Sorotdaerah.com – Putus sekolah seperti menutup banyak pintu rezeki bagi pasangan Syafrin (63 tahun) dan Paris (59 tahun). Pasangan yang tidak tamat SD ini merasakan betul betapa susahnya mendapatkan pekerjaan yang layak. Namun getirnya hidup telah mengajarkan satu hal kepada pasutri ini, bahwa anak mereka kelak tidak boleh putus sekolah.

Seperti kebanyakan warga lainnya, Syafrin dan istrinya, Paris tidak punya pilihan lain. Mereka terpaksa hidup menyadap getah karet. Hanya itu jalan satu-satunya bagi mereka untuk menopang hidup. Sesekali, Syafrin, selaku tulang punggung keluarga menyempatkan diri melaut untuk menangkap ikan. Ikan itu untuk mereka konsumsi dan sebagian dijual sebagai tambahan penghasilan.

Syafrin dan Paris tidaklah sendiri. Ada ratusan pasutri lainnya di Kampung Kelauq, yang menggantungkan hidup dari getah karet. Menyadap getah karet sudah menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat suku Dayak Benuaq di Kutai Barat, Kalimantan Timur, selain menjadi nelayan atau petani. “Saya sudah menyadap getah karet dari tahun ’97 sampai sekarang,” ujar Paris saat ditemui di kebun karetnya, tempo hari.

Paris mengatakan, ada tiga alasan mengapa ia bekerja sebagai penyadap karet. Pertama dari segi ekonomi. Keluarganya adalah warga ekonomi lemah dan berpendidikan rendah. Pasutri ini tidak lulus SD, sehingga sulit sekali bagi mereka untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Dengan pendidikan yang rendah, tanpa ijazah, minim keterampilan, pasutri ini harus siap melakukan pekerjaan kasar, seperti menyadap pohon karet.

Alasan kedua, pasutri ini mempunyai prinsip “Selama masih bisa makan harus tetap kerja”. Bahkan asal bisa menggeliat seperti cacing, mereka harus bisa hidup mandiri, demi sesuap nasi.

Alasan ketiga, dari segi kesehatan. Orang-orang pekerja keras seperti dirinya yang bertahun-tahun selalu berkeringat maka di hari tua pun tetap harus bekerja dan berkeringat supaya tetap sehat. Menyadap pohon karet bisa menyegarkan tubuh karena berkeringat. Dengan berkeringat, itu bisa membantu membuang berbagai macam racun dan penyakit dari dalam tubuh.

Hari itu, akhir pekan di penghujung 2021, saat hari cerah, saya menemui Paris di kebun pohon karetnya. Kebun itu seluas 8 hektar. Saking luasnya, Paris dan suaminya berbagi tugas: separuh ke aras utara ditangani Paris, separuh lagi ke selatan disadap oleh suaminya.

Kepada saya, Paris menuturkan, lantaran tidak ingin Masyeriana hidup susah, ia dan suaminya bertekad menyekolahkan anak gadis semata wayangnya itu setinggi-tingginya. Meski hanya mengenyam pendidikan sampai bangku SD, Paris mengakui, pendidikan jalan satu-satunya yang bisa mengubah masa depan anaknya menjadi lebih baik.

Dengan tekad kuat, Paris dan suaminya bekerja keras menyadap getah karet. Kemudian, mereka berusaha menabung. Dari hasil menyadap karet selama 24 tahun itulah, pasutri ini bisa memiliki lahan hingga 8 hektar sekaligus menyekolahkan anak mereka, hingga berhasil meraih gelar sarjana. Dan berkat dorongan Paris juga, Masyeriana bisa meraih impiannya sebagai pegawai negeri sipil (PNS).

Paris mengaku, tidak mudah untuk mengubah hidup. Dibutuhkan kesabaran, ketekunan, kerja keras dan tetap memiliki pengharapan. Bertahun-tahun Paris dan suaminya bekerja keras demi memastikan anak mereka itu bisa kuliah dan mendapat gelar sarjana.

Dengan gelar, ijazah dan pengetahuan yang kaya, menurut Paris, jalan untuk mendapatkan pekerjaan tidak sesulit yang dialami anak-anak putus sekolah seperti dirinya di masa lalu. Karena itu, ia begitu serius mendukung anaknya mendapatkan pendidikan yang bermutu. Dan dengan pendidikan yang didapatkan, tidak sulit bagi Masyeriana untuk lolos seleksi penerimaan pegawai negeri sipil.

Paris sangat bangga ketika anak gadisnya berhasil menjadi abdi negara. Ia melihat impiannya terwujud. Tuhan menjawab doa-doanya. Anaknya tidak hanya terbebas dadi ancaman putus sekolah, tetapi sebaliknya, justru berhasil meraih gelar sarjana dan di bisa menunjukkan sekelabat gemilang kesuksesannya sebagai abdi negara.

Paris menjelaskan, penyadapan getah dapat dilakukan saat tanaman karet berumur 5 tahun. Proses penyadapan getah karet dapat dilakukan antara 25-35 tahun. Untungnya saat ini telah banyak beredar zat pembeku getah (S3P10). Kehadiran pembeku getah ini banyak membantu pekerjaan penyadap. Dulu, sebelum ditemukannya zat pembeku getah, penyadap karet kurang maksimal bekerja. Karena saat air bercampur dengan getah karet. Maka getah karet yang baru disadap itu akan terbuang karena melarut dengan air hujan.

“Sekarang ini sudah ada pembeku getah, sehingga jika setelah selesai menyadap dan pohon karet masih mengeluarkan getah kita tidak perlu khawatir jika tiba-tiba turun hujan, tidak seperti dulu yang tidak menggunakan pembeku getah, maka saat turun hujan getah hasil menyadap menjadi sia-sia,” terangnya.

Selain hujan ada tantangan lain yang dihadapi Paris dan suaminya yaitu harga getah karet di pasaran. Penghasilan petani penyadap getah karet, kata Paris, biasanya tergantung pada seberapa banyak getah yang dihasilkan dan berapa harga beli getah. Biasanya ada pembeli getah yang akan bertanya ke setiap rumah warga apakah mereka ingin menjual getah. Terdapat perbedaan harga getah karet murni (hanya getah saja) dan harga getah kotor. Harga getah murni jauh lebih tinggi ketimbang getah kotor (getah bercampur kulit saat menyadap).

Paris mencontohkan, para pembeli karet menawarkan 1 kg karet murni seharga 9 ribu rupiah sedangkan karet kotor seharga 7 ribu rupiah. Dan orang yang paling berbahagia jika harga getah karet naik dan cuaca cerah adalah petani karet. Karena mereka bisa menyadap getah karet lebih banyak untuk mendapatkan duit lebih besar.

Dari usaha budidaya karet dan menyadap getah karetlah Paris dan suaminya bisa mewujudkan impian mereka, yaitu melihat anak gadisnya bisa sekolah setinggi-tingginya dan meraih gelar sarjana bahkan mendermakan dirinya sebagai abdi negara.

“Karena itu selama kita punya kesempatan untuk sekolah, giatlah belajar hingga berhasil. Dengan pendidikan, kita mampu mengubah dan memperbaiki kehidupan. Jika tidak menggunakan kesempatan yang ada dengan baik suatu saat menyesal pun tiada guna,” pungkasnya. (Junita Sovia Margaretha)

Junita Sovia Margaretha merupakan mahasiswi STMIK Widya Cipta Dharma Samarinda, angkatan 2019. Ia berdomisili di Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Tulisan ini diproduksi sebagai hasil dari belajar Modul Nusantara Ukrida 2021 yang dibimbing oleh Prasasti Perangin Angin, MM selaku Dosen FEB Ukrida.

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *