Sorotdaerah.com – Namanya Afriani Damanik. Ia awalnya tercatat secara resmi sebagai warga Tapteng. Namun ia kini tinggal di Deliserdang, bersama suaminya Rudi Prada Sari Sihite (26 tahun).

Afriani menderita sakit penyakit. Belum pernah diperiksa, namun dugaan kuat, ia mengidap tumor di payudara. Di tengah pandemi Covid-19 ini, ia makin gentar lantaran Sumatera Utara masih rawan dengan wabah virus Corona. Belum lagi perilaku masyarakat yang tidak memiliki kesadaran tinggi menerapkan anjuran protokol kesehatan.

Sebagai perempuan yang menderita sakit penyakit menahun, Afriani jelas memiliki kekuatiran besar atas ancaman pandemi Covid-19. Selain masalah kesehatan, persoalan ekonomi turut memperparah rasa kuatir keluarga ini. Sudah beberapa bulan ini, suaminya tidak kerja lagi lantaran sakit.

Karena itulah, Afriani mengharapkan bisa segera berobat dengan memanfaatkan Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang dia miliki. Sayangnya, kartu sakti KIS itu tidak bisa diandalkan karena identitas kependudukan Afriani masih tercatat sebagai warga TaptengĀ  bukan Deli Serdang.

Dalam kondisi saat itu sedang sakit dan ketiadaan uang, ia pun meminta bantuan ke Yayasan Peduli Pemulung Sejahtera (YPPS) untuk menguruskan kepindahan domisilinya dari Tapteng ke Deli Serdang.

Afriani Damanik, penderita diduga tumor kesulitan urus surat pindah domisili

Afriani meminta bantuan ke YPPS, karena ia tahu sepak terjang yayasan pemulung yang selama ini begitu getol membela kaum marjinal. Uba Pasaribu, Ketua YPPS pun merespon dengan baik. “Langsung saya hubungi Dinas Capil Tapteng, melalui pegawainya, karena kita sudah pernah berkomunikasi dengan mereka sebelumnya,” terang Uba.

Uba menerangkan duduk perkara kasus identitas ini adalah sulitnya mengurus surat keterangan pindah domisili. “Dari Tapteng memang dikirim tetapi lama kali dan berbelit-belit. “Iya-iya, kami kirim pun, begitu selalu jawaban mereka by phone tetapi enggak kunjung dikirimkan. Sebulan juga tak dikirim-kirim. Capek saya menunggunya,” gerutu Uba.

Sementara, terus menunggu tanpa kepastian mendapatkan surat pindah itu membuat Afriani makin kecewa. Penyakitnya bukannya membaik, malah tambah buruk. “Tolong jo au bapa, ndang mampu hami mambuat surat pinda. Lagian ndang adong hepeng nami lao tu Tapteng. Helamu pe karejo so karejo do sonari ala hona tipa bosi namasai. Boama karejo di sepe do Ninna si Afriani tikki mangadu tu au. Bah malakke ate-atekku mambege,” kata Uba.

Terjemahan kasarnya begini. “Tolong bantu saya, Pak. Kami enggak punya duit. Enggak ada ongkos kami jika harus pergi ke Tapteng. Suamiku pun tidak kerja lagi karena ketiban besi tempo hari. Maklumlah, Pak suamiku kerja si CV,” terang Uba menirukan ucapan Afriani.

Uba bolak-balik menghubungi baik Dinas Catatan Sipil baik di Tapteng maupun di Deli Serdang. Kabid bagian mutasi identitas Tapteng meminta Uba mengantarkan KTP dan KK milik Afriani dan suaminya ke Disdukcapil Deli Serdang.

Uba pun menyanggupinya. Hari itu juga dia antarkan ke Lubuk Pakam, sesuai prosedur yang dibikin Capil Tapteng. Dengan menuruti prosedur itu, Uba berharap, pihak Capil Tapteng serius menindaklanjuti pengurusan surat kepindahan domisili pasutri Rudi-Afriani.

Uba sempat yakin, tak lama lagi, Capil Tapteng akan segera mengirimkan surat pindah domisili Rudi dan Afriani ke Capil Deli Serdang. Namun kenyataan berbicara lain. Capil Tapteng tak juga membereskannya.

“Kutunggu jawaban sebulan namun tak ada. Petugas di Capil Lubuk Pakam bilang, jemputlah berkas surat pindah ke Tapteng, soalnya tak ada respon dari Capil Tapteng,” urai Uba menirukan penjelasan petugas di Capil Lubuk Pakam.

Uba mulai naik darah. Ia merasa dikibuli oleh petugas capil. Ia sudah niat baik membantu agar masyarakat marjinal bisa memiliki identitas, yang seharusnya itu urusan catatan sipil. Namun niat baik dan perjuangannya tak dihargai.

Uba pun segera menulis di media sosial Facebook. Ia memosting video tentang Afriani, pengidap diduga tumor di payudara yang kesulitan mengurus surat pindah domisilinya oleh tebal dan berbelitnya tembok raksasa birokrasi di dinas catatan sipil.

Hanya hitungan 24 jam, pasca viral postingan itu, secara online surat keterangan pindah domisili atas nama Afriani dikirimkan oleh pihak Capil Tapteng ke Deli Serdang. Begitu surat pindah itu dikirim, hanya sebentar saja, Kartu Keluarga milik pasutri Rudi-Afriani langsung dicetak di Dinas Capil Deliserdang.

“Karena sudah tak jelas responnya, kuposting tulisan di Fesbuk. Ku tag nama Bupati. Esoknya persoalan surat pindah domisili itu beres. Ngeri kan?” terang Uba.

Kini Afriani telah memiliki kartu keluarga. Ia bahagia karena akhirnya bisa mendapatkan hak identitasnya. “Ini jadi pertanyaan besar buat kita. Mengapa setelah viral dulu di sosmed baru direspon? Apakah suara marjinal memang tak mau didengar lagi?” tegas aktivis kaum marjinal itu. (Redaksi)

Tentang Admin

Redaksi

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan