Menurut Guru Besar Universitas Sumatera Utara (USU) ini, guru tidak boleh melacurkan diri pada hal-hal yang tidak baik. Karena sebagai guru harus bisa digugu dan ditiru. “Guru harus mengingat hidupnya adalah pelayan,” Sambungnya.

Pelayan yang dia maksud ialah guru yang mendidik dengan rendah hati yang melayani bangsa dengan pencerdasan masyarakat. Profesi keguruan ini disebut oleh Albiner sebagai ibadah, seni dan kehormatan. “Guru mesti menyadari profesinya sebagai panggilan, bukan sekedar pekerjaan yang menghasilkan uang. Materi dan hal-hal lain sebagai penunjang hidup guru,” lanjutnya.

Selain sebagai pelayan, guru harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Mengikuti perkembangan teknologi.

Hal ini disampaikan Abdul Latief Rusdi M.Pd sebagai pemateri kedua. “Guru mengubah diri pada zaman. Kalau dulu guru tidak bisa membuat video, menulis skrip video, mengedit dan sebagai aktornya, nah inilah saatnya guru harus mampu,” Ucap Latief, Penulis buku Guru Olahraga di Era 4.0.

Kemajuan teknologi kata Guru Olahraga Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 39 Medan ini, sebagai wadah guru untuk berkreasi dalam merancang pembelajaran dengan baik.

“Sudah saatnya guru berkolaborasi untuk membuat aplikasi pembelajaran. Selama ini kita sebagai objek teknologi, sekarang saatnya guru sebagai pemain teknologi,” katanya.

Untuk mencapai guru di atas garis, seorang guru harus mampu merespon setiap keadaan dalam situasi apa pun. Guru mestinya proaktif dalam visi dan misi.

Mardi Panjaitan M.Si sebagai pembicara ketiga dalam sesinya mengatakan guru harus visioner terhadap lingkungannya.”Guru yang memiliki visi ialah guru yang peduli terhadap dirinya dan lingkungan,” ujar Mardi.

Guru yang peduli terhadap diri sendiri papar Mardi adalah guru yang mau belajar untuk mengisi diri sendiri. “Guru yang sudah terisi akan memberi ilmunya kepada orang lain, itulah bentuk kepedulian terhadap sesama,” papar Guru Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pembina Sumatera Utara (Sumut)

Seorang Guru yang visioner lanjut Mardi, mempunyai komitmen yang kuat untuk melakukan setiap perencanaan yang telah disusun. Visi diwujudkan dalam bentuk aksi nyata. “Guru harus keluar dari zona aman. Kita mengajar di desa-desa pun memiliki kesempatan yang sama untuk memunculkan calon-calon pemimpin bangsa. Harus optimis,” lanjut penulis buku Guru Olahraga di Atas Garis itu.

Webinar ini dimoderatori SABAM Sopian Silaban MM, dan diikuti guru-guru yang berasal dari berbagai daerah Indonesia. (LS)

Tentang Admin

Redaksi

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan