Sorotdaerah.com – Pengetahuan soal toleransi tidak melulu hanya dimonopoli oleh tokoh-tokoh nasional atau mereka-mereka yang kerap nongol di televisi. Sesungguhnya, sumber belajar tersedia melimpah di sekitar kita tersedia, asalkan kita mau berusaha sedikit lebih keras untuk mencarinya.

Tidak hanya kaya pengetahuan, terkadang tokoh-tokoh lokal justru jauh lebih inspiratif soal teladan hidupnya. Kiprah mereka di bidang pelayanan sungguh sebuah suri teladan. Itulah yang saya temukan dalam sosok Pandita Buddha bernama U.P. Winja Kumari atau biasa dipanggil Parriyati Sasana.

Tempo hari, saya berkesempatan menginterviu Pandita Kumari. Saya menemuinya di vihara tempat dia biasa melayani di Vihara Loka Shanti, Medan, Jalan Karya Pembangunan No. 50, Polonia, Kota Medan, Sumatera Utara. Kebetulan, vihara ini tidak jauh dari rumah saya.

Dari wawancara dengan Pandita perempuan satu ini saya menyadari bahwa pengetahuan tentang arti pentingnya toleransi, menghargai sesama dan mempunyai kasih terhadap sesama adalah sesuatu yang harus kita miliki sebagai umat beragama. Saya mendapat banyak pengetahuan baru dari Pandita muda ini.

Kumari bercerita, vihara tempat dia melayani sangat menjunjung tinggi nilai – nilai toleransi seperti bagaimana kita hidup berbagi dengan sesama. Jika kita memiliki sesuatu, kita sepatutnya berbagi dengan orang lain. Sekalipun materi kita terbatas, kita tetap bisa berbagi walau hanya di dalam internal umat agama kita.

Hidup berbagi, menurut Pandita Kumari, tidaklah sebatas materi. Hidup berbagi adalah gaya hidup. Seluruh hidup kita termasuk melalui profesi, kita juga bisa berbagi, seperti di bidang pendidikan, kita bisa membantu banyak siswa untuk menamatkan sekolahnya. Apalagi, di masa darurat COVID-19, tempo hari, kita bisa berbagi banyak hal menolong anak-anak kita dari ancaman learning loss.

Pandita sekaligus Kepala Sekolah SMB Loka Shanti ini juga mengingatkan kita tentang pentingnya menghargai orang lain dan berbagi kepada sesama di masa-masa pandemi Covid-19. Pandita Kumari mengungkapkan, selama masa pandemi yang berkepanjangan, Vihara Loka Shanti juga banyak menerima bantuan dari agama lain untuk umat beragama Buddha. Bantuan berupa sembako gula, beras dan lainnya.

Sebagai wujud toleransi, kata Pandita Kumari,  Vihara Loka Shanti juga menyediakan mobil ambulans bagi masyarakat yang membutuhkan layanan mobil dalam situasi darurat. Mobil ambulans ini bisa dipinjam pakai oleh siapa saja lintas agama. Tidak hanya dalam kondisi emergensi. Mobil ambulans juga bisa dimanfaatkan untuk mengantar pasien dari rumahnya ke rumah sakit atau sebaliknya, atau mengantarkan jenazah ke tempat pemakaman atau krematorium.

Dalam bentuk paling sederhana, Pandita Kumari menuturkan, Vihara Loka Shanti sangat peka terhadap lingkungan sekitar. Ketika umat vihara sedang mengadakan kegiatan besar yang memerlukan sound besar, dan saat bersamaan umat agama lain sedang beribadah, umat vihara dengan bijaksana mengecilkan suara agar tidak mengganggu umat agama lain yang sedang beribadah.

“Kami menjaga hidup rukun dengan umat agama lain, seperti memakai tempat parkir dari salah satu tempat dekat vihara yang bukan milik vihara dari agama lain dan ketika ada senam dari ibu PKK yang berasal dari berbagai agama lain memakai halaman yang ada dekat vihara untuk senam,” pungkas guru agama Buddha Prime One School itu. (Febi Yohana Veronica Nurcahaya Saragih)

Febi Yohana Veronica Nurcahaya Saragih adalah Mahasiswi Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Sains Informasi, Universitas Sumatera Utara, Angkatan 2019.

Tulisan ini dibuat sebagai bentuk hasil dari pembelajaran Modul Nusantara bertema Kesan Mengunjungi Tempat Ibadah di Universitas Kristen Krida Wacana 2021, yang dibimbing oleh Prasasti Perangin Angin sebagai dosen pembina.

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *