Home > Olah Raga > Profesionalisasi Guru Pendidikan Jasmani

Profesionalisasi Guru Pendidikan Jasmani

Oleh Ilona Pratiwi Hutabarat*

PENDIDIKAN merupakan salah satu instrumen utama pengembang sumber daya manusia (SDM), maka tenaga kependidikan memiliki tanggung jawab untuk mengemban tugas mengembangkan SDM. Oleh karena itu siapa saja yang mengemban tugas profesi tenaga kependidikan harus secara kontinyu menjalani profesionalisasi, baik secara formal maupun informal.

Di Indonesia sudah dibentuk Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) di setiap provinsi, yang bertugas secara umum bagaimana meningkatkan tenaga kependidikan menjadi bermutu dan profesional.

Menurut R.D. Lansbury dalam Profesionals and Management (1978) (Sudarman Danim, 2002), dalam konteks profesionalisasi, istilah profesionalisasi dapat dijelaskan dengan tiga pendekatan, yaitu pendekatan karakteristik, pendekatan institusional, dan pendekatan legalistik.

Untuk mengetahui seseorang guru penjas itu profesional atau tidak, dapat diketahui dari dua perspektif. Pertama, dilihat dari latar belakang pendidikannya, guru tersebut lulusan dari program studi pendidikan jasmani atau bukan, jika bukan lulusan dari program studi pendidikan jasmani jelas tidak profesional.

Jika lulusan dari program studi pendidikan jasmani, dari jenjang DII ; DIII ; atau S1/DIV, jika guru tersebut lulusan DII sesuai dengan PP Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, maka termasuk para-profesional. Jika guru tersebut lulusan dari DIII berarti termasuk semi profesional, dan jika guru tersebut lulusan dari DIV/S1 berarti termasuk profesional, baik itu untuk SD/MI ; SMP/MTs ; maupun SMA/MA/SMK.

Kedua, penguasan guru terhadap materi ajar, merencanakan pembelajaran, mengelola proses, mengelola siswa, melakukan tugas-tugas bimbingan, menilai, dan lain-lain lebih lengkap sesuai yang ada pada Standar Kompetensi Guru Pemula (SKGP). Dalam hal ini berarti guru pendidikan jasmani harus memiliki standar kompetensi minimal yang baik sesuai SKGP yang ada.

Untuk menjadi guru pendidikan jasmani yang profesional, harus memenuhi persyaratan tertentu antara lain harus memiliki kompetensi pokok yaitu: kompetensi kepribadian; kompetensi pedagogik; kompetensi keprofesionalan; dan kompetensi sosial.

Guru pendidikan jasmani yang dinyatakan profesional dan akan mendapatkan sertifikat profesi adalah yang memenuhi syarat yaitu: memiliki ijazah S1 atau D4; mengikuti pendidikan profesi yang dinyatakan lulus; memiliki standar kompetensi yang dinyatakan dalam SKGP.

Guru adaIah profesi yang mulia, karena setiap orang menjadi pandai adalah karena guru, orang bisa jadi presiden juga karena guru, para pemimpin besar. para pengusaha besar juga tidak akan dapat melupakan jasa guru. Tapi adilkah?

Jika pada saat prestasi beIajar siswa rendah, kontan guru yang dipersalahkan! Ironisnya kegagalan pendidikan pada skala makro juga dibebankan kepada guru. Bijakkah? menyalahkan guru sebagai penyebab kegagalan pendidikan?

Untuk memahami permasalahan pengajaran dan pendidikan diperlukan pemahaman yang mendalam baik dari segi kerangka makro maupun kerangka mikro dari pengajaran tersebut. Keberadaan guru dalam kehidupan setiap orang dalam mengenal dunia sangat diperlukan termasuk guru pendidikan jasmani untuk mengenal dunia olahraga baik olahraga masyakat, olahraga rekreasi maupun olahraga prestasi sangat diperlukan.

Karena itu, tanpa guru pendidikan jasmani yang professional, tidak akan muncul olahragawan-olahragawan yang handal, yang bermoral tinggi baik dilihat dari segi sportifitas, jujur, bijaksana saling menghargai kemenangan dan menerima kekalahan, serta untuk membangun Bangsa dan Negara dimasa yang akan datang sesuai dengan tuntutan globalisasi.

Dan semua orang pasti mengakui jasa seorang guru, walaupun hanya di dalam hati. Tetapi mengapa, penghargaan terbadap guru berbeda dengan penghargaan terhadap profesi lain. Tugas utama guru pendidikan jasmani sebagai suatu propesi keolahragaan di Indonesia tidak lagi dalam hal mengajar dan melatih.

Banyak profesi –profesi baru yang memerlukan kemampuan profesi guru pendidikan jasmani diantaranya : (1) Olahraga Propesional. Seperti Intercollegiate atletic, karir di bidang organisasi olahraga professional adalah hal yang sangat populer di kalangan atlet.

Sebagai contoh adalah manajer umum, direktur promosi, direktur hubungan masyarakat.., direktur prasarana, pengurus tiket, sekertaris perjalanan, informasi olahraga dan pelatih. (2) Agen Olahraga. Pekerjaan seorang agen olahraga semakin meningkat baik secara perorangan atau kelompok.

Para praktisi pendidikan menyatakan, profesi guru pendidikan jasmani merupakan profesi mulia, sehingga para guru harus benar-benar bersedia untuk mengembangkan profesinya dalam rangka memenuhi kebutuhan minimal dalam tugasnya sebagai guru.

Perlunya para guru saling berkunjung ke sekolah untuk memperoleh tambahan pengalaman dalam hal pembelajaran pendidikan jasmani secara khusus, maupun tugas guru pendidikan jasmani secara umum. Para guru yang mengikuti kegiatan pengembangan profesi masih banyak yang tidak nampak perbedaannya, karena mereka kurang peduli dan kurang merasa butuh.

Hal ini dapat berakibat pada kinerja guru itu sendiri yaitu kurang profesionalnya kualitas guru tersebut. Guru yang aktif dan kreatif akan lebih berhasil dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran dan pendidikannya. (*)

 

 

*Penulis adalah Mahasiswa S3 Prodi Penjas PPS UNJ

Leave a Reply