Home > Kolom > Perang Kampanye

“Jenderal, mengapa kita dulu sering kalah melawan Belanda?”, ceteluk Kopral Jono.

“Bah, tumben kau nanya itu Jono?”, jawab Jenderal Nagabonar. “Tapi baiklah. Pasang kuping kau baik-baik ya.”

“Dulu itu kaum republik gampang dipecah-belah. Belanda melakukan strategi pecah belah dengan membuat para prajurit kita terpisah-pisah. Itu cara mereka. Ya manalah kita kuat melawan kalok pasukan kita kecil-kecil tetapi melawan persenjataan modern Belanda,” jelas Nagabonar.

“Oh… pantaslah,” sambut Jono, “jangan-jangan itu yang terjadi di Sumut ya Jenderal?”

“Hahahahaaaa…. itulah strategi ala Belanda. Disorongnya lawan lain untuk memecah suara. Dipanas-panasinnya supaya satu pasangan menyerang pasangan lain. Akhirnya yang untung si Belanda itu. Mateklah,” kata Nagabonar.

“Jadi Jono, bilang sama saudara-saudaramu di Sumut itu. Lawan kalian itu hanya satu: yaitu mereka yang ingin menjadikan Sumut sebagai bumi bagi kaum yang ingin agama mengatur politik. Agama mau dijadikan alat politik. Mereka yang menggunakan rumah ibadah hanyalah mereka yang tak punya akal sehat berkompetisi. Ingatkan saudara-saudaramu di Sumut bahwa bahaya kalok agama hanya dipake jadi alat. Kalau mereka nanti kenak bencana, bukannya ditolong, tapi disuruh berdoa. Kalau ada gempa, mereka juga diminta berdoa terus, bukan kabur. Hahahahaaa konyol kaaan… itulah kalau memilih pemimpin cumak melihat agama. Jono, pastikan perintahku ini: ini memilih pemimpin Sumut, bukan memilih pemimpin agama,” jelas Nagabonar.

Penulis: Nagabonar 

You may also like
Salah Urus
Jangan Karena SARA, Ketua
Te Es
Semarga
Duit
Orang Sumut Jangan Bodoh

Leave a Reply