Cerpen

https://pin.it/5lP5aet

Pesan Singkat Perjodohan

Penny Charity Lumbanraja

Aku selalu menutup telinga. Ucapan-ucapan itu bukan menggelisahkan hati, tetapi rasanya menyedihkan. Ucapan mereka sungguh memusingkan, seolah-olah aku bau sehingga tak ada yang berani mendekat.

Entah mengapa, akhir-akhir ini ibu suka mengajakku untuk pergi menemaninya keluar rumah. Pergi ke pasar, pesta, bahkan sampai ke perkumpulan para ibu tua. Sumpek rasanya ketika melihat para ibu sudah berkumpul. Mulut mereka berkoar-koar. Sampai-sampai kulihat ada yang berbusa. Aku berpura-pura saja seolah tak mendengar dan menghindari setiap perbincangan mereka.

Sebagai supir antar jemput, aku duduk di luar saja. Ada kursi kayu berbahan jepara. Desainnya indah. Ukiran setiap sudut kursinya unik. Belum lagi ada semilir angin berembus dari pohon mangga di pojok halaman rumah itu. Aku bersandar merilekskan tubuh. Rebahkan diri menghilangkan kepenatan dari para ibu yang sibuk dengan mic mereka masing-masing. Mereka sibuk menceritakan kehidupan manis keluarga anak-anaknya. Ada yang baru menikah tak lama lagi langsung brojol, ada yang sudah menimang cucu bahkan yang sampai mulai bersekolah.

Sesekali kulihat dari kejauhan, hanya ibuku saja yang termangu. Sesekali dia melontarkan senyum tipisnya. Kali ini, aku bisa membaca pikirannya. Tiba-tiba aku terusik. Terdengar, aku masuk ke topik konferensi mereka. Salah seorang ibu berjidat keriput sibuk menyinggung soal hidup pribadiku. Pintasnya ke arah ibuku, “Wah, kapan kita pesta, bu’ e. Wis lah, bu. Kapan maneh.” Mendengar hal itu, aku mengernyit.

Kali ini, aku pilih akhir pekan bersama keluarga saja. Rasanya aku butuh suasana pagi yang tak menuntut harus urus diri sendiri. Aku ingin bermanja ria bersama mereka. Sudah kurancang daftar menu makanan apa yang ingin kusantap dari ibu. Beda rasanya masakan sentuhan tangan ibu. Penuh cinta. Namun, harapanku soal ketenangan menguap begitu saja. Libur akhir pekan kali ini bak tragedi. Berbeda dengan bulan-bulan sebulannya. Tiba-tiba saja ibuku di rumah berubah watak. dia rewel dan enggan masak enak untukku. Dia yang selalu bertingkah manis dan meneduhkan hati kini berubah jadi menjengkelkan. Sedikit-sedikit suka berkomentar. Aku salah duduk, salah juga berdiri.

Padahal aku telah memutuskan untuk tak terlalu sering berakhir pekan bersamanya. Meskipun lenggang, aku merasa tak usah pala sering menunjukkan batang hidungku ini ke orang rumah. Pikirku, barangkali jarang berjumpa bakal semakin merindu. Apalagi aku putri mereka satu-satunya.

Kini, pulang ke rumah serasa menakutkan. Ibuku seperti menyambutku dengan kepalan tangannya yang gagah, siap mencekik leherku. Apalagi jika aku pulang masih menyandang status yang sama, tidak punya bakal pasangan. Itu berarti, aku mengantarkan nyawa sendiri ke liang perkuburan. Terdengar menggelikan. Ini antara aku hendak menjumpakan siapa ke siapa. Ibuku mendesakku terus-menerus untuk mencari pasangan. Kesannya seperti dia minta kawin lagi.

“Wong bapak’ e ora akeh komentar (orang bapak aja gak ada komentar)!” tukasku singkat. Ibuku terus mengomel. “Apa maneh kowe ngenteni (apalagi yang kau tunggu). Wis rampung sekolahmu, gaweyanmu uga ana (sekolahmu udah selesai, pekerjaanmu juga ada).

” Nggih Bu, nggih.” Jawabku selalu singkat menyudahi kecerewetannya.

Hari ini urusan selesai, besok lain lagi cerita. Tampaknya, bendera putih tak mampu menyampaikan pesan kedamaian antara aku dan ibuku. Kali ini, dia sungguh-sungguh bakal menerorku. Aku terpaksa menguras keringat supaya dia mau menggencatkan senjata.

Di saat lagi sibuk-sibuknya memikirkan segala jurus sakti mandraguna, tiba-tiba gawaiku berdering. Aku menoleh sedikit. Mungkin hanya pesan singkat tak penting. Barangkali dari orang kesasar yang menawarkan segala bentuk pinjaman. Kuusap sekilas layar hape itu. Aku ternganga. Alamak, bisa pula ada orang yang tak kukenal tiba-tiba menegurku. Anehnya, dia bisa tahu namaku bahkan posisiku kini berada. Aku terkejut dan berpikir keras, mengapa ada orang asing bisa berkomunikasi denganku. Sontak aku bangkit dari rebahan dan menjumpai ibu.

“Bu, kepiye wong asing ngobrol karo aku.” (Bu, kok ada orang asing nge-chat aku). Mata ibu menyoroti wajahku. Pipinya yang licin terlihat sumringah.

“Iku putrane Pak Samad, juragan sapi kampung sebelah.” (Putranya Pak Samad, juragan sapi kampung sebelah). Ibu hanya tersenyum dan memintaku untuk meladeni obrolan tersebut.

“Aku ora duwe niat tuku sapi, Bu.” (Aku gak ada niat beli sapi loh, Bu). Tiba-tiba, dia menyingsingkan lengan bajunya. Memarahiku dengan kata-katanya sambil menunjuk-nunjukku dengan sutilnya yang tua. Dia bahkan sampai terbatuk-batuk. Terdengar cukup berlebihan. Padahal aku tau dia menggoreng makanan yang membuatnya sampai terbatuk begitu. Aku terpojok, tak ada jalan pilihan. Mau tak mau aku mengiyakan perjumpaan yang telah diatur. Kesepakatan para orang tua memang tak mampu terelakkan. Ini menyangkut nyawa dan harga diri.

Esoknya kami berjumpa di titik temu yang telah diatur. Pikirku tak ada salahnya untuk membuka pertemanan. Yang penting hari ini bisa selamat dari cengkraman omelan ibu. Aku tak langsung mengambil posisi, aku menunggu dari balik toko sebelah. Sedikit banyaknya ada rasa canggung dan penasaran bakal seperti apa orang yang akan kujumpai ini. Sayangnya, aku tak bisa mengintipnya dari jarak jauh. Kupandangi terus arena penyebrangan lampu lalu lintas. Sudah berapa durasi aku lewatkan. Akhirnya, meskipun dalam keadaan terpaksa, aku melangkahkan kakiku yang berat.

Tak ada pasang riasan bahkan mode pakaian yang ala kadarnya. Aku menjumpainya di pojok kedai kopi yang dia pilih. Aku menjaga jarak, dan enggan melepaskan maskerku. Apalagi suasananya masih rawan akibat pandemi. Betapa kejut, baru sebentar saja posisiku benar-benar tak nyaman. Pembicaraan yang tak nyambung dan sikapnya yang grasa-grusu. Aku hanya diam dan selalu mengumpatnya dibalik masker yang nyangkut di wajahku. Belum lagi kepulan asap yang dia buang dari hidungnya. Aku juga membayangkan mulutnya seperti knalpot dari sepeda motor tua. Satu dua tak terasa, tak dia sadari aku menghitung sepuluh batang rokok telah membakar paru-parunya. Dia tak sadar orang lain sudah merasa risih dengan lakunya. Suaranya juga begitu menggelegar, aku saja sampai malu bisa semeja dengannya. Ingin sekali aku menyumpal mulutnya dengan tisu bekas yang telah kugunakan. Dalam benakku, tak ingin lagi aku melihat wajahnya.

Esoknya begitu juga. Aku menggerenyotkan mukaku di hadapan ibuku. Pertanda aku tak suka dan kesal. Kewalahan memikirkan beragam cara menolak setiap celah untuk berjumpa. Aku habis akal dan tak berpikir panjang lagi. Ibuku menertawakanku. Dia juga sudah angkat tangan. Akhirnya, aku meneruskan pesan singkat penawaran pinjaman yang masuk ke gawaiku kemarin siang.

 

(*) Penulis bergiat di PERKAMEN (Perhimpunan Suka Menulis)