Berkat JNE, tenun batik lokal khas Sumatera bisa menjangkau pasar lebih besar hingga ke pelosok Nusantara. Tetapi itu cerita lama, sebelum pandemi Covid-19 melanda dunia dan tanah air.

“Sejak pandemi Covid-19 berlangsung sampai hari ini penjualan saya anjlok sampai 80 persen,” ungkap Tin Reihani (47), ketika ditemui di gerai tenun batiknya di Jalan Tuasan No. 34 B, Desa Sidorejo, Kecamatan Medan Tembung, Medan, Rabu (5/1/2021).

Pemilik brand Reihani ini mengenang masa-masa jayanya. Omzet penjualannya pernah mencapai 40 juta rupiah perbulan. Ia bahkan pernah kerepotan melayani pesanan dari berbagai daerah. Pesanan datang dari Pulau Jawa, Kalimantan, Papua, Batam dan Pekanbaru.

Karena itu, Ia harus cekatan mengirimkan barang produk tenunnya, tepat waktu agar para pembeli tidak sampai dikecewakan. “Waktu itu, hampir setiap hari saya mengirim barang berupa produk tenun batik pesanan pelanggan. Saya pakai jasa pengiriman JNE. Barangnya cepat sampai dan mereka bertanggung jawab,” ujarnya.

Bahkan antara 2016-2019, permintaan produk tenun batik dari berbagai daerah di Nusantara melonjak drastis. Semua itu terjadi berkat dukungan platform sosial media. Memanfaatkan sosial media sebagai alat promosi produk rupanya sangat efektif. Reihani dibuat kerepotan karea harus memproduksi minimal 100 potong produk tenun batik Melayu atau tenun batik setiap minggu. Ia juga kerap ‘kebanjiran’ pesanan asesoris pernikahan berupa tenun batik dan songket dalam partai besar.

Dari usahanya ini, Reihani telah mempekerjakan enam orang penenun. Ia juga memimpin sembilan orang reseller. Reseller inilah yang bergerilya habis-habisan di media sosial. Mereka fokus mengelola dua jenis media sosial yakni Facebook dan Instagram. “Mereka kreatif dan jorjoran promosi. Ke mereka, saya beri harga terjangkau supaya mereka banyak untung. Dan mereka senang,” kata Reihani.

Namun, selama masa darurat COVID-19, bisnis tenun batik Melayu dan tenun batik Batak benar-benar lesu. Nyaris tidak ada penjualan selama dua tahun. “Hanya di akhir Desember 2021 kemarin ada sedikit penjualan. Itupun karena ada pesanan untuk keperluan seminar. Kami bikin tas seminar dari kain tenun batik,” jelas Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Medan Area ini.

Reihani juga sempat bersedih karena bisnisnya yang terdampak pandemi juga menjadi pukulan berat bagi karyawan dan para penenunnya. Namun, para karyawan dan penenunnya cukup pengertian. Reihani mencoba tetap bertahan dengan menciptakan kreasi baru berupa produk-produk lain tetapi dengan berbahan kain tenun batik Melayu atau tenun batik Baik. Diantaranya, masker, tas, kemeja dan lainnya. “Kami juga mencoba membuat motif baru agar usaha ini tetap hidup,” imbuhnya.

Namun Reihani optimis, usahanya bisa eksis menghadapi pandemi ini. Sebagaimana pengalaman di masa lalu, telah membuatnya jadi sosok yang tegar. Dulu, ia bekerja di satu perusahaan majalah di Jalan Surabaya, Medan. Perusahaan itu bangkrut sehingga seluruh karyawannya dipecat, termasuk Reihani, yang saat itu karyawan bagian keuangan. “Sepuluh tahun saya kerja di sana. Sejak itu, saya malas kalau kerja buat perusahaan. Saya ingin mandiri,” urainya.

Dari pengalaman pahit itu, Reihani bangkit. Ia merintis usaha tenun batik Songket dan tenun batik Batak. Uang tabungannya selama 10 tahun itu ia gunakan sebagai modal merintis usaha. “Sejak kecil saya doyan fesyen ternyata kebiasaan itu bisa dikembangkan jadi usaha. Lalu saya mikir, kenapa enggak memulai bisnis fesyen saja?” kenangnya.

Reihani serius menggeluti bisnis fesyen produk tenun Batik Batak dan Batik Melayu karena didorong dua hal. Pertama, kecintaannya pada batik lokal dan tenun. Kedua, peluang bisnisnya menjanjikan. Sebab, tenun batik lokal belum begitu populer. Kain tenun Batak maupun tenun Melayu cenderung hanya dipakai untuk acara seremonial atau perayaan adat. “Saya pikir, fesyen cara tepat untuk mengangkat derajat batik dan tenun lokal,” sambungnya.

Tin Reihani (47) pelaku UMKM tenun batik Melayu dan tenun batik Batak

Untuk memantapkan bisnisnya, Reihani fokus membina dan mengembangkan usahanya dengan merambah dunia digital melalui pemberdayaan media sosial. Sehingga para calon pembeli dapat mengakses informasi produk tenunnya dengan lebih gampang. Ia juga bisa menjual produknya secara online tanpa mengeluarkan biaya beriklan sepeserpun.

Media Relation JNE Medan, Nur Fatiha Utami, untuk mendukung para pelaku UMKM sepasti Titin, perusahaan logistik JNE menyediakan program berupa JLC (JNE Loyalty Card). JLC diberikan untuk para pelanggan setia, agar tiap pengiriman yang dilakukan mendapatkan benefit berupa poin yang dapat ditukar dengan hadiah atau pengalaman menarik.

Selain itu, sambung Tami, khusus JNE Medan memiliki program dan layanan dalam rangka mendukung UMKM di seluruh Sumatera Utara. JNE Medan memiliki ruang khusus pengembangan komunitas, termasuk untuk penyimpanan barang UMKM.

Tami menambahkan, sebagai perusahaan logistik terbesar di Indonesia, JNE berkomitmen dan berkewajiban untuk membangun ekonomi digital, salah satunya seperti yang dilakukan JNE Medan. Program yang dilakukan JNE Medan untuk UMKM tidak hanya dilakukan lewat webinar online, namun juga offline, layaknya program pelatihan desain grafis yang lulusannya diminta untuk berkontribusi membantu para pelaku UMKM, program pendampingan, dan tarif khusus pengiriman bagi pelaku UMKM yang Go Digital.

Kepala Cabang JNE Medan Fikri Alhaq Fachryana mengatakan, jika UMKM ingin bertahan di kondisi sulit, mereka harus siap merambah ke platform digital. Memang kesulitan paling utama yang dialami hampir semua UMKM yakni masalah memasarkan produk tersebut. “Saat ini kita hidup di era digital. Kita butuh marketing tools supaya informasi tentang produk yang dijual bisa tepat sasaran dan jelas,” katanya.

Fikri menandakan, JNE Medan terpanggil untuk lebih fokus memberikan bukti nyata dalam mendukung UMKM di Sumatera Utara, salah satu langkahnya yaitu dengan menyediakan konsultan gratis bagi para UMKM. Kehadiran perusahaan logistik sepasti JNE dengan program-programnya, sangat efektif menunjang tumbuh pesatnya bisnis dari para pelaku UMKM dan pemilik brand lokal. Brand yang memiliki keunikan dan ketulenan gagasan akan melejit dan itu berpotensi mendongkrak perekonomian bangsa kita.

Dosen Ekonomi Bisnis Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Dr. Muhammad Yafiz mengakui pandemi Covid-19 telah menyebabkan dampak ekonomi yang serius. Sejumlah pelaku usaha mengalami kebangkrutan dan terancam gulung tikar akibat kehilangan pasar. Berbagai kebijakan pemerintah untuk membatasi penyebaran Covid-19 menyebabkan aktivitas ekonomi masyarakat secara fisik mengalami kelesuan dan bahkan tutup.

Namun, tanpa disadari Covid-19 ini telah membuka pasar bisnis baru yang disebut pasar digital. Perkembangan pasar digital di Indonesia berkembang pesat. Dari 270-an juta penduduk Indonesia, 125 persen pengguna seluler, 74 persen pengguna internet, 63 persen pengguna media sosial.

Yafiz menambahkan, pasar digital ini terbentuk selain karena Covid-19 juga merupakan konsekuensi Revolusi Industri 4.0. Covid-19 secara tidak langsung telah mempercepat revolusi digital. Sehingga pelaku usaha yang membaca fenomena ini akan memanfaatkan kondisi tersebut sebagai peluang bisnis dengan menjadikan pasar digital sebagai sasaran produknya.

“Di sinilah peran penting pemerintah untuk ikut mengedukasi masyarakat dan pelaku usaha agar melek dan mampu memanfaatkan digitalisasi dalam menjalankan dan mengembangkan usaha mereka,” pungkas Dekan Fakultas Ekonomi Bisnis UINSU itu.

Menyambut ulang tahun #JNE31tahun, Reihani yakin JNE akan terus mendukung para pelaku UMKM lokal dan membawa #JNEMajuIndonesia dan melalui #jnecontentcompetition2021 ini, JNE tetap teguh pada komitmennya memajukan ekonomi digital. (Dedy Hutajulu)

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *