Sorotdaerah.com- Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan memukul telak usaha-usaha kecil di Bali. Salah satunya, dialami Mariani, pedagang lumpia di Pantai Sanur. “Sebelum melonjaknya kasus Covid-19, perekonomian keluargaku tidak sesulit saat ini. Berjualan Sabtu dan Minggu saja sudah lebih dari cukup untuk membantu pendapatan keluarga,” ujar Mariani (umur 40-an tahun), saat diwawancarai, tempo hari.

Mariani berjualan lumpia demi membantu perekonomian keluarganya. Sejak pemerintah menerapkan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) Darurat di wilayah Jawa-Bali sejak 3 Juli 2021, ekonomi keluarga Mariani goyah. Suaminya yang bekerja ikut proyek di dermaga diberhentikan sementara hingga waktu yang tidak ditentukan. Sejak suaminya tidak bekerja, kehidupan keluarga ini benar-benar sulit. Berjualan lumpia menjadi satu-satunya cara untuk menopang kehidupan keluarga ini, sekalipun penghasilan yang diperoleh dari berjualan hanya cukup untuk makan saja.

Tidak hanya memukul sendi ekonomi, pagebluk ini juga berimbas terhadap waktu. Mariani harus bekerja lebih ekstra setiap hari agar penjualannya meningkat. Hanya dengan cara itu, ia bisa mendapatkan uang lebih banyak. Akan tetapi, ia juga harus kehilangan kesempatan untuk mengurus anak-anaknya yang masih belia. Sampai-sampai, sering sekali anak-anaknya kurang terurus, lantaran saking sibuknya Mariani mengais rezeki.

Semenjak pariwisata dibuka, meski masih PPKM, ada perubahan yang dirasakan oleh keluarga ini. Perubahan yang dirasakan olehnya ketika masyarakat yang berkunjung ke Pantai Sanur lebih sedikit. Meskipun ramai pengunjung, belum tentu datang untuk berbelanja. Hal itu kemungkinan dipengaruhi oleh faktor perekonomian yang menurun.

Mariani masih khawatir apabila tempat wisata ditutup kembali. Perekonomian keluarganya akan semakin terpuruk. Dengan PPKM yang diperpanjang beberapa bulan lalu, membuat ibu Mariani dan penjual lainnya tidak mendapatkan penghasilan apa pun. Kondisi sulit itu sampai-sampai memaksa Mariani dan suaminya harus pulang ke kampung dan menjadi kuli. Anak-anak mereka juga ikut diboyong ke kampung karena sekolah dilakukan secara daring.

Mariani menuturkan, berjualan di Pantai Sanur juga tidak gratis. Ada biaya retribusi yang harus dibayar, yaitu sebesar 600.000 rupiah per tahun. Meskipun sedang pandemi dan Pantai Sanur ditutup, para penjual harus tetap membayar biaya retribusi. Apabila penjual berhenti jualan dengan alasan apapun, dan meski sempat membayar retribusi beberapa bulan, biaya yang telah dikeluarkan tersebut tidak dikembalikan.

Lumpia, jualannya Mariani

Mariani adalah seorang perempuan pekerja keras yang tinggal di Jalan Hang Tuah, Sanur Kaja, Kota Denpasar, Bali. Mengenakan baju hijau lengan panjang dan topi merah ia duduk menjaga dagangannya sembari menunggu pembeli. Tak lupa ia memakai masker sesuai anjuran pemerintah soal protokol kesehatan. Lumpia yang dia jual adalah buatan tangannya sendiri. Rasanya lezat dan dijamin sehat.

Sudah lima tahun Mariani berjualan lumpia. Selain untuk menambah penghasilan, berjualan juga cara Mariani untuk menyiasati waktunya agar bisa mengurus anak-anaknya. Sebagai ibu domestik ia ingin tetap punya penghasilan, namun pekerjaannya tidak terikat oleh waktu, layaknya pekerja kantoran.

Sebelum pandemi, di hari-hari biasa, Mariani bisa berjualan mulai pukul 1.30 siang hingga dagangannya ludes terjual. Jika hari libur atau akhir pekan seperti Sabtu dan Minggu, ia berjualan dari pagi hingga jualannya habis. Namun, jika hujan deras, ia sama sekali tidak bisa jualan.

Sayangnya, akhir-akhir ini, Bali sedang diterpa hujan lebat yang mengakibatkan para penjual lumpia harus mengurungkan niat berjualan, akibatnya pendapatan harian untuk nafkah harian juga kerap terancam. “Kalau musim hujan kayak gini, ya nggak begitulah pendapatannya. Cukup untuk makan saja,” jelasnya.

Mariani berharap di tahun 2022 nanti, pariwisata tetap dibuka. Sebab, masyarakat Bali sangat bergantung terhadap sektor pariwisata. Jika sektor pariwisata maju, kehidupan ekonomi masyarakat menggeliat. Pariwisata serupa nafas kehidupan masyarakat Bali. Dari berbagai usaha di bidang pariwisatalah, masyarakat bisa mengais rezeki. Pariwisata berkembang, maka perlahan semuanya akan membaik. “Itulah harapan kami,” pungkas ibu dua anak ini. (Komang Ayu Wandira Juni Saputri)

Komang Ayu Wandira Juni Saputri adalah Mahasiswi Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Udayana, Angkatan 2019.

Tulisan ini dibuat sebagai bentuk hasil dari pembelajaran Modul Nusantara bertema Kebudayaan atau Adat Istiadat Daerah di Universitas Kristen Krida Wacana 2021, yang dibimbing oleh Prasasti Perangin Angin sebagai dosen pembina.

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *