Home > Bisnis > Zaenal, Rintis Usaha Lengkong Kerja Tak Kenal Waktu

Zaenal, Rintis Usaha Lengkong Kerja Tak Kenal Waktu

BERTEKAD kerja mandiri menjadi alasan kuat bagi Zaenal (45), warga Deli Serdang, untuk memulai usaha bisnis lengkong. Ia bosan bekerja pada majikannya, yang tak memperhatikan kesejahteraan bawahan.

***
Sebelas tahun bekerja di pabrik kertas di daerah Bandar Klippa, Kecamatan Tembung, Deli Serdang, dengan loyalitas tinggi, Zaenal hanya diupah sebesar dua juta rupiah. Ketika ia memilih risain, gaji terakhir yang diterimanya hanya Rp 2,5 juta, ditambah pesangon Rp 20 juta.

“Itupun setelah kami demo berkali-kali baru pesangon cair,” ungkapnya saat ditemui di belakang rumah produksi lengkongnya di Jalan Surya Haji Ujung, Dusun 2, Desa Lau Dendang, Percut Seituan, Deli Serdang, Senin (1/10) sore.

Zaenal (45) sedang menunjukkan daun lengkong di gudangnya.

Zaenal mendadak menghentikan aktivitasnya mengarit rumput di pekarangan belakang pabriknya, demi menyambut kedatangan saya. Padang rumput hijau terbentar sekitar separuh lapangan bola kaki. Di belakang pabrik lengkongnya itu, Zaenal juga mendirikan kandang untuk ternak kambing dan lembu. Saat ini kambingnya hanya sekitar 30-an ekor dan sapi 20-an ekor. Lantaran sebagian sudah laku terjual.

Sembari bertelanjang dada, ayah tiga anak ini mengajak saya duduk di potongan kayu untuk berbincang. Ia mengambil air putih yang dikemas dalam botol plastik cocacola bekas. Dua tiga teguk membasahi tenggorokannya sebelum kami bercakap-cakap. Keringat berbulir di sekujur tubuhnya. “Ya beginilah. Musti kerja keras,” katanya memulai pembicaraan. Embikan kambing ditingkah lenguhan sapi mewarnai percakapan kami sore itu.

Zaenal bercerita banyak soal tercetusnya gagasan untuk bekerja secara mandiri. Ia kerap nongkrong dengan teman-temannya. Ia bertemu Sukirno yang sehari-hari bekerja mengantarkan lengkong milik majikannya ke para pelanggan di pasar-pasar tradisional di Kota Medan. Mendengar cerita Sukirno soal prospek lengkong, Zaenal terpikat.

Diam-diam ia merencanakan untuk membangun usaha lengkong sendiri. Pelan-pelan ia menabung. Menyisihkan gajinya untuk disimpan sebagai modal membuka usaha. Ia juga mulai mempelajari bagaimana membuat lengkong, bahannya apa dan bagaimana menjualnya.

Lima tahun Zaenal komitmen menabung gajinya. Terkumpul uang Rp 40 juta. Ia juga meminjam uang dari Bank Pundi, yang sekarang bernama Bank Banten, senilai 80 juta. Jadi modal usahanya genap Rp 120 juta. Dana itulah yang digunakannya untuk membangun rumah produksi, membeli mesin air, beko, kaleng-kaleng cetakan, empat unit beca motor dan menggaji tiga orang karyawannya.

Untungnya, Zaenal punya tanah seluas 800 meter persegi. Tanah warisan dari orangtuanya. Di atas tanah warisan itulah ia mendirikan rumah produksi dan kandang ternaknya. “Cerita Sukirno soal lengkong menarik hati saya. Saya juga lihat usaha lengkong orang di Jalan Pancing, Medan, berhasil. Makin termotivasi saya,” terang Zaenal.

Dengan modal di tangan, Zaenal langsung ‘tancap gas’. Ia merekrut tiga orang pekerjanya yang digaji sesuai UMR (Upah Minimum Regional). Tetapi Zaenal tidak otomatis keluar dari tempat kerjanya di pabrik kertas. Ia tetap bekerja di sana hingga dua tahun kemudian, sebelum akhirnya benar-benar memutuskan berhenti bekerja.

“Tantangannya waktu itu, saya harus bolak-balik meyakinkan istri saya. Karena duit 120 juta itu kan gede. Istri saya kuatir kalau-kalau saya gagal, dan duit itu habis. Sungguh tak mudah waktu itu meyakinkannya,” jelasnya.

Selama enam bulan pertama, Zaenal bekerja keras. Ia bekerja seperti mesin, nyaris tak kenal waktu. Sepulang kerja dari pabrik kertas pukul 3 sore, ia langsung meluncur ke rumah produksinya. Ia memasak daun lengkong dan mencetaknya sendiri hingga pukul 12 malam. Pukul 4 pagi, ia sudah bangun dan mengantarkan lengkong-lengkongnya ke pasar-pasar tradisional di Medan, dengan baik beca mesin.

“Pukul tujuh pagi, semua lengkong-lengkong itu sudah selesai saya antarkan. Jam delapan saya masuk kerja. Jadi semua saya atur sedemikian ketat waktu saya,” imbuh lelaki pekerja keras ini.

Zaenal menyadari, kolaborasi menjadi kunci agar usahanya sukses. Karena itu, ia bekerja sama dengan Sukirno yang punya jaringan luas tentang langganan di pasar-pasar. Ia menjadi Sukirno sebagai mitra kerjanya. Dengan dua orang pekerja, usaha lengkong pun mulai berjalan. Zaenal pun bekerja ekstra, sampai-sampai sering batuk-batuk. “Namanya merintis, enggak ada yang enak,” ujarnya.

Melihat beratnya pekerjaan yang dilakoninya, Zaenal sempat kewalahan dan nyaris berhenti. Namun ia tak mau mundur. Ia terus bertahan. Dengan mempertahankan pola kerjanya yang tak kenal waktu, tak disangka dalam tiga tahun, ia sudah balik modal. Pinjaman ke bank terlunasi. Bahkan, ia masih mengantongi duit ratusan juta hasil keuntungan usaha lengkongnya.

“Lalu saya beli tanah seluas seratus meter persegi. Saya beli mobil pikap. Saya bangun kandang sapi dan kambing. Saya beli 60 ekor sapi dan 50 ekor kambing. Ternak itu saya kasih dikelola abang saya, Bang Ahmad,” urainya.

Melihat usahanya maju, Zaenal resmi memutuskan resain dari pabrik kertas itu pada 2014. Alasannya, karena suasana di tempat kerjanya sudah tidak nyaman lagi. Karena sejak tauke pertamanya meninggal, manajemen perusahaan menjadi tidak bagus. “Tauke meninggal, kami tak diberi pesangon. Terus kami lihat, banyak pekerja dikurangi dan tidak digaji. Kami melihat tauke pengganti ini tidak fair. Sehingga saya memutuskan keluar,” ungkapnya.

Meski sekarang ini kompetisi usaha lengkong begitu kuat, Zaenal tak pernah takut. Sebab, ia punya ribuan pelanggan yang tersebar di pasar-pasar di Kota Medan. Zaenal memastikan mutu lengkongnya terbaik dan barang selalu sampai tepat waktu ke tangan pelanggan. “Kalau jelek, saya siap ambil kembali lengkong saya. Saya siap rugi. Yang penting pelanggan jangan sampai kecewa,” imbuh lelaki tamatan SMA itu.

Usaha pabrik lengkong milik Zaenal kini pesat. Dalam sehari, ia mampu memproduksi satu ton dua ratus kg loyang lengkong. Bahan bakunya dibeli dari Pulau Jawa dan Binjai. “Saya beli daun lengkong sebanyak dua ton dari Jawa dan 600 kg dari Binjai. Itu habis untuk 10 hari,” sebut penduduk Jalan Haji Sariman, Dusun Kamboja, Desa Laut Dendang, Kecamatan Percut Seituan, Deliserdang, Sumut itu.

Sekarang Zaenal juga sudah memiliki enam karyawan yang bekerja mulai pukul 9 pagi hingga 4 sore. “Mereka saya gaji sesuai UMR. Makan siang, rokok, minum saya sediakan. Sehingga mereka bawa pulang gajinya bersih,” timpalnya.

Selain itu, Zaenal juga membangun gudang kayu dan gudang penyimpanan daun lengkong. Gudang kayu itu dimanfaatkan untuk memastikan ada stok persediaan kayu bakar saat-saat menjelang hari raya. Sebab, permintaan lengkong meningkat memasuki hari raya.

“Seminggu kami butuh kayu sebanyak satu truk. Harganya Rp 1,6 juta. Kalau bulan puasa, kami harus punya stok minimal 15 truk kayu. Di bulan Puasa, permintaan lengkong meledak. Kami bisa memproduksi 15 ton lengkong per hari. Dan saya harus rekrut 30 orang pekerja,” sambungnya.

Perjuangan merintis usaha, menurut Zaenal, butuh kesabaran. Bukan hanya dalam bekerja, tetapi juga menerima kritikan dan makian dari pelanggan. “Awal merintis itu, saya sering kecewa pada pelanggan. Beberapa kali lengkong jelek karena daunnya rusak, saya langsung dimaki-maki pelanggan, lengkong dipulangkan. Tapi ya, saya terima,” katanya.

Kesabaran, tahan banting dan tahan uji, kata Zaenal, dibutuhkan oleh siapapun yang merintis usaha. “Ketika penolakan datang, pesan saya, jangan nyerah. Makin kerja keras. Kalau ada tantangan dan kesulitan, ya ditahankan saja. Pertahankan usaha. Apalagi kalau usaha sudah berdiri, banyak tantangannya,” pungkasnya.

Kisah sukses Zaenal merintis usaha lengkong layak untuk direplikasi. Sehingga semakin menambah jumlah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang mampu menyerap angkatan kerja. Dukungan pemerintah juga amat diperlukan sehingga potensi 59,70 juta UMKM di tanah air bisa dioptimalkan dalam menyerap tenaga kerja yang pada gilirannya terjadi pertumbuhan ekonomi nasional. (Dedy Hutajulu)

 

You may also like
Penolong Itu Bernama Bank Sumut
Kadin Siap Jadikan Produk UMKM Binjai Komuditas Ekspor Andalan

Leave a Reply