Sorotdaerah.com- Musibah tidak selalu datang karena kerusakan alam. Bagi kami suku Dayak Benuaq yang mendiami hilir sungai Mahakam, Kalimantan Timur, musibah bisa saja terjadi karena hal sepele. Ketika tidak menghargai pemberian orang lain, musibah bisa terjadi. Ini satu keyakinan yang terus menerus diwariskan oleh leluhur kami.

Bahkan, keyakinan ini telah menjadi adat istiadat atau tradisi turun temurun bagi kami. Bahwa menyantap/menyentuh makanan/minuman yang ditawarkan oleh seseorang adalah keniscayaan. Mereka yang melanggar tradisi ini akan mendapat musibah. Musibah itu biasanya disebut kepohonan, atau dalam bahasa Dayak Benuaq dinamakan “Tapent”.

Contohnya, Adi berkunjung ke rumah Budi dengan maksud mengantarkan undangan. Saat Adi tiba di rumah Budi, orangtua Budi kemudian menawarkan kopi kepadanya. Namun Adi tidak meminum kopi yang ditawarkan itu dengan alasan apapun. Katakanlah, ia buru-buru harus  pergi untuk mengantarkan undangan ke rumah orang lain. Di dalam perjalanannya, Adi bisa saja mendapat musibah, seperti jatuh dari motor, terpeleset, sakit, dll.

Dalam suku Dayak Benuaq, kejadian seperti yang dialami Adi itu dinamai Tapent atau kepohonan. Itu diyakini terjadi lantaran Adi tidak menyentuh atau meminum atau memakan sajian yang ditawarkan pemilik rumah yang dia kunjungi. Bagi masyarakat suku Dayak Benuaq, menyantap atau menyentuh makanan atau minuman yang ditawarkan itu bersifat wajib hukumnya.

Apalagi jika yang ditawarkan adalah telur dan nasi goreng. Kedua makanan ini pantang untuk ditolak karena bisa berakibat fatal. Contoh, Bu Ina sedang menggoreng telur untuk sarapan. Tetapi suaminya buru-buru ingin menjala ikan ke sungai tanpa menyantap atau menyentuh makanan yang ditawarkan istrinya. Saat ia sedang menjala ikan di sungai hal buruk bisa saja menimpa suaminya, seperti tenggelam.

Kejadian seperti ini bukan dongeng atau mitos, tetapi nyata. Saat kuliah saya memiliki teman yang berbeda agama dan suku. Namanya Febri. Ia beragama Islam. Ia suku Kutai. Kami berteman dengan baik. Pertemanan kami seperti saudara. Oleh karena itu, setiap hari kami saling menunggu di parkiran sebelum masuk ke kelas bersama-sama. Suatu ketika saat di parkiran kampus, Febri sedang duduk di atas jok sepeda motor sambal menawarkan keripik pisang. Ia pun berkata, “Jun, ini keripik pisang kalau ga dimakan atau disantap, takut nanti kepohonan.”

Mendengar itu saya kaget. Saya pikir, “kepohonan” hanya ada di suku Dayak saja. Ternyata, suku Kutai juga memiliki tradisi tapent. “Loh sama ya, aku kira di suku aku aja ada istilah kepohonan,” jawab saya sambil menyantap keripik yang ditawarkan Febri.

Saya akhirnya sadar, bahwa di dalam perbedaan kami memiliki kesamaan. Oleh karena itu kami saling mengingatkan untuk menyantap/menyentuh makanan/minuman jika ada yang menawarkan atau saat menawarkan. Namun jangan disalahpahami bahwa ini sesuatu yang ganjil. Sesungguhnya, menawarkan makanan atau minuman adalah cara kami, suku Dayak Benuaq menghargai orang lain.

Kami sangat menghormati orang lain, termasuk tamu yang datang ke rumah kami. Dan karena kami menghargai orang lain, kami juga ingin dihargai dengan selayaknya. Menyentuh makanan atau minuman bukanlah sesuatu yang begitu sulit untuk dilakukan. Menghargai orang lain adalah cara kita bersama-sama menghindari tapent atau musibah. (Junita Sovia Margaretha)

Junita Sovia Margaretha merupakan mahasiswi STMIK Widya Cipta Dharma Samarinda, angkatan 2019. Ia berdomisili di Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Tulisan ini diproduksi sebagai hasil dari belajar Modul Nusantara Ukrida 2021 yang dibimbing oleh Prasasti Perangin Angin, MM selaku Dosen FEB Ukrida.  

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *