Home > Daerah > Mutiara di Hati Masyarakat

Mutiara di Hati Masyarakat

 

Tidak ada manusia yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik Sang Pencipta

Oleh Lindung Silaban

“Ayo semangat adek-adek!!!” seru Jenny Sigalingging lewat pengeras suara saat ia memimpin permainan bagi anak-anak Dissabilitas Intelektual (DI) di sekolah Tunas Harapan Mandiri Tanjung Anom, Komplek Perumahan Griya 4 Deli Serdang.

Jenny bersama belasan relawan Youth Activation Club (YAC) Medan menggelar Unifeid Sport ke masyarakat sekolah luar biasa (SLB) yang ada di sekitar kota Medan, Deli Serdang dan Binjai.

Kehadiran mereka tak lain tak bukan untuk menghadirkan cinta bagi anak-anak DI yang selama ini asing bagi masyarakat awam.

“Kami ingin mengkampamyekan adek-adek supaya mendapat tempat di hati masyarkat,” ucap Presiden YAC itu, Sabtu (16/2).

Anak-anak DI yang dicap selama ini sebagai anak kurang mampu secara intelektual, ternyata menghadirkan kebanggaan bagi Sumatera Utara (Sumut). Namun mereka menghapus stempel yang melekat itu. Beberapa anak penyandang DI mewakili Sumut dalam berbagai pergulatan seni dan olahraga.

“kami sudah membuktikan dan akan terus membuktikan bahwa kami mampu dan berani mewakili Sumatera Utara dan bahkan mewakili Indonesia dalam ajang kompetisi olahraga Internasional,” Ucap Yuanda dalam pidatonya di acara pembukaan Unifeid Sport
Yuanda salah satu atlet lari 100 M pada Pornas 2018 mewakili Sumut di Riau. Ia juga wakil pemuda Sumut dalam pelatihan National Atlete and Youth leader Summit Spesial Olympics Indonesia di Jakarta tahun 2018.

Pembuktian itu menjadi awal Semangat bagi semua anak-anak DI yang ada di sekolah-sekolah untuk terus maju dan percaya diri di lingkungan masyarakat.
***

Menurut WHO, 15 persen populasi penduduk di dunia adalah penyandang dissabilitas. Sementara di Indonesia ada 10 persen (24 juta). Jumlah ini cukup besar. Peyandang DI termasuk di dalam jumlah 24 juta tersebut.

Mereka membutuhkan perhatian dari semua pihak termasuk pemerintah. Jumlah yang besar itu menjadi tugas semua kalangan untuk menjangkau dan memberi pendidikan secara utuh.

 

Para orangtua mengaku senang jika ada pihak-pihak yang menerima keadaan anak DI. “Kami senang kalau mereka diterima,” imbuh Aidah, salah satu orangtua siswa di SLB THM.

Perhatian kepada anak DI bentuk penerimaan mereka di hati masyarakat. Hal itu yang terus didengungkan organisasi Specialist Olympic Indonesia (SOIna) Sumut ke berbagai sekolah.

SOIna yang menaungi YAC terus berjuang dari sekolah ke setiap sekolah lain. Tak ada imbalan yang mereka harapakan. Tidak ada sesuatu yang mereka terima.

SOIna bersama YAC ingin terus bekerja keras untuk menceritakan anak DI memiliki hak yang sama dengan orang lain pada umumnya. Yakni pendidikan dan pelayanan umum. “Kita suarakan mereka ini diterima di sekolah inklusi. Tidak ada bedanya dengan anak lain,” ajak Sekretaris SOIna Sumut, Mardi Panjaitan dalam kata sambutannya di pembukaan unifeid soccer.

Harapan untuk penerimaan anak-anak penyadangan dissabilitas butuh perjuangan. Sekali mandi harus basah. Peristilahan itu ternyata Mardi amini. Langkah demi langkah mereka jalani. Titik demi titik mereka torehkan. Seakan mereka yakin tak ada perjuangan yang sia-sia.

Semangat itu mendapat dukungan dari setiap sekolah termasuk dari pemilik sekolah THM. “Kalau bukan kita siapa lagi yang akan memperhatikan mereka,” ungkap, Safar Ginting.

Penyandang dissabilitas membutuhkan orang lain untuk melatih kemandirian mereka. “Mereka bagian dari kita. Jangan diasingkan,” imbuhnya.
***

Menjadi bagian dari masyarakat itu mimpi semua manusia. Di terima di masyarakat itu hak semua anak.

Tidak ada satu pun di dunia ini manusia yang suka diasingkan dari sisi kehidupan.

“Penerimaan menjadi kehormatan bagi kita dan bagi mereka yang mendapatkan penerimaan itu,” pesan Mardi. (*)

You may also like
SOIna adakan Train The Trainer
RAKERNAS: Kemajuan SOIna Terletak di Daerah

Leave a Reply