Sorotdaerah.com – Sulawesi Selatan ada satu museum yang sangat kesohor. Namanya Museum Balla Lompoa. Museum ini kerap dikunjungi banyak wisatawan dari berbagai negara. Jika ingin mengenal sejarah Kerajaan Gowa lebih mendalam, museum ini layak dijadikan salah satu referensi.

Museum ini didirikan pada 11 Desember 1973. Sedangkan, Balla lompoa dibangun jauh lebij awal yakni tahun 1936, setelah diangkatnya Raja Gowa ke-35, I Mangimangi Daeng Matutu, Karaeng Bontonompo yang bergelar Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin.

Balla lompoa adalah kediaman raja sekaligus sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Gowa pada saat itu. Sejarah pembangunan istana dan pusat kegiatan pemerintahan ini dilakukan sebagai bentuk penolakan terhadap salah satu ayat Perjanjian Bungaya yang menyatakan, gerbang-gerbang dan tembok pertahanan Raja Gowa harus dimusnahkan dan Raja Gowa tidak boleh lagi mendirikan bangunan tanpa izin.

Raja Gowa juga dilarang mendirikan perkampungan, rumah dan sebagainya sampai jauhnya satu hari perjalanan dari pinggir laut. Raja tidak diperbolehkan mendirikan benteng-benteng atau kubu-kubu pertahan. Museum Balla Lompoa sekarang ini memiliki banyak peninggalan peninggalan sejarah dari Kerajaan Gowa masa lalu. Balla Lompoa (Rumah Adat Gowa) terletak di tengah-tengah Sungguminasa. Lebih jelasnya yaitu Jalan KH. Wahid Hasyim No.39, Sungguminasa, Gowa, Sulawesi Selatan.

Balla Lompoa memiliki arti yaitu Rumah Besar, sedangkan Balla adalah Rumah dan Lompoa artinya besar. Dikatakan Rumah Besar karena bangunan berbahan kayu ini memiliki luas 1.144 meter persegi. Sedangkan museum ini berdiri di atas lahan seluas 7.663 meter kuadrat. Bangunan ini terbuat dari kayu jati pilihan.

Museum ini terbuka setiap hari. Memiliki penjagaan yang tidak begitu ketat tetapi keamanannya terjaga. Beberapa kali saya berkunjung ke sana, seban sekolah saya (ketika SMP) berada tepat di depan musem tesebut. Sewaktu SMP, saya masuk regu Pramuka, terkadang kami latihan di lapangan Balla Lompoa, karena tempatnya yang luas dan bisa memuat banyak orang.

Di bawah museum tersebut juga ada penjual minuman dan makanan instan seperti mie kuah dan minuman dingin agar pengunjung yang lapar atau kehausan bisa makan atau minum. Untuk menjaga kebersihan dari sampah, di pekarangan museum tersedia banyak tempat sampah. Jika ada oknum yang dengan sengaja membuang sampah dan melanggar, para pelajar (anak sekolah) yang latihan di sana akan mengawasi, sekaligus ikut membersihkannya.

Tersedia Mushollah juga bagi orang Islam untuk beribadah. Baru baru ini museum Balla Lompoa dijadikan tempat menunjang program vaksinasi bagi pelajar yang bersekolah di Gowa. Walaupun begitu banyak orang keluar masuk dalam lingkungan Museum Balla Lompoa, tentu saja tidak akan ada yang berani masuk ke Rumah Adat Gowa tersebut secara langsung tanpa izin dari penjaganya.

Masyarakat setempat percaya bahwa Rumah Adat tersebut memiliki unsur keramat atau hawa mistis. Salah satu ruangan di Rumah Adat ini, memiliki tempat untuk menyimpan benda-benda bersejarah lengkap dengan sesajen yang selalu dipersembahkan di dalam ruangan tersebut. (Deliatri Rosmayana Hasbah)

Deliatri Rosmayana Hasbah adalah mahasiswi Jurusan Ekonomi Manajemen, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Makassar Bongaya, angkatan 2020.

Tulisan ini dibuat sebagai bentuk hasil dari pembelajaran Modul Nusantara bertema Kebudayaan atau Adat Istiadat Daerah di Universitas Kristen Krida Wacana 2021, yang dibimbing oleh Prasasti Perangin Angin sebagai dosen pembina.    

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *