orang tersebut sudah pergi dan pintu ruang tengah itu tertutup rapat. Ia sedih dan kembali ke kamar. Sepotong cahaya memberkas di langit-langit kamarnya. Ia peluk selimut yang lama tidak tercuci menutup badannya yang meringkuk.

Sekian

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *