Sorotdaerah.com – Malam itu di tahun 2013 silam, mendadak mati lampu di Kota Medan. Penduduk di Gang Seto, Jalan AR Hakim, Medan Area, sedang pulas tidur. Mendadak, langit benderang. Api berjilam-jilam membakar dua rumah. Tiga orang sekeluarga berpulang.

Kenangan pahit itulah yang terus diingat Andi Firman (52 tahun), penduduk Jalan Seto, Lorong Jenggot, kelurahan Tegal Sari II, Kecamatan Medan Area. Tak hanya kehilangan saudaranya, Andi juga harus kehilangan tempat tinggal dan barang-barangnya. Menyusul kemudian, di hari berikutnya kakinya pincang akibat terkena peluru nyasar dan karena makin busuk, terpaksa harus diamputasi (dipotong). Kemalangan beruntun menimpa dirinya.

“Aku jadi cacat akibat kena peluru nyasar. Sedangkan kepergian keluargaku terjadi saat kebakaran melanda dan memporak-porandakan semua termasuk saudaraku meninggal waktu itu,” tutur Andi Firman.

Peristiwa kemalangan itu juga turut menghanguskan seisi rumah termasuk berkas-berkas penting juga identitas kependudukan Andi. Sehingga ia tak lagi punya kartu penduduk dan kartu keluarga.

“Kartu Keluargaku ikut terbakar. Dan aku tak tau gimana cara mengurusnya. Bantulah aku, Pak, mengurus KTP-ku,” pinta Andi kepada Ketua Yayasan Peduli Pemulung Sejahtera Uba Pasaribu, saat ditemui di kediamannya, Selasa (4/8).

Andi Firman menerima bantuan beras dari Yayasan Peduli Pemulung Sejahtera

Uba nekat mendatangi rumah Andi, karena mendapat kabar dari masyarakat kalau lelaki berkaki satu itu sedang melarat. Ia hidup dalam keprihatinan. Ia sama sekali tidak memiliki sumber penghasilan lagi sejak pandemi Covid-19 melanda.

Sebelum wabah virus corona menyambangi tanah air, Andi masih bisa menafkahi dirinya dengan melukis. Dan lukisannya bisa dijual ala kadarnya. Pandemi telah memaksanya hidup semakin melarat. Tak ada lagi orang yang membeli lukisannya. Tak ada pula lagi modalnya untuk membeli cat dan kanvas.

Selain melukis, Andi juga masih punya keterampilan lainnya yakni bermain piano. Dulu, ia sesekali diundang orang untuk bermain piano (keyboard). Hasil dari bermain piano membantu kebutuhan sehari-harinya.

Tetapi langka sekali orang yang mau memesannya bermain piano karena ia cacat fisik. Orang merasa lebih baik mencari pemusik yang fisiknya sempurna. Maka nasib Andi pun kian terpinggirkan.

Selama pandemi yang berlangsung sejak Februari di tanah air, Andi nyaris makan sekali sehari. Sebab ia tak berduit. Hanya karena kebaikan hati oranglah ia bisa mendapatkan makanan. Di dekat kediamannya saat ini, ada proses pembangunan rumah.

Kartu penduduk Andi Firman, tuna daksa, korban kebakaran rumah pada 2013 silam

Para tukang bangunan itu berempati padanya. Setiap hari Andi dibagi makanan oleh tukang bangunan itu. “Untunglah ada pak pekerja bangunan di sebelah rumahku ini, makanya aku bisa makan. Kalau tidak mungkin, aku tak tau lagi,” katanya.

Uba Pasaribu bersama Tim Yayasan Peduli Pemulung Sejahtera (YPPS) segera menjenguk Andi di rumahnya. YPPS datang berkunjung sekaligus memberikan bantuan sembako. Selain itu, Uba juga mendampingi Andi mengurus identitasnya ke kantor Catatan Sipil Pemko Medan.

Andi naik tangga ke lantai lima demi mengurus pembuatan Kartu Keluarganya. Ia berjuang naik tangga dengan hanya satu kaki dan bantuan tongkat. Di kantor Catatan Sipil Kota Medan, belum ramah terhadap difabel. Tidak tersedia lift atau elevator bagi orang berkebutuhan khusus seperti Andi yang mengalami tunadaksa. Sehingga Andi berjuang sendiri naik turun tangga demi mendapatkan identitasnya.

“Harusnya Dinas Catatan Sipil Kota Medan menyiapkan cara atau akses khusus bagi kaum difabel saat mereka mengunjungi kantor Dinas Catatan Sipil,” tandas Uba.

Uba meminta, siapa pun yang memegang kendali atas penggunaan anggaran untuk masyarakat terdampak Covid-19, agar memperhatikan masyarakat marjinal seperti Andi ini.

“Hidup susah, tapi sampai hari ini sama sekali tidak mendapatkan bantuan. Ia diberi makan oleh tukang bangunan. Padahal undang-undang menyatakan, fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Saya curiga, jangan-jangan tukang itu adalah negara?” pungkasnya. (Redaksi)

Tentang Admin

Redaksi

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan