Sorotdaerah.com – Saya ingat betul pengalaman ketika berkunjung ke rumah teman, Andrini dan Andrina di Medan, 2017 silam. Kunjungan ke rumah si kembar tak lain karena urusan tugas SMA. Ketika itu, PR sekolah seabrek banyaknya, sehingga saya dan teman lainnya harus menginap di rumah si kembar.

Di rumah si kembar itu, saya mendulang satu pengalaman berharga. Ternyata, teman-teman saya begitu toleran. Mereka menghargai saya sekalipun berbeda keyakinan. Sewaktu hendak bersantap siang misalnya, kami berdoa sesuai ajaran agama masing–masing.

Yang paling mengesani adalah ketika hari Minggu tiba. Minggu adalah hari sabat bagi saya, selaku Nasrani tulen. Teman-teman begitu menghargai saya. Mereka dengan tulus mengingatkan saya untuk pergi beribadah. “Feb, kamu belum ke gereja? nanti telat lho, cepat mandi sana,” begitu teman-teman mengingatkan saya.

Saya sangat tertegur saat itu. Saya merasa terharu. Mungkin itu terdengar sepele, tetapi bagi saya kejadian itu sangat membekas di hati. Teman-teman begitu peduli pada saya. Bukan saja menerima apa adanya, mereka juga mendukung saya untuk tetap menjalankan ibadah. Itu nilai hidup yang berharga sekali. Apalagi dalam kunjungan itu, saya satu-satunya yang beragama Kristen. Lainnya adalah muslim. Mereka tidak membuat saya merasa sendirian. Mereka menempatkan saya sebagai bagian dari keluarga itu. Tidak ada keragu-raguan, tidak pula ada sekat.

Kami begitu akrab, karib. Mengapa itu sesuatu yang spesial bagi saya? Tentu ada alasannya. Saya punya pengalaman kurang mengenankkan soal toleransi. Sebelumnya, seorang senior saya yang berbeda agama pernah menunjukkan perilaku kurang terpuji. Dia tidak menghargai kami yang beragama Kristen. Ketika senior itu mengunjungi rumah yang beragama Kristen, dia menolak masuk ke dalam rumah yang beragama Kristen itu. Ia juga secara blak-blakan menunjukkan kesan kurang nyaman mengunjungi rumah temannya yang berbeda agamanya.

Sejak kejadian itu, saya jadi kurang dekat dengan teman yang berbeda agama dan saya dapat mengambil pelajaran bahwa jika ada teman yang berbeda agama datang mengujungi rumah kita, saya harus tau bersikap dengannya.

Lama paradigma negatif itu saya amini. Tetapi ketika mengunjungi rumah si kembar, barulah saya tersadar kembali. Bahwa apa yang saya pahami selama ini telah keliru. Bahwa kesan yang saya tangkap dari senior saya itu tidak semestinya saya tiru. Teman SMA saya itu justru menyambut saya dengan ramah. Mereka memperlakukan saya persis seperti keluarga kandungnya. Tidak ada jarak di antara kami. Tidak ada penolakan sedikit pun.

Dari pengalaman di rumah si kembar itu, saya dapat mengambil pemahaman bahwa keterbukaan setiap orang dengan agama lain serta cara bersikap berbeda antara setiap orang tergantung bagaimana orang itu mau menerima dan menghargai orang lain yang berbeda dengan dia.

Dan perbedaan agama itu wajar terjadi, tetapi kemanusiaan dan persaudaraan akan melebur segala sekat-sekat yang ada termasuk sekat agama. (Febi Yohana Veronica Nurcahaya Saragih)

Febi Yohana Veronica Nurcahaya Saragih adalah Mahasiswi Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Sains Informasi, Universitas Sumatera Utara, Angkatan 2019.

Tulisan ini dibuat sebagai bentuk hasil dari pembelajaran Modul Nusantara bertema Pengalaman Toleransi di Universitas Kristen Krida Wacana 2021, yang dibimbing oleh Prasasti Perangin Angin sebagai dosen pembina.  

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *