Sorotdaerah.com – Di masa lalu, ratu dan putri bangsawan kerap mengenakan topi sebagai penutup kepala dan tentunya hal itu juga untuk menunjukkan tingkat status sosial seorang ratu. Selain itu topi juga dijadikan sebagai pelengkap dari pakaian yang dikenakan oleh ratu atau putri dari suatu kerajaan.

Berbicara tentang topi, di Kalimantan Timur, ada topi yang dipakai masyarakat untuk kegiatan sehari-hari, namanya seraung. Gunanya sebagai pelindung kepala. Seraung sendiri jamak dipakai masyarakat suku Dayak Kenyah untuk melindungi kepala mereka dari panas matahari dan hujan, atau bisa juga dipakai saat bekerja di ladang, di luar rumah maupun pada acara adat. Seraung hampir mirip dengan caping, akan tetapi ukuran lingkaran seraung jauh lebih besar.

Seraung merupakan hasil kerajinan tangan masyarakat lokal Kalimantan Timur. Berbahan dasar daun biru, sejenis tanaman berdaun palem yang tentunya lebar dan juga besar. Tanaman biru ini banyak tumbuh di rimba Kalimantan. Sebelum membuat seraung, daun biru ini harus dijemur di bawah terik matahari. Setelah daun kering lalu disusun melingkar dan dijahit seperti kerucut.

Yang unik dari seraung ini adalah hiasan di atasnya. Seraung yang sudah kelar dijahit, kemudian dilapisi kain-kain dengan warna cerah seperti merah, kuning, dan biru. Selain dengan kain, seraung juga biasanya dihiasi dengan berbagai manik-manik yang tentunya bermotif ornamen khas suku Dayak.

Dan yang terakhir hiasan seraung juga biasanya menggunakan benang yang disulam dengan berbagai warna sehingga membentuk pola yang diinginkan. Karena terbuat dari bahan daun yang ringan dan mudah sobek, seraung biasanya berumur pendek. Hanya mampu bertahan sekitar satu atau dua tahun.

Karena warna dan motif hiasan  dari seraung ini sangat cantik dan tentunya memanjakan mata, menjadikan seraung sering digunakan masyarakat untuk hiasan dinding rumah saja. Bahkan seraung juga sering dijadikan souvenir khas dari Kalimantan yang banyak diminati para wisatawan. (Bella Aprilia)

Bella Aprilia merupakan mahasiswa Jurusan S1 Kesehatan Masyarakat angkatan 2020 Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Tulisan ini diproduksi sebagai hasil dari belajar Modul Nusantara Ukrida 2021 yang dibimbing oleh Prasasti Perangin Angin, MM selaku Dosen FEB Ukrida.

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *