Sontak tiba-tiba kita menyaksikan sosok yang menangis karena kecewa pencalonannya dibatalkan penyelenggara pemilu. Di televisi wajahnya menangis, bahunya berguncang. Ia kecewa. Impiannya amblas.

Kita prihatin.
Sebagai manusia wajarlah kita kecewa kalau dikecewakan.

Tetapi mari sejenak kita lihat air mata lain: air matanya masyarakat kecil.

Air mata dari masyarakat yang kecewa atas ketidakberesan pembangunan, air mata dari masyarakat yang mengalami ketidakadilan, air mata dari masyarakat yang mengalami penindasan karena kebijakan salah sasaran pemimpinnya. Mereka menangis hampir setiap hari dan itu adalah air mata. Mereka yang seharusnya menjadi subjek pembangunan malah tertinggal.

Masyarakat menangis jalannya rusak tak pernah diperbaiki. Apa pemimpin pernah menangis untuk mereka?
Masyarakat menangis karena karirnya dihambat bahkan dimintai uang oleh oknum pemerintah, kemana tangisan pemimpin?
Masyarakat sekolahnya rusak, gurunya kurang, apa pemimpin pernah mengeluarkan air mata?

Masyarakat tak bisa melawan. Mereka tak punya kuasa, tidak punya uang, bahkan tidak punya apapun selain air mata. Mereka tak bisa menyewa pengacara memperjuangkan haknya. Mereka tak bisa membeli TV supaya perhatian mengalir kepada mereka. Mereka tak punya koneksi supaya politik berpihak pada mereka.

Masyarakat hanya punya air mata.

Mereka hanya bisa menangis karena pemimpin tak memenuhi janjinya.
Padahal dulu ia dipilih karena janjinya manis.
Jalan akan dibagusin, begitu janjinya.
Sekolah akan dibangun, begitu janjinya.
Pelayanan akan diperbaiki, begitu janjinya.
Tak ada pungli, tak ada pekerjaan terlambat. Itu semua hanya katanya waktu itu.

Setelah pemimpin berkuasa, masyarakat malah menangis. Masyarakat hanya bisa menangis karena kuasa telah mereka serahkan kepada dia yang berjanji sementara masyarakat tak punya kuasa menagih janji kekuasaan.

Air mata pemimpin, air mata masyarakat

Pemimpin menangis karena kehilangan kekuasaan.
Masyarakat menangis karena tak punya kekuasaan.

Penulis Nagabonar

Tentang Admin

Redaksi

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan