Jauh sebelum dunia medis merajai Nusantara, leluhur kita menciptakan berbagai kearifan lokal untuk menangkal dan mengobati aneka macam penyakit. Lain daerah, lain pula caranya. Masyarakat yang menghuni hilir sungai Mahakam, Kutai Barat, Kalimantan Timur, misalnya yang umumnya dihuni suku Dayak, mereka mengandalkan seni pengobatan tradisional Beliant. Mereka meyakini, penyakit datang karena roh si pasien sedang ‘diculik’ mahluk gaib.

Berpuluh tahun hingga hari ini, tradisi pengobatan belian masih lestari. Masyarakat setempat di Kutai Barat melakoninya dan mewariskan ke anak cucu sebagai kebudayaan turun-temurun. Ritual pengobatan beliant dipercaya dapat menyembuhkan penyakit dengan cara memanggil roh-roh/dewa/leluhur. Proses berkomunikasi dengan makhluk supra-natural itu dianggap sangat sakral.

Di sisi lain, tradisi ini juga mengandung nilai sosial tinggi karena upacara beliant dilakukan secara gotong-royong. Tidak hanya untuk lingkup suku Dayak saja tetapi juga melibatkan suku-suku lain. Hal itu dimungkinkan terjadi karena beberapa orang suku Dayak telah menikah dengan suku lain, sehingga hampir seluruh anggota keluarga baik kaum perempuan dan pria terlibat secara bersama-sama ikut membantu pelaksanaan upacara pengobatan ini.

Mereka secara sukarela membantu persiapan upacara penyembuhan, terutama menyajikan makanan sesajen maupun benda terkait dengan upacara adat tersebut. Untuk lama pelaksanaan upacara tersebut tergantung pada penyakit yang dilihat oleh “pemelient” atau biasa dikenal dengan sebutan “orang pintar”. Waktu pelaksanaan kegiatan tersebut ada yang bisa 3 hari 3 malam bahkan lebih lama.

Selain untuk penyembuhan, beliant dipercaya oleh masyarakat setempat, dapat melindungi manusia dari roh jahat/ilmu hitam yang bisa mendatangkan penyakit (seperti dirasuki roh halus atau santet) dan malapetaka. Meskipun begitu upacara beliant ini sudah mulai jarang dilakukan karena seiring dengan makin berkembangnya agama-agama samawi. Kendati demikian, upacara ini masih dilestarikan sampai sekarang.

Saya sendiri memiliki pengalaman pribadi pernah dibeliant, dulu saat saya sakit. Saya dibawa orangtua saya berobat ke puskemas namun tidak sembuh. Kemudian, saya dirawat di rumah sakit namun tidak juga ada perubahan. Menurut diagnosa rumah sakit, saya terjangkit demam berdarah dengue (DBD).

Selama dirawat di rumah sakit, dokter sudah mencoba berbagai cara yang diyakini dapat menaikan trombosit. Keluarga saya juga bekerja keras agar trombosit saya lekas naik, seperti dengan menyediakan sup rw dan obat, namun trombosit saya bukan bertambah malah semakin menurun sampai-sampai kondisi saya semakin buruk.

Lalu pihak rumah sakit tempat saya dirawat merujuk ke rumah sakit lainnya. Tetapi dari pihak keluarga menolak. Orangtua saya bahkan memilih jalan alternatif. Saya langsung diboyong pulang ke rumah. Akhirnya, dilakukan pengobatan secara tradisional beliant dan saya pun sembuh.

Menurut pendapat saya pribadi, segala sesuatu jika diyakini sembuh pasti bisa sembuh. Saya percaya akan ajaran agama dan juga kebudayaan suku Dayak Benuaq. Budaya diciptakan oleh manusia, manusia diciptakan oleh Tuhan dan budaya telah menguasai kehidupan manusia, jauh sebelum agama-agama samawi muncul.

Beliant digunakan untuk menyembuhkan penyakit tertentu jadi tidak semua penyakit dapat disembuhkan dengan pengobatan tradisional ini. Tetapi tidak serta merta kita bisa menjustifikasi bahwa beliant berbahaya hanya karena pengetahuan medis semakin berjaya. Yang paling penting adalah bagaimana kita meyakini sesuatu dan bagaimana kita menjalaninya dengan baik, sebagai manusia yang beriman dan berbudaya. (Junita Sovia Margaretha)

Junita Sovia Margaretha merupakan mahasiswi STMIK Widya Cipta Dharma Samarinda, dan berdomisili di Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Tulisan ini diproduksi sebagai hasil dari belajar Modul Nusantara Ukrida 2021 yang dibimbing oleh Prasasti Perangin Angin, MM selaku Dosen FEB Ukrida.

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *