“Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.“ Ungkapan ini populer di tengah masyarakat kita.

Fitnah adalah perkataan bohong dan tanpa kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan dan merendahkan orang lain. Ini merupakan tindakan sadis yang dapat membunuh karakter dan merusak nama baik, bahkan menghancurkan kehidupan seseorang.

“Virus Corona memang berbahaya. Tetapi virus hoax jauh lebih berbahaya.“ Pernyataan ini sering kita dengarkan, yang menyingkapkan konsekuensi penyebaran berita bohong di tengah masyarakat, termasuk di tengah pandemi Covid-19 yang sedang kita hadapi saat ini.

Jika virus hoax dibiarkan merajalela, dipastikan akan semakin banyak korban yang berjatuhan, baik secara fisik maupun physikis.

“Ndada sian dia, da mula ni utte malau on ito da. Sian lobi siregar, sahat ma i tu pansurbatu on ito da. Ndada sian dia da mula ni hata tu au ito da. Sian si ganjang dila sahat ma i tu ahu on ito da. Marsambilu-sambilu, marsambola-sambola. Songon piso balati, da dila ni pamola-mola on ito da.”

Lagu yang dipopulerkan Amigos Band ini mengungkapkan kerusakan dan kehancuran yang diakibatkan oleh penyebar berita kebohongan yang dapat merusak hubungan sosial dan persaudaraan. Sahabat karib sekali pun bisa berubah menjadi musuh bebuyutan akibat ulah pemberita bohong. Suami-istri bisa cerai, pertengkaran bahkan perang bisa terjadi akibat fitnah lidah pembohong.

Betapa berbahayanya berita bohong, dusta dan fitnah. Tuhan dengan tegas melarang umatNya untuk berbohong. Dan, salah satu penekanan dari Dasa Titah adalah. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu (titah kesembilan).

Penjelasan Martin Luther tentang titah ini adalah: Kita harus takut kepada Allah. Sebab itu, jangan kita mendustai, menghianati, memfitnah maupun bersaksi palsu serta merendahkan martabat orang lain. Kita harus saling melindungi dan menyatakan hal-hal yang baik saja mengenai sesama manusia, apabila belum nyata dan jelas diketahui kesalahannya.

Firman Tuhan dari kitab Keluaran hari ini juga menekankan supaya kita bersikap jujur dan adil. Dalam perkataan dan perbuatan, hendaklah kita berorientasi pada prinsip mendasar jujur dan adil ini.

Sikap jujur dan adil harus ditunjukkan melalui dua hal pokok dan mendasar. Yang pertama, bicara benar. Setiap perkataan yang keluar dari mulut kita harus sudah teruji kebenarannya. Lebih bagus diam, seribu bahasa daripada bicara tentang sesuatu yang tidak kita tahu, apalagi mengungkapkan sesuatu yang kita sadari bahwa itu tidak benar.

“Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong!“

Imperatif Firman Tuhan yang singkat dan tegas. Kebohongan tetaplah kebohongan dan itu bertentangan dengan kehendak Tuhan. Tindakan menyebarkan kebohongan memang sadis, karena itu dapat merugikan pihak-pihak yang terkait bahkan masyarakat luas. Tindakan itu dapat mengganggu kenyamanan dan kehidupan orang lain. Itu adalah pelanggaran terhadap hak asasi manusia – hak mendasar, untuk mendapatkan kebenaran dan rasa nyaman.

Jika ada sesuatu gosip tentang seseorang yang kita rasakan merendahkan dan merusak citra orang tersebut, jangan kita ikut-ikutan menyebarkannya. Manusia “Zaman Now“ banyak yang dengan sadar atau tanpa sadar menyebarkan hoax. Terutama dengan gampangnya berbagi informasi melalui media sosial. Hanya dalam hitungan detik, postingan sudah menyebar kemana-mana.

