Sorotdaerah.com – Setelah dikunjungi di rumahnya di Pancurbatu, sehari sebelumnya, Yudi Maryanto (37) pun mendatangi kantor Yayasan Peduli Pemulung Sejahtera (YPPS) Km 13 Medan Binjai. Kedatangan kuli bangunan ini demi mendapatkan sembako berupa 15 kg beras.

Yudi datang bersama seorang anaknya, dengan meminjam becak tetangga. Ia tempuh perjalanan jauh dari pelosok Pancurbatu menuju Km 13 Medan Binjai. Semua itu ia lakukan agar mereka bisa makan.

Yudi Maryanto adalah ayah bagi tiga anaknya. Pekerjaannya saat ini kuli bangunan dengan penghasilan yang kecil. Sedangkan istrinya hanya ibu domestik yang mengurusi rumah tangga. Pasutri ini tidak memiliki pendidikan formal alias tidak pernah bersekolah.

Ketiadaan pendidikan menyulitkan pasutri ini untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Harapan mencari kerja pun minim. Karena sedikit sekali dan mungkin nyaris tidak ada instansi atau perusahaan yang mau menerima seseorang yang tidak pernah bersekolah. Karena itu, Yudi berjuang dengan mengerjakan apa saja asal halal.

Pasutri ini jelas merupakan satu dari ribuan kaum marjinal yang hidup di Kota Medan. Ia dan istrinya Muliana (33) merantau dari Jawa Tengah ke Sumatera Utara demi mengubah nasib. Dulu, pasca menikah, Yudi pindah dan bekerja jualan mainan di kota Bogor. Di sana, ia bertemu lelaki marga Gultom, taipan sawit asal Tapanuli Selatan. Ia ditawari bekerja si ladang sawitnya dengan iming-iming bergaji Rp 1 juta perbulan.

“Awak tertariklah karena hanya disuruh menjaga ladang sawitnya. Jadi berangkatlah aku, istriku dan anakku naik bus dari Bogor ke Medan lanjut ke Tapsel,” terang Yudi.

Yudi (33), kuli bangunan bersama anaknya menjemput bantuan beras di kantor Yayasan Peduli Pemulung Sejahtera

Namun apa yang terjadi jauh dari yang dijanjikan pengusaha sawit itu. Hanya di bulan pertama, Yudi dikunjungi dan diberi gaji. Bulan-bulan berikutnya, Gultom jarang datang. Sementara Yudi butuh uang untuk menafkahi anak-anaknya. “Makanya, awak pun nyambi jadi tukang bangunan. Hanya 8 bulanlah awak bertahan di sawitnya itu. Dari situ awak ke Karo, terus ke Medan ini,” pungkas Yudi.

Selain kemiskinan, hal lain yang mendera adalah ketiadaan identitas kependudukan. Yudi pernah dipersulit oleh aparat pemerintah di tingkat bawah dalam pengurusan kartu keluarga. Hingga kemarin, ia tidak memiliki Kartu Keluarga. Setelah dibantu Tim YPPS, terbitlah KK-nya namun, masih menyisakan persoalan lain yaitu belum ada Kartu Penduduk (e-KTP).

Yudi mengatakan, penerbitan e- KTP nya harus menunggu 1,5 bulan ke depan. Karena itu, kuli bangunan ini benar-benar kecewa dan mengeluhkan lambannya penerbitan KTP-nya. Sementara mereka sekeluarga hendak mengurus kepesertaan BPJS Kesehatan.

“Walaupun kami orang susah, Pak, ingin sekali kami bisa menyekolahkan anak kami setinggi-tingginya. Karena itulah kami berusaha mengerjakan apa saja asal halal,” imbuhnya.

Uba Pasaribu bersama Yudi, si kuli bangunan

Uba Pasaribu dari Yayasan Peduli Pemulung Sejahtera mengatakan mendukung semangat dan tekad Yudi dalam membesarkan dan memperjuangkan masa depan anak-anaknya. Meskipun hidup dalam kesusahan, Yudi tidak menyerah. Ia bekerja keras untuk anak dan istrinya. “Karena itu, saya minta Kadisdukcapil Deli Serdang, tolong kalian terbitkan segera KTP Pak Yudi ini. Kalian harus mendukung masyarakat marjinal macam Yudi ini, yang tidak menyusahkan kalian, tapi berjuang hidup sekuat tenaga,” tegas Uba.

Aktivis Kaum Marjinal itu juga mengatakan, sejatinya negara hadir membela Yudi. Negara harusnya hadir menolong kehidupan Yudi. Negara Harusnya membantu Yudi keluar dari masalahnya. Sebagaimana Nawacita Presiden Jokowi, Negara hadir menjawab persoalan masyarakat.

“Lantas mengapa pemerintah abai pada kehidupan Yudi, kuli bangunan ini? Ia tidak minta macam-macam. Permintaannya sederhana saja. Agar diterbitkan KTP-nya. Mengapa itu pun sulit sekali? Dimana Nawacita itu kalian berondokkan?” gugat lelaki yang gigih membela kaum marjinal itu. (Redaksi)

Tentang Admin

Redaksi

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan