Home > Kolom > Salah Urus

Malam itu, Kopral Jono dan Jenderal Nagabonar sedang duduk berdua.

Jenderal Nagabonar mulai bicara, “Jono, Sumut itu harusnya jauh lebih maju dari keadaan sekarang.”

Jono menyahut, “Jadi kenapa bisa begini?”

“Salah urus”, kata Nagabonar. Ia berdiri, “salah urus, kataku!”

“Bertahun-tahun lamanya, bahkan sejak 10 tahun terakhir, Provinsi ini salah satu yang pemimpinnya tak serius membenahi daerahnya. Semua dijadikan uang. Sikit-sikit uang. Sikit-sikit uang. Semua proyek dibagi-bagi sama kawan-kawannya,” jelas Nagabonar.

Jono mengangguk-angguk.

“Alhasil, Provinsi ini kini dibawah mata KPK. Tau kau Jono, KPK menjadikan Sumut ini sebagai wilayah pengawasannya. KPK tau benar kalau pejabat di Sumut ini mentalnya duit, duit dan duit”, terang Nagabonar.

Nagabonar kembali memandang,

“Andai masyarakat Sumut salah pilih, maka pemimpin yang salah urus hanya akan meneruskan kondisi buruk ini. Sumut akan kek gitu-gitu saja. Pemimpin datang dan pergi, kelakuan gitu-gitu aja, yang menderita masyarakat Sumut sendiri. Andai masyarakat Sumut benar-benar pakai logika, pakai mikir dan tak hanya soal agama, suku dan sentimen, maka pilihan mereka pasti tidak akan salah. Salah pilih, salah urusnya lima tahun.”

Jono merenung. Ia tahu kebenaran logika Jenderalnya. Tapi ia tahu jika pemilih kadang tak pakai logika itu. (*)

You may also like
Jangan Karena SARA, Ketua
Perang Kampanye
Te Es
Semarga
Duit
Orang Sumut Jangan Bodoh

Leave a Reply