Home > Cerpen > Aku Tersenyum

Oleh: Rina Silaban

Aku tersenyum dan aku tertawa, nampaknya wajahku begitu jelas mengungkapkan semua perasaan yang ada di dalam hatiku, dan mataku jelas bisa menceritakan semua hal yang tak bisa kuceritakan dengan mulutku. Aku berputar-putar dan menari-nari dengan sepenuh hati, rasanya aku bisa terbang tinggi ke awan, aku bisa menikmati indahnya pemandangan dari atas sini, aku bisa melihat semuanya dengan sangat jelas. Aku tidak bisa berhenti, benar aku tidak bisa berhenti menunjukan semua perasaanku kepada dunia.

Aku tidak akan malu mengakuinya, bahwa aku bisa melihat semuanya dengan jelas. Aku tertawa melihat masa laluku yang ternyata itu lucu pikirku. Namun tiba-tiba saja aku begitu kesal, karena suara ketukan pintu yang begitu keras. Bukan karena apa, hanya saja itu membuat semuanya hilang, dan itu membuat aku sadar bahwa itu hanya ada dalam bayanganku, ketika aku menempatkan diriku menjadi tokoh utama di serial tv yang aku tonton. Hmmm,,, it is just in my imagination.

Segera saja aku membukan pintu, dan aku tidak begitu bersemangat menyambutnya. Tetapi tetap saja aku membiarkannya masuk, tanpa sebuah ocehan. Aku hanya diam, tak peduli akan berapa lama dia tinggal. Kalau tanya apa yang aku kerjakan bersama dengannya di tempat ini? Aku akan jawab “apapun”.  Apapun bisa kulakukan apapun bisa dia lakukan,  I don’t care. Aku memilih diam saja, ya memang kadang kala aku mengikuti apa maunya, jika itu terpaksa dan jika aku merasa setuju dengannya, selebihnya,,,, aku tidak peduli.

Setiap hari berlalu seperti biasanya namun aku tersadar ada beberapa hal yang hilang, ada beberapa hal yang berubah. beberapa diantaranya, aku menyukainya dan beberapa hal, aku begitu tidak menginginkannya. Tapi apa daya, kembali aku hanya membiarkannya mengalir seperti aliran air. Beberapa hal yang kusukai, aku akan bersedia mengulanginya sesuai dengan aturannya, aku melakukannya dengan senang  hati karena aku memang menginginkannya. Namun selama aku melakukannya sepertinya aku tidak mendapatkan apa-apa atau semuanya sama saja, bahkan aku menjadi merasa bosan.

Hal yang terpaksa aku lakukan karena memang harus mengikuti aturannya, sedikit banyak membuat suatu perubahan di dalam diriku. Ya awalnya memang aku begitu terpaksa melakukannya, ya tahulah,, I don’t want it, but I must…. Beberapa kali mengulanginya, masih saja dengan hati yang terpaksa.  Namun aku tersadar di suatu titik dimana saat aku berhenti sejenak dan memutar ingatanku kembali ke masa yang telah berlalu. Hal  itu baik untuk diriku  maupun untuk hidupku. Aku  mendapatkan sesuatu yang baru dalam diriku, sesuatu  yang membuat sebuah kesenangan dalam menjalani hari-hariku yang membosankan. Dan itu membuat senyum yang muncul di wajahku menjadi lebih mudah  dan itu begitu menyenangkan. Bahkan dengan  melihat hal yang sama aku bisa merasakan rasa-rasa yang berbeda setiap kali memandangnya, namun satu yang pasti rasa-rasa itu adalah rasa yang menyenangkan, dan itu tidak membosankan.

Aku berterimakasih kepada dia yang telah mengetuk pintu dan membuyarkan lamunanku, dan membawaku pada sebuah kenyataan. Kenyataan ini begitu berbeda dengan apa yang aku bayangkan sebelumnya dan lebih bahagia dari pada yang dapat aku bayangkan. Bahkan apa yang tak pernah kubayangkan aku mendapatkannya, dan itu membuatku begitu merasa bersyukur dengan diriku yang sekarang ini.

Pintu itu adalah pintu hatiku, dan dia yang kubiarkan masuk dan berdiam adalah Dia yang sebenarnya pemilikku yang sejatiku. Awalnya aku memang tidak menyadarinya, bahkan aku tidak tahu bagaimana dia bekerja namun satu hal yang jelas Dia mengenalku jauh melebihi diriku dan melebihi orang-orang terdekat sekalipun. Aku juga diajari untuk menyadari satu hal dalam hidup ini, dan itu tertulis di dalam sebuah buku, buku dimana Dia menuliskan:

“Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing”.

 

Penulis adalah seorang guru di pedalaman Papua

Leave a Reply