“Hati-hati dengan jarimu!” Sekali saudara click, send atau kirim,“ apa pun isi kiriman itu tidak akan dapat dikontrol lagi. Tidak dapat dihapus, tidak dapat ditarik kembali. Sadar atau tidak, mau atau tidak, orang yang mengirimkan itu harus mempertanggungjawabkan apa yang dikirimkan itu.

Undang-undang ITE jelas menyatakan, ancaman pidana bisa dikenakan kepada orang yang menyebar hoax. Ganjarannya, bisa mendekam di balik jeruji. Tentunya itu tidak enak.

Karena itu, kita harus lindungi diri kita, keluarga kita dan orang-orang yang dekat dengan kita supaya kita kembangkan budaya bicara benar. Jangan suka menambah-nambahi atau mengurang-kurangi informasi yang berujung pada berita hoax. “Ya jika ya. Tidak jika tidak. Lebih dari itu berasal dari si jahat.” Katakan sejujurnya, jangan ada dusta di antara kita!“

Sikap mendasar yang kedua adalah: Bertindak adil! Bertindak adil berarti melalui perkataan dan perbuatan kita, kita mengupayakan yang terbaik bagi sesama kita: anggota keluarga kita, tetangga kita, masyarakat di sekitar kita, atau siapa pun.

Motivasi pertama dan utama dari lubuk hati kita terhadap orang lain adalah “I wish you well. Semoga anda baik-baik saja.” Kita menginginkan hidup orang lain baik-baik saja.

Kita menginginkan sesama kita: sehat, kuat, sejahtera, sukses, memiliki reputasi baik, meningkat penghasilannya – tidak terkena virus corona. Bahkan kita berdoa agar dalam kehidupan mereka terwujud 3H (hamoraon, hagabeon hasangapon.”

Jika motivasi mendasar ini ada dalam diri kita, berarti hati kita masih sehat. Kita yakin Roh Kudus masih bekerja di hati kita. Kita adalah orang yang memiliki inner beauty (kecantiakn dan keindahan dari dalam) dan inner strength (kekuatan dari dalam).

Orang yang memiliki kekuatan yang tidak terkalahkan dan yang hatinya menyala-nyala dengan cinta dan kebaikan, akan selalu menginginkan yang terbaik terjadi dalam hidup orang lain. Dia akan senang memberitakan kebaikan orang lain dan tidak akan mau memberitakan kekurangan sesamanya.

Sebaliknya orang jahat menginginkan kehidupan orang lain hancur, rusak, keluarganya susah dan berantakan. Dia akan berkata. “Taonhon disi…! Jalo ma jambarmu! Nunga hutanda ho! Nga dijalo ho be kan?“

Wah, ini adalah sikap yang sangat sadis. Yang berkecamuk di hatinya adalah iblis dan segala sikap kejahatan. Ini bukan sikap anak Tuhan. Ini bukan sikap orang Kristen.

Setiap pengikut Kristus harus memiliki sikap yang jelas menginginkan kebaikan dan berkat-berkat dalam hidup sesama. “Jika saudara tidak bisa membuat dia bahagia, jangan buat dia sedih dan menangis. Jika saudara tidak bisa membuat dia tertawa, jangan buat dia tertekan. Jika saudara tidak bisa memberikan pekerjaan yang lebih baik baginya, jangan ganggu pekerjaannya. Jika saudara tidak dapat menolong dia, jangan halangi orang lain untuk menolong dia.”

Firman Tuhan menuntut kita untuk melakukan yang terbaik bagi sesama – bagi orang lain. Karena itu, jikalau kita melihat lembu kambing atau ternaknya tersesat, kita harus berupaya mengembalikan itu kepada pemiliknya. Jika kita melihat keledai terjatuh karena bebannya terlalu berat, kita harus berupa menolongnya dengan mengurangi bebannya dan menbantu supaya dia dapat berdiri.

Salah satu implikasi dari sikap adil adalah menjauhkan pikiran dan sikap yang “Corrupt.” Pikiran corrupt adalah hasrat untuk memberi dan menerima pemberian yang tidak pantas, yakni suap. Tuhan jijik dengan perbuatan suap. “Suap janganlah kau terima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar.”

Inilah yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita dalam beberapa dekade terakhir ini. Tindakan suap dan gratifikasi merasuki semua sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena itu, sering dikatakan, bahwa korupsi di tanah air sudah seperti kanker stadium 4. Artinya. Sudah sangat parah. Sulit menemukan institusi yang bebas dari korupsi.

Sangat sulit mendapatkan orang yang benar-benar bersih dari sikap dan tindakan korupsi. Apa yang dikatakan oleh Pdt. Dr. Sutan Hutagalung (Mantan Sekjend GKPI) beberapa dekade yang lalu dengan istilah 4K benar-benar kenyataan. Dia katakan 4K artinya: Korupsi tidak bisa dikoreksi oleh korektor-korektor yang sekaligus juga koruptor.

Tidak mengherankan, suap dan korupsi semakin merajalela. Kita mungkin tidak banyak berurusan dengan masalah korupsi di lingkungan kerja kita, tetapi kita dapat memberikan pengaruh, jika kita mulai hidup jujur dan adil mulai dari hal-hal yang kecil. Semakin banyak yang peduli dengan sikap jujur dan adil, perubahan besar bisa diharapkan terjadi dalam kehidupan ini.

Bagaimana pun kondisi dan situasi hidup yang kita hadapi atau saksikan di lingkungan sekitar kita, jangan pernah kehilangan harapan. Kita dapat bertahan seperti hamba-hamba Tuhan yang tetap bertahan dan berbunuat di tengah masyarakat corrupt. Dengan pertolongan Tuhan, niscaya kita akan bertahan, dan tak mudah diombangambingkan oleh roh zaman yang kompromistis bahkan oportunis dengan kejahatan dan dunia yang koruptif.

Satu kecenderungan yang kita saksikan di dunia sekarang ini adalah semakin banyak orang yang gampang menyerah, kompromistis bahkan oportunis dengan roh zaman. Apa yang populer dengan istilah “manusia zaman now,” semakin banyak yang tidak peduli dengan nilai-nilai moral dan etika. Kenyataan itu tercermin di media-media sosial, media massa dan di dunia politik. Banyak orang yang begitu gampang tergoda menyebar hoax dan menjalani kehidupan yang corrupt – memberi dan menerika suap dan gratifikasi.

Banyak orang yang tidak takut melawan kata hati, yang penting secara ekonomis, social dan politik lebih menguntungkan dan bisa tetap berada di zona aman. Banyak orang yang takut menyuarakan kebenaran dan keadilan, sehingga kata hatinya semakin tertekan dan imannya tidak bisa bertumbuh dan berbuah. Itu terjadi, karena ketidakmampuan dan ketidakmauan melihat kuasa kasih karunia Tuhan yang jauh lebih tinggi dan mulia.

Jika kita hidup konsisten dalam disiplin diri yang berorientasi pada kebenaran dan keadilan, dan tetap warpada terhadap godaan suap dan gratifikasi, serta peduli akan kesejahteraan orang lain, maka Tuhan akan memakai kita dengan cara yang mungkin tidak terbayangkan – menyinari kehidupan di dunia ini.

Saya yakin dan percaya, Tuhan akan memakai saudara dengan cara yang unik dan berpengaruh luas. Karena itu, tetaplah pertahankan sikap mulia: berkata benar dan berlaku adil dalam hidup ini!

Dear friends, I wish you a blessed and joyful Sunday! Let’s see every day and every time God’s goodness. God is rich in mercy. His love and mercy protect us, guide us and bring us to peaceful state of life. Be happy, grateful and SMILE…!”

Kotbah Pdt. Dr. Deonal Sinaga
Praeses HKBP Distrik XXI Banten

Tentang Admin

Redaksi

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